
...༻◊༺...
Arga terkesiap menyaksikan Laras menangis. Dia lantas memeluk perempuan itu.
"Tenanglah... Janinmu nanti ikut cemas kalau kau begini," ujar Arga.
Laras membiarkan Arga mendekapnya. Dia meluruhkan tangis sepuas mungkin di sana.
Arga sengaja tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus mengelus pundak Laras. Dirinya sangat mengerti kalau yang dibutuhkan Laras sekarang adalah ketenangan.
Puas menangis, Laras melepas pelukan Arga. Dia mengusap wajahnya dan berhenti terisak.
"Kau sebaiknya pulang," saran Laras.
"Tapi kau--"
"Aku ingin sendiri. Lagi pula kau sudah menyiapkan persiapan ritual hari ini. Jadi biarkan aku yang membereskannya," potong Laras. Dia benar-benar tidak mau mengatakan masalahnya sekarang.
"Baiklah kalau begitu." Dengan perasaan ragu, Arga terpaksa menuruti saran Laras. Dia pergi meninggalkan kamar.
Saat itulah Laras kembali menangis. Jujur saja, dia sangat ingin mencurahkan segalanya pada Arga. Mengingat Arga lah satu-satunya lelaki yang dirinya percaya sekarang. Selain itu, Laras juga sadar bahwa dia sudah jatuh cinta pada Arga.
Akan tetapi Laras harus menahan perasaannya karena keadaan Arga yang telah memiliki istri dan anak.
Sementara di luar kamar, Arga sebenarnya tidak pulang. Dia yang mencemaskan Laras, menunggu di depan pintu. Dirinya takut sesuatu hal buruk menimpa perempuan tersebut.
Kala memikirkan Laras, Arga dihantui kegundahan. Sebab dia sadar kalau dirinya memiliki perasaan istimewa untuk perempuan itu. Namun Arga menahannya karena lebih memikirkan Agni dan Rasya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Laras keluar dari kamar. Arga bergegas bersembunyi. Lelaki tersebut merasa lega menyaksikan Laras tidak apa-apa. Hanya saja, wajahnya tampak sembab sekali.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padamu, Laras?" gumam Arga. Dia segera pulang setelah melihat Laras menghilang ditelan pintu lift.
Setibanya di rumah, Arga melihat Agni tertidur pulas di ranjang. Bertepatan dengan itu, ponsel Agni bergetar. Memberitahukan sebuah notifikas terbaru.
Arga awalnya tak memperdulikan. Tetapi dia tak sengaja melihat layar ponsel Agni saat melepas pakaian. Pesan yang tertera di ponsel Agni menarik perhatian Arga.
Alhasil Arga memeriksa ponsel Agni. Dia menemukan ada pemberitahuan tentang pembelian sebuah unit apartemen yang dibeli Agni.
"Kenapa dia membeli apartemen?" Arga mengerutkan dahi. Dia jadi curiga. Apalagi saat memeriksa harga apartemen yang dibeli Agni bukan main-main.
"Harganya mahal lagi," keluh Arga. Matanya melirik tajam Agni yang masih terlelap.
Karena penasaran, Arga menyimpan alamat apartemen yang dibeli Agni. Dia akan mencari tahu secara diam-diam.
Sebagai orang yang telah mengenal lama Agni, dia tahu betul kalau perempuan tersebut sangat pintar mengatur uang. Agni bahkan jarang membeli barang bermerek demi menyisihkan uang yang banyak di tabungan.
Arga terlihat sudah rapi dengan kemeja dan celana hitam. Sedangkan Agni baru selesai mandi. Perempuan itu sibuk mengoles wajahnya dengan make up.
"Aku heran dengan wanita. Berapa macam krim yang harus di oleskan di wajah?" tanya Arga seraya memperhatikan Agni.
"Diamlah! Aku masih cantik begini karena krim itu tahu nggak," balas Agni.
Arga lantas terkekeh. "Aku duluan ke meja makan!" imbuhnya. Dia memang terbiasa menyiapkan sarapan dibanding Agni.
"Oke. Sebentar lagi aku akan menyusul," sahut Agni. Setelah selesai dengan make up, dia mengenakan pakaian.
Tanpa sengaja, atensi Agni tertuju ke arah kemeja Arga yang ada di keranjang. Kebetulan kemeja itu adalah pakaian yang dikenakan Arga tadi malam saat menemui Laras.
Agni mengambil kemeja Arga untuk memperhatikan dengan seksama. Dia melihat ada bekas lipstik di bagian bahu kemeja Arga.
__ADS_1
Deg!
Jantung Agni rasanya mau copot. Karena dia yakin kalau noda di kemeja Arga itu adalah lipstik. Parahnya Agni mengenali warna lipstik tersebut.
Buru-buru Agni mengambil lipstik pemberian Laras tempo hari, kemudian membandingkan warnanya. Benar saja, warna lipstiknya seratus persen sama.
"Mustahil lipstik ini dari bibirku. Karena kemarin aku dan Mas Arga tidak saling menyentuh. Setidaknya tidak sampai ke bahu." Agni mencetuskan deduksinya. Sampai dia teringat dengan rekaman video pengawas di klinik Arga tempo hari. Nama Laras langsung muncul dalam ingatannya.
"Wanita itu!" seru Agni sambil membulatkan mata. Konsentrasinya buyar tatkala ponsel mendadak berdering.
Agni menemukan Hery melakukan panggilan. Buru-buru Agni mengangkat panggilan tersebut.
"Pas sekali!" seru Agni.
"Agni! Aku butuh bantuanmu untuk--"
"Her, aku ingin menanyakan perihal istrimu!" Agni yang tidak sabar, memotong ucapan Hery.
"Istriku kenapa?" Hery lantas penasaran.
"Apa kau menemukan kalau akhir-akhir ini istrimu bersikap aneh?" tanya Agni serius.
Hery sempat terdiam. Hingga akhirnya dia teringat kebohongan yang dilakukan Laras akhir-akhir ini. Hery memberitahukannya pada Agni.
"Apa tadi malam istrimu pergi lagi?" selidik Agni.
"Aku tidak tahu. Aku sudah tidak tinggal serumah lagi dengannya. Kami akan bercerai! Itulah alasanku meneleponmu!"
"Apa? Cerai?!" Agni semakin curiga.
__ADS_1