Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 26 - Menemukan Tempat Ternyaman


__ADS_3

...༻◊༺...


Arga segera beranjak dari kamar. Dia ingin mengangkat panggilan Laras.


Agni terdiam menyaksikan kepergian Arga. Meskipun begitu, kekesalan terlihat di wajahnya.


"Ya, pergi saja sana!" ujar Agni seraya mendengus kasar. Tepat ketika Arga sudah keluar dari kamar.


Sementara itu, Arga memilih balkon sebagai tempat bicaranya dengan Laras. Di sana dia langsung menjawab panggilan perempuan tersebut. Arga juga tak lupa melepas topeng monyet dari wajahnya.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Ga..." panggil Laras sambil menangis. Arga dapat mendengar jelas suara tangisannya.


"Laras! Kau kenapa menangis? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi?" cecar Arga.


"Aku sedang di klinikmu sekarang..." ungkap Laras. Tak langsung menjawab pertanyaan Arga.


"Aku akan ke sana sekarang!" Arga yang mengerti mematikan telepon. Dia bergegas ingin menemui Laras.


Arga tidak jadi berganti pakaian. Ia mengambil kunci mobil dan langsung pergi.


"Papa! Kau mau kemana? Aku mau ikut!" tegur Rasya saat melihat Arga tergesa-gesa menuju pintu keluar.


"Rasya, Papa ada urusan penting. Kau main sama Bi Maya atau Mama dulu ya," kata Arga seraya memegangi pundak Rasya. Kemudian segera beranjak.


Rasya tampak kecewa. Namun dia tak bisa berbuat apapun dengan kesibukan sang ayah.


Arga yang fokus mengemudi hanya terpikirkan tentang Laras. Mobilnya menembus rintik hujan. Ia cemas sekali saat mendengar perempuan itu menangis.

__ADS_1


Sesampainya di klinik, Arga melihat Laras duduk di ruang tunggu sendirian. Suasana sepi karena klinik sedang libur hari minggu.


Menyaksikan kedatangan Arga, Laras langsung berdiri. Dia basah kuyup akibat kena guyuran air hujan.


"Laras!" seru Arga sembari mendekat.


Dengan cepat Laras memeluk Arga. Hal itu membuat Arga terkesiap. Walaupun begitu, dia membalas pelukan Laras. Membiarkan perempuan tersebut menangis dalam dekapannya.


Arga hanya diam. Dia merasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengajak Laras bicara.


Puas terisak, Laras perlahan melepas pelukan. Dia menghapus air mata yang membasahi wajah.


"Kau basah kuyup. Apa yang terjadi padamu?" tanya Arga.


"Semuanya benar-benar rumit, Ga... Aku sepertinya tidak bisa pulang ke rumah sekarang..." Laras tak kuasa menahan tangis. Apalagi saat mengingat pengkhianatan Hery.


"Bagaimana kalau kita ke hotel? Kebetulan aku juga sedang tidak ingin pulang ke rumah." Arga mengusulkan.


"Suamiku selingkuh," ungkap Laras sembari menatap kosong ke luar jendela mobil.


Pupil mata Arga membesar. Dia tentu kaget mendengar pernyataan Laras itu. "Benarkah? Bagaimana bisa? Itu sangat sulit dipercaya," tanggapnya.


"Sebenarnya tak begitu sulit dipercaya. Mengingat aku tidak bisa memberikannya anak selama tujuh tahun menikah," kata Laras.


"Tapi kau hamil sekarang!" balas Arga. Dia jelas berada di pihak Laras. Dirinya sedikit naik pitam terhadap apa yang dilakukan Hery.


"Iya aku hamil... Tapi sudah terlambat. Andai aku hamil sejak awal, Mas Hery tidak mungkin begitu..." Laras memecahkan tangis. Sakit hati yang dirasakannya begitu sulit untuk ditahan.


Arga terdiam seribu bahasa. Dia akan lanjut bicara ketika sudah tiba di hotel nanti.

__ADS_1


Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk tiba di hotel. Arga dan Laras melakukan check in terlebih dahulu, kemudian langsung pergi ke kamar.


Saat di kamar, Arga membiarkan Laras duduk ke sofa. Ia juga tak lupa memesan minuman hangat. Arga bahkan mengambilkan handuk dan selimut untuk menghangatkan badan Laras.


"Andai sejak dulu aku pergi ke Mbah Seno... Semuanya tidak akan hancur begini..." Laras kembali merengek. Ia condong menyalahkan semuanya kepada dirinya sendiri.


Laras duduk ke samping Laras. Dia memegangi tangan kurus perempuan tersebut. "Kenapa kau terkesan seperti menyalahkan dirimu sendiri? Menurutku suamimu yang patut disalahkan. Dia egois dan tak mensyukuri apa yang dirinya miliki," tuturnya.


Laras mengusap wajah. Kepalanya yang tadi tertunduk, perlahan mendongak untuk menatap Arga.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Rasanya aku sekarang semakin tidak bisa melihat wajahnya lagi," ungkap Laras pilu.


"Pilihan ada di tanganmu," sahut Arga. Dia dan Laras saling menatap lekat.


"Apa yang harus aku lakukan dengan anak ini?" Laras menatap ke perut sejenak, lalu kembali memandang Arga.


"Kau sebaiknya tenang dahulu. Lihatlah dirimu! Kau basah kuyup begini. Aku sarankan kau mandi agar tidak jatuh sakit," ujar Arga. Dia mengaitkan helaian rambut basah Laras ke daun telinga. Keduanya kembali saling menatap lekat.


Laras tersenyum tipis. Sungguh, kehadiran Arga membuatnya merasa lebih tenang.


"Apa kau mau menemaniku?" tanya Laras.


"Menemanimu?" Arga tak mengerti. Keningnya mengernyit.


"Menemaniku membersihkan diri," imbuh Laras.


Kini Arga yang tersenyum tipis. Dia berucap, "Baiklah..."


Arga dan Laras pergi ke kamar mandi. Mereka melepas seluruh pakaian dan berdiri di bawah shower bersama.

__ADS_1


Tanpa satu helai benang pun, Laras mendekap Arga dan memejamkan mata. Entah kenapa dirinya seperti menemukan tempat ternyaman di dunia.


__ADS_2