Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 74 - Menghilangnya Rasya


__ADS_3

...༻◊༺...


Ketika pagi tiba, Agni terbangun. Dia kaget sekali menyaksikan keadaannya yang tanpa busana. Belum lagi keberadaan Hery yang tampak bugil sepertinya.


"Sial! Sial! Apa yang sudah kulakukan!" keluh Agni sambil mencengkeram rambutnya yang acak-acakan. Dia menyesal sekaligus panik dengan apa yang sudah dilakukannya bersama Hery tadi malam. Walau mabuk, Agni masih bisa mengingat semua yang telah dilakukannya bersama Hery.


Buru-buru Agni mengenakan pakaian. Selanjutnya, barulah dia teringat dengan Rasya. Mata Agni segera tertuju ke arah ranjang yang jaraknya hanya beberapa langkah dari sofa.


"Rasya?" panggil Agni sembari bergegas memeriksa ranjang. Dia menyingkap selimut yang ada di sana. Agni merasa semakin panik. Ia takut Rasya melihat apa yang sudah dirinya lakukan bersama Hery tadi malam.


Agni pun mencoba berpikir positif. Dia memeriksa kamar mandi karena mungkin saja Rasya ada di sana.


Nihil, Rasya tetap tidak ditemukan. Bahkan ketika Agni menelusuri sudut ruangan lain di kamar.


Sebelum menyimpulkan yang tidak-tidak, Agni memutuskan mencari Rasya di sekitar hotel. Dia tidak lupa membangunkan Hery untuk membantunya.


"Her! Cepat bangun!" ujar Agni sembari mengguncang tubuh Hery.


"Ugh..." Hery lantas terbangun. Dia membulatkan mata saat melihat tubuhnya telanjang.


"Cepat pakai bajumu! Rasya hilang! Bantu aku mencarinya!" perintah Agni sambil melemparkan pakaian Hery.


"Sial! Apa tadi malam kita--"


"Tidak usah dibahas! Itu tidak penting sekarang!" potong Agni yang terlihat dikejar waktu.


Kening Hery mengernyit heran. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Dirinya sangat ingat kalau tadi malam Rasya tidur di ranjang. Sekarang anak itu tak terlihat lagi. Hery jadi berpikir kalau apa yang dilakukannya dan Agni tadi malam ada kaitannya dengan menghilangnya Rasya.


"Tunggu! Anakmu tidak melihat kita--"

__ADS_1


"Cepat pakai bajumu, sialan! Semua ini salahmu!!" pangkas Agni sambil menghentakkan sebelah kakinya dengan kesal.


"Enak saja salahku! Jelas-jelas kau yang menggodaku!" balas Hery seraya menggertakkan gigi. Dia segera mengenakan pakaian.


"Kau mau membantuku atau tidak? Aku ingin memeriksa hotel ini untuk mencari Rasya!"


"Apa kau tidak lihat? Aku sedang mengenakan pakaian sekarang!"


Setelah melakukan perdebatan kecil, Agni dan Hery mencari Rasya di hotel. Keduanya juga tak lupa meminta bantuan petugas di sana. Area di sekitaran hotel juga tak luput menjadi tempat pencarian mereka.


Sayangnya Rasya tetap tidak ditemukan. Hal itu membuat Agni frustasi. Ia berderai air mata. Dia mengambil ponsel dan menelepon Arga. Sebab hanya nama lelaki itu yang bisa dirinya ingat jika berkaitan dengan Rasya. Arga jelas lebih mengenal Rasya dibanding Agni sendiri.


Untungnya Arga langsung mengangkat panggilan Agni. Sepertinya Rasya adalah satu-satunya alasan lelaki itu tidak mengabaikan telepon Agni.


"Ga! Rasya... Ga... Rasya!" ucap Agni sambil terisak.


"Kau kenapa menangis? Apa yang terjadi pada Rasya?" tanggap Arga dari seberang telepon.


"Apa?! Bagaimana bisa?" Arga menuntut jawaban.


Agni tidak langsung menjawab. Dia justru tenggelam dalam tangisnya.


"Kau tenangkan diri dahulu. Beritahu aku dimana kau sekarang berada? Aku akan ke sana," kata Arga.


Agni mengangguk dan memberitahu lokasi dimana dirinya berada. Pembicaraan mereka berakhir di situ.


...***...


Arga yang baru mendapatkan kabar dari Agni, segera pergi meninggalkan apartemen Laras. Dia juga tak lupa memberitahu perempuan itu mengenai apa yang terjadi.

__ADS_1


"Aku harap kalian menemukan Rasya. Kalau perlu bantuanku, beritahu saja ya," ucap Laras.


"Tentu saja. Aku akan segera menghubungimu," sahut Arga. Dia menyempatkan diri mengecup singkat kening Laras. Setelah itu, Arga beranjak pergi.


Laras melepas kepergian Arga dengan perasaan cemas. Meski bukan anaknya, dia tetap mengkhawatirkan Rasya. Laras berharap anak itu bisa secepatnya ditemukan.


Sementara itu, Arga langsung mendatangi hotel dimana Agni berada. Dia terkejut ketika melihat Hery juga ada di sana.


Saat saling berjumpa, Hery dan Arga sama-sama mengerutkan dahi. Keduanya jelas tidak menyukai kehadiran satu sama lain.


"Kenapa kau memanggilnya ke sini?" protes Hery pada Agni.


"Agni! Kenapa dia bersamamu?" Arga juga melontarkan pertanyaan yang nyaris sama dengan Hery.


Agni masih menangis. Dia yang mencemaskan Rasya, merasa kalau pertanyaan Hery dan Arga tidak penting untuk dijawab.


"Kita harus temukan Rasya, Ga!" seru Agni sembari memegangi tangan Arga.


"Oke. Kita akan mencarinya. Tapi sebelum itu, beritahu aku kenapa Rasya bisa menghilang? Dia tidak diculik kan? Kalau kau merasa dia diculik, kita harus segera melaporkannya ke polisi!" ujar Arga.


"Aku tidak tahu. Pokoknya saat aku bangun dari tidur, dia sudah tidak ada," ungkap Agni yang masih menangis.


"Apa kalian sudah memeriksa CCTV?" tanya Arga.


Agni pun menggeleng. Tetapi tidak untuk Hery yang ternyata sudah memeriksa rekaman CCTV.


"Aku sudah memeriksanya tadi. Rasya keluar sendirian dari kamar. Rekaman terakhirnya dia pergi ke arah timur," ungkap Hery.


"Itu berarti dia pergi sendiri," simpul Arga. Dia menatap Agni dengan penuh curiga. Dirinya yakin kalau perempuan itu sudah melakukan sesuatu yang mengharuskan Rasya pergi.

__ADS_1


"Aku ingin melihatnya sendiri!" Arga segera mendatangi ruang keamanan. Dia ingin melihat dengan jelas kepergian Rasya. Mungkin dari sana dia bisa mengetahui sesuatu.


__ADS_2