
...༻◊༺...
"Kau ada di London bukan?" tanya Arga dari seberang telepon.
Mendengar pertanyaan itu, Laras hanya diam. Dia memilih memutuskan sambungan telepon lebih dulu. Namun sebelum mematikannya Laras berucap, "Jangan menghubungiku lagi, Ga. Nomor ini tidak akan aktif lagi."
"Tapi--" perkataan Arga terpotong karena Laras langsung mengakhiri panggilan. Dia mendengus kasar setelah melakukan itu.
Jujur saja, dari lubuk hati terdalam, Laras sangat merindukan Arga. Akan tetapi dia mengira lelaki itu tidak bercerai dengan Agni. Laras benar-benar tak mau mengganggu kehidupan rumah tangga Arga yang katanya kembali di bangun.
"Tidak apa. Yang penting aku punya kau sekarang." Laras berbicara pada janinnya. Perut perempuan itu sudah membesar.
Meski sedang hamil, Laras tetap bekerja. Dia bekerja di sebuah toko kue. Di sana Laras tidak hanya bekerja sebagai pelayan, namun juga terkadang ikut membuat kue. Pemilik toko kue itu sangat kagum dengan keahlian Laras dalam membuat kue. Laras bahkan diperbolehkan membuat kue berdasarkan resep dan dekorasinya sendiri.
Laras sangat menikmati kehidupannya sekarang. Setiap hari dia juga tidak lupa mempelajari bahasa Prancis.
Sementara itu, Arga berusaha menghubungi Laras kembali dengan nomor sebelumnya. Benar saja, nomor tersebut sudah tidak aktif lagi. Laras ternyata bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Lupakan! Aku lebih baik fokus dengan anakku," gumam Arga. Bertepatan dengan itu, ponsel Arga berdering. Dia langsung memeriksa dan menemukan Agni yang menelepon.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Kau dimana? Apa kau bersama wanita itu?" selidik Agni.
Dari pertanyaan Agni, Arga bisa menduga kalau istrinya membicarakan tentang Laras. Arga yakin, Hery pasti memberi kabar mengenai pencariannya kepada Agni.
__ADS_1
"Pasti Hery yang memberitahukannya padamu," tukas Arga.
"Kau membuatku semakin jijik!" timpal Agni. "Andai bukan karena anak dalam perut ini, aku pasti sudah menceraikanmu!" tambahnya.
Arga tercengang mendengar perkataan Agni. "Kau lebih menjijikan dariku! Dasar ibu tidak bertanggung jawab!" balasnya.
"Argh!" Agni menggeram dan mengakhiri panggilan telepon begitu saja. Perkataan Arga berhasil menohoknya.
Arga segera pulang ke rumah. Sambil menemani Rasya, dia memikirkan banyak hal. Terutama mengenai anak yang di inginkan Senopati darinya. Apakah Rasya atau anak dalam perut Agni?
Saat tenggelam dengan pikirannya sendiri, Arga mendapat panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Dengan perasaan ragu, Arga jawab panggilan itu.
"Apa kau suaminya Nona Agni?" tanya suara lelaki dari seberang telepon.
"Ya. Aku suaminya. Ada apa?" Arga sontak penasaran.
"Apa?! Katakan dimana dia sekarang?!" Arga bergegas ingin pergi. Dia menemui Agni yang katanya berada di rumah sakit.
"Papa mau kemana?!" Rasya yang melihat kepergian Arga, lantas mengikuti.
"Papa mau pergi sebentar. Kau di rumah saja ya," tanggap Arga sembari berjongkok dan memegangi pundak Rasya.
"Enggak! Aku mau ikut, Pa. Aku takut..." ungkap Rasya.
"Takut? Kau takut dengan apa?" Arga mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini aku sering melihat hal aneh, Pa. Dan aku rasa aku diganggu hantu." Rasya bercerita sambil memeluk tubuhnya sendiri. Raut wajahnya merengek. Dari sana Arga tahu kalau Rasya tidak berbohong.
"Ya sudah. Kau ikut Papa!" Arga akhirnya membawa Rasya ikut.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Arga terus berpikir mengenai keanehan yang dialami Rasya. Entah kenapa dia merasa kalau gangguan yang di alami Rasya adalah ulah Senopati.
'Aku harus membawa anakku pergi dari sini secepatnya. Kalau perlu, aku akan bujuk Agni untuk ikut,' batin Arga bertekad. Ia melajukan mobilnya.
Tanpa diduga, ada orang misterius yang tiba-tiba menyeberang. Arga reflek menghindar. Itu membuatnya nyaris bertabrakan dengan sebuah mobil sedan.
"Aaakkhh!!" Rasya berteriak nyaring sambil menutup mata.
Untungnya Arga bisa menginjak rem di waktu yang tepat. Sehingga tidak ada kecelakaan yang terjadi.
"Rasya!" buru-buru Arga memeluk putranya. Mereka nyaris saja kehilangan nyawa karena kejadian tadi.
Sebagai orang yang bertanggung jawab, Arga mengurus insiden tadi dengan orang sekitar. Dia menyebutkan kalau ada seseorang yang tiba-tiba menyeberang. Anehnya semua orang bingung dengan pernyataan Arga. Mengingat jalanan yang dilewati Arga sekarang adalah lokasi minim pejalan kaki.
Arga berusaha membuktikan dengan mencari orang yang tadi menyeberang. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Tetapi dirinya tidak bisa menemukan orang tersebut.
Dengan terjadinya kecelakaan itu, Arga merasa semakin terancam. Dia merasa Senopati berusaha merenggut nyawa Rasya.
Arga bergegas pergi ke rumah sakit. Dia tidak bisa berlama-lama lagi.
Sesampainya di rumah sakit, Arga mendapat kabar yang menyedihkan. Bagaimana tidak? Janin dalam kandungan Agni dinyatakan meninggal. Agni bahkan harus melakukan prosedur pembersihan rahim.
__ADS_1
Kaki Arga runtuh ke lantai. Dia menangisi kepergian anak keduanya.
"Kenapa? Kenapa ini terjadi padamu, Nak? Kau bahkan belum sempat melihat dunia..." isak Arga.