
...༻◊༺...
"Iya tiga hari. Tidak masalah kan? Kenapa kau terdengar kaget begitu?" tanya Hery yang masih menutupi wajah dengan buku.
"Ti-tidak, Mas. Bukan begitu. Tentu saja bukan masalah. Aku tahu betapa sibuknya kau," kata Laras. "Ya sudah. Aku mau ke kamar dulu," sambungnya seraya beranjak.
"Lain kali kau harus izin padaku sebelum pergi. Sebagai menantu, aku juga harus memeriksa keadaan mertuaku bukan? Jangan langsung pergi sendiri terus! Apalagi kau sedang hamil muda sekarang!" kali ini Hery terdengar bicara serius. Dia bicara seolah menegaskan posisinya sebagai kepala keluarga.
Langkah Laras sontak terhenti. Ia menoleh dan berucap dengan gundah, "Maafkan aku, Mas. Lain kali aku akan meminta izin sebelum pergi."
"Aku akan mengingat itu." Hery berbalik badan membelakangi Laras. Lalu duduk ke sebuah kursi. "Bilang pada Bi Iyem untuk membuatkanku kopi!" perintahnya.
"Kau tidak perlu menyuruh Bi Iyem. Aku bisa membuatkannya untukmu," sahut Laras.
"Bagaimana kau bisa melakukannya jika tidak ingin melihatku? Suruh saja Bi Iyem. Kau sebaiknya istirahat. Pasti melelahkan harus melakukan perjalanan seorang diri," tanggap Hery.
"Baiklah, Mas." Laras menurut dengan semburat sendu. Dia segera pergi ke kamar dan langsung membersihkan diri ke kamar mandi.
Pupil Laras membesar saat melihat ada beberapa tanda merah di tubuhnya. Tanda merah yang tidak lain ditinggalkan oleh Arga.
Cairan bening berjatuhan dari mata Laras. Ia menutupi wajah dengan dua tangan sambil menangis.
"Maafkan aku, Mas..." isak Laras yang lagi-lagi merasa bersalah. Apalagi setelah Hery tadi memberi teguran mengenai kepergiannya. Kecurigaan Laras mengenai topik tiga hari dilupakan untuk sejenak. Ia terlalu sibuk menangani perasaan bersalahnya yang lebih dominan.
Sekarang adalah hari minggu. Laras berniat ingin menghabiskan waktu bersama Hery. Namun dia sama sekali tak bisa memaksakan diri. Rasa mual itu selalu datang tatkala dirinya melihat Hery.
__ADS_1
"Jangan memaksakan dirimu, Sayang. Aku tidak tega melihatmu tersiksa dengan mual itu. Sebaiknya aku pergi saja. Kebetulan hari ini ada barang impor yang masuk perusahaan. Aku ingin menceknya," ujar Hery sembari beranjak meninggalkan Laras. Dia akan bersiap pergi dari rumah.
Laras hanya bisa mendengus kasar. Dia menatap kepergian Hery dari jendela.
Untuk menenangkan diri, akhirnya Laras memilih tidur. Meski itu sulit dilakukannya, setidaknya dia bisa lebih rileks.
Tiduran Laras hanya bisa dilakukan selama dua jam saja, karena rasa bosan cepat datang menghantui. Dia lantas ke dapur untuk menyibukkan diri membuat kue.
"Nyonya mau membuat kue lagi?" tanya Bi Iyem yang terlihat heran.
"Iya, Bi. Ini satu-satunya hal yang tidak membuatku bosan," jawab Laras.
"Tapi kue di lemari sudah penuh. Bahkan saat aku periksa kemarin, banyak kue yang sudah berjamur," ungkap Bi Iyem.
"Benarkah? Tapi aku--"
Dahi Laras berkerut. Walau rasa mual kembali saat melihat Hery, dia bergegas mengejar lelaki itu.
"Mas! Apa kau serius akan pergi dinas hari ini? Sekarang kan hari minggu?" timpal Laras yang memilih bicara di depan pintu.
"Kau sedang tak ingin melihatku sekarang. Jadi aku pikir lebih cepat semakin baik," sahut Hery. Dia memasukkan baju dengan asal ke dalam tas. Kemudian keluar dari kamar. Saat itulah posisinya saling berhadapan dengan Laras.
"Huek!" Laras langsung muntah.
"Aku ingin sekali membantumu sekarang, Sayang. Tapi jika aku melakukannya, kau akan semakin memburuk. Kepergianku ini justru akan membantu," ucap Hery sembari berlalu pergi.
__ADS_1
Laras masih berdiri di depan pintu. Karena tak mampu menahan, muntahannya jadi berjatuhan ke lantai.
'Baiklah! Aku akan bersamamu selama tiga hari penuh! Apa kau puas?' Kalimat yang diucapkan Hery saat menelepon terlintas dalam ingatan Laras.
"Bersamamu selama tiga hari?" gumam Laras. Kalimat itu sangat mencurigakan baginya.
Buru-buru Laras mengambil kunci mobil. Dia memutuskan untuk mengikuti Hery. Sebelum pergi, Laras juga tak lupa menyuruh Bi Iyem membersihkan muntahannya di depan pintu kamar.
Hery berkendara lebih dulu beberapa meter. Untung saja Laras masih belum kehilangannya. Sehingga perempuan tersebut masih bisa melakukan pengejaran.
Di sisi lain, Arga sudah pulang ke rumah. Dia menatap topeng yang diberikan Agni untuknya. Kebetulan Rasya yang membuatkannya berdasarkan suruhan Agni.
"Gambar apa yang ada di topeng ini?" tanya Arga meragu. Sebab dia yakin gambar di topeng mirip monyet.
"Monyet! Bagus kan? Aku yang menggambarnya, Pa!" jawab Rasya. Memastikan dugaan Arga.
"Kau yang menggambarnya?" Arga meringiskan wajah. "Apa Mama yang menyuruhmu menggambar topeng monyet ini untukku?"
"Iya! Katanya ini lebih baik dibanding melihat wajah Papa secara langsung!" ujar Rasya dengan polosnya.
"Wajah monyet dianggap lebih baik dari wajahku," gumam Arga mengeluh. Dia bergumam pelan agar Rasya tidak mendengar. Entah kenapa Arga merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan Agni tersebut. Namun mau bagaimana lagi? Memang sulit memahami wanita yang sedang hamil.
"Papa bilang apa?" tanya Rasya yang tidak mendengar jelas gumaman Arga.
"Tidak! Bukan apa-apa. Papa akan memakai topengnya," ucap Arga sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
__ADS_1
'Anehnya aku merindukan Laras sekarang,' batin Arga.