Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 47 - Perang Laras & Hery


__ADS_3

...༻◊༺...


Saat dalam perjalanan pulang, Laras mendapat telepon dari Hery. Lelaki itu mengajaknya bertemu. Laras yakin, Fita pasti sudah memberitahu kedatangannya tadi pada Hery.


Laras setuju menemui Hery. Lagi pula dia sudah cukup siap untuk bicara dengan lelaki tersebut.


Mobil dihentikan Laras ketika sudah tiba di tempat tujuan. Dia dan Hery memang sepakat bertemu di cafe.


Hery terlihat sudah menunggu. Tatapannya langsung tertuju ke arah Laras yang kian mendekat. Perempuan itu segera duduk di depannya.


"Apa Fita sudah menceritakan semuanya?" imbuh Laras.


"Aku tidak menyangka kau bisa seperti ini. Kau membuatku tidak berminat lagi untuk mempertahankan rumah tangga kita," tanggap Hery.


Suasana begitu serius. Tidak ada tatapan mesra lagi di antara Hery dan Laras. Hanya ada kebencian yang mereka rasakan satu sama lain.


Laras tersenyum mendengar perkataan Hery. "Itu bagus. Maka sebaiknya kita urus perceraiannya secepat mungkin," balasnya.


"Tapi aku ingin memastikan apakah anak yang ada dalam perutmu itu anakku atau tidak," ucap Hery.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan menuntut nafkah banyak padamu. Itu yang kau cemaskan bukan?"


"Oke. Beritahu aku, berapa besar yang kau inginkan dariku? 50 juta? 40 juta?" Hery melipat kedua tangan ke depan dada.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Beri aku waktu untuk memikirkan," tanggap Laras.


"Jangan memanfaatkan kesalahanku untuk mendapatkan uang yang banyak! Kau pikir aku tidak tahu mengenai kedekatanmu dengan Arga? Kau tidak ada bedanya denganku. Aku malah merasa kau lebih buruk karena melakukan hubungan tanpa menikah!" Hery bicara dengan nada meremehkan. Dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya terhadap perselingkuhan Laras.


Mata Laras berkaca-kaca. Perkataan Hery itu begitu menohok bak pisau lancip yang menghujam hatinya. Rasa sakit hati Laras sulit dijelaskan dengan kata-kata.


"Aku harap kau bahagia." Laras linglung. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi, sehingga dirinya lebih memilih pergi.


"Kau sangat munafik, Laras! Kau bahkan tidak menyangkal kalau anak dalam perutmu bukan anakku!" kata Hery sambil berdiri. Dia bicara begitu dengan suara cukup lantang. Semua orang di sekitar mendengar dan menoleh kepadanya.


Dari semua orang itu, hanya Laras yang tak peduli. Ia terus melangkah dan meninggalkan cafe.


Setelah Laras pergi, Hery kembali duduk. Dia memijit kepalanya. Dari lubuk hati kecil Hery, dia sebenarnya masih mencintai Laras. Memberikan cibiran di saat kesal, memang adalah kebiasaannya karena tidak mau dianggap kalah.


Laras merasa tidak sanggup pulang ke rumah. Jadi dia memutuskan untuk menginap di tempat lain. Dari semua tempat, anehnya Laras ingin menyendiri di villa Arga. Mengingat tempat itu memiliki suasana asri dan menenangkan. Terutama dari hiruk pikuknya perkotaan.


...***...


'Ga, aku minta izin menginap di villamu selama beberapa hari. Kau menyimpan kunci villa di pot bonsai bukan?' Sebuah pesan dari Laras masuk. Arga adalah orang yang menerima pesan tersebut. Lelaki itu kini sedang ada di mobil. Ia menunggu Agni membeli ayam goreng kesukaan Rasya.


Arga segera menghubungi Laras. Dia merasa khawatir saat mengetahui perempuan itu pergi ke villa sendirian.


"Kau baik-baik saja?" tanya Arga, ketika panggilannya dijawab oleh Laras.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyendiri sekarang. Aku rasa villa milikmu adalah tempat yang tepat untuk melakukannya." Laras menjawab dari seberang telepon. "Beritahu aku dimana kau menyimpan kuncinya?"


"Kau sudah tahu dimana aku menyimpan kuncinya. Di pot tanaman bonsai." Untuk pertama kalinya, Arga tersenyum di hari itu. Dia tidak tahu kenapa, tetapi dia merasa tenang saat mendengar suara lembut Laras.


"Oke," sahut Laras singkat. Dia hampir mematikan telepon. Namun Arga buru-buru bersuara.


"Tunggu!" cegat Arga.


"Ya?"


"Bagaimana dengan pencarian buktimu? Apa kau akan bercerai?"


"Iya. Aku dan Hery akan bercerai. Aku berpikir untuk tidak menggunakan bukti yang kudapatkan. Karena kau tahu kalau aku juga salah," jelas Laras. "Lalu kau?" tanyanya.


"Aku sedang memikirkannya. Karena Agni ingin memberi kesempatan kedua pada rumah tangga kami." Arga memberitahu dengan perasaan gundah.


"Kalian punya anak, wajar kalau kau dan Agni begitu," tanggap Laras.


"Ya, itulah alasan satu-satunya aku mempertimbangkan kesempatan itu," ungkap Arga. Dia sebenarnya merasa tidak enak dengan Laras. "Apa kau benar akan baik-baik saja sendirian?" tanyanya memastikan kembali.


"Kau dengar suaraku kan? Aku baik-baik saja, Ga. Kau sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri. Sebelumnya terima kasih sudah mengizinkanku menginap di villa milikmu." Laras mengakhiri panggilan lebih dulu.


Setelah bicara dengan Laras, Arga memasang tatapan kosong. Entah kenapa ada perasaan yang mengganjal dihatinya. Rasa tidak tega merelakan Laras pergi. Arga jadi semakin kepikiran saat dirinya memikirkan kesempatan kedua dari Agni. Karena jika Arga menerima kesempatan itu, maka otomatis hubungannya dan Laras harus berakhir.

__ADS_1


__ADS_2