
...༻◊༺...
Waktu sudah sore. Agni baru pulang ke rumah. Dia langsung mencari suami dan anaknya. Namun dua insan yang dicarinya tidak ada di rumah.
Agni lantas menanyakan keberadaan Arga dan Rasya pada pembantu. Dia diberitahu kalau Arga dan Rasya belum pulang semenjak kepergian tadi pagi.
"Pak Doni!" seru Agni seraya mendatangi sopirnya. Dia bertanya pada lelaki paruh baya itu. Mengingat Doni memang ditugaskan rutin untuk mengantar dan menjemput Rasya ke sekolah.
"Tadi Tuan Arga menelepon kalau dia yang akan menjemput Rasya." Begitulah jawaban Doni saat mendapat pertanyaan Agni.
Kini Agni menghubungi Arga. Tetapi Arga tidak menjawab satu pun panggilannya.
"Jangan-jangan sekarang dia sedang bersama Laras. Wanita itu pasti memberitahu kalau aku menemuinya tadi," duga Agni. Dia langsung menelepon Hery. Keduanya berbagi cerita bersama atas hasil pertemuan tadi.
Di sisi lain, Arga dan Laras telah berpisah. Arga memilih membawa Rasya pergi ke rumah Sari. Selain Laras, orang yang paling dipercayainya sekarang adalah ibunya.
Kini Arga baru selesai mandi. Dia sudah mengenakan pakaian lengkap.
Dari balik pintu, Sari muncul. Sebagai ibu, dia sangat mengenal bagaimana Arga. Lelaki itu tidak akan pulang ke rumah jika sedang tak memiliki masalah.
"Apa sesuatu terjadi di antaramu dan Agni?" tanya Sari.
"Ibu..." Arga menatap Sari dengan nanar.
"Beritahu aku apa yang terjadi? Mungkin aku bisa memberikan solusi. Menjalani bahtera rumah tangga memang bukan sesuatu yang mudah dilalui," tutur Sari. Mencoba membujuk Arga.
__ADS_1
Tetapi putranya itu malah terisak. Rasa sakit yang sejak tadi ditahan, akhirnya bisa terlihat melalui tangisan.
"Arga..." Sari segera memeluk Arga dengan kasih sayang. "Kau bisa menangis sepuasnya saat bersamaku," tambahnya.
Arga sempat tenggelam dalam kesedihan. Setelah puas melakukannya, dia memberitahu niatnya.
"Aku sepertinya tidak bisa lagi mempertahankan rumah tanggaku, Bu..." ungkap Arga.
"Kenapa? Apa Agni melakukan hal buruk?" Sari sontak khawatir.
Arga tersenyum tipis. Meski Agni berbuat salah, dia juga sadar kalau dirinya juga melakukan hal sama. Jadi Arga memutuskan tidak akan mengatakan keburukan Agni pada sang ibu.
"Aku tidak bisa menceritakannya padamu. Yang jelas, sepertinya aku dan Agni tidak bisa bersama lagi," jelas Arga.
"Keputusanku sudah bulat, Bu. Maafkan aku..." kata Arga seraya menundukkan kepala secara perlahan.
"Aku tidak mengerti." Sari beranjak sambil menutupi wajahnya. Dia memilih menangis di tempat lain dari pada di hadapan Arga.
Setelah bicara dengan Sari, Arga memeriksa ponsel. Dia menemukan banyak panggilan tak terjawab dari Agni. Perempuan itu juga mengirim pesan padanya.
'Kau kemana, Mas? Kenapa kau menghilang lagi? Apa kau membawa Rasya kali ini?' Begitulah bunyi pesan dari Agni. Arga sendiri tidak berminat membalasnya. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Berbeda dengan Arga yang memilih pulang ke rumah orang tua, Laras sendiri mendatangi rumah Fita. Dia sekarang berdiri di depan pintu perempuan tersebut.
Selepas bel pintu ditekan dua kali, pintu akhirnya terbuka. Sosok Fita langsung menyambut kedatangan Laras.
__ADS_1
"Hai, Fit. Bagaimana kabarmu?" sapa Laras.
"Mbak Laras?" Fita membulatkan mata. Dia tak punya pilihan selain membiarkan Laras masuk ke rumah. Meskipun begitu, Fita merasa senang dengan kedatangannya. Sungguh, sudah lama dia ingin memamerkan hubungannya dengan Hery kepada semua orang. Terutama Laras.
"Silahkan duduk," ujar Fita.
Laras pun duduk ke sofa. Dia terlihat tersenyum tipis sambil melihat-lihat keadaan rumah. Atensinya segera tertuju ke arah foto pernikahan Fita dan Hery. Foto tersebut dipajang di dinding dalam figura berukuran besar.
"Kau tampak cantik sekali dengan baju pengantin," puji Laras. Dia terkesan tenang sekali.
"Terima kasih. Semua orang harus terlihat cantik bukan di hari bahagianya?" tanggap Fita dengan perasaan menang. "Jadi apa maksud kedatanganmu ke sini?" tanyanya.
"Apakah kau tidak akan membuatkan minuman untuk tamu terlebih dahulu?" Laras justru berbalik tanya.
"Ah, benar. Kau mau minum apa?" tawar Fita.
"Kopi tanpa gula," jawab Laras.
"Tentu saja. Hidupmu pasti sedang terasa pahit sekarang." Fita berucap begitu sambil beranjak ke dapur.
Laras hanya tertawa sendiri. Lama-kelamaan tawanya semakin gelak. Merasa lucu dengan tingkah Fita yang terkesan seperti sudah memenangkan sebuah pertandingan.
Puas tergelak, Laras segera mengambil foto pernikahan Hery dan Fita. Dia berusaha menemukan bukti sebanyak mungkin. Sampai seorang anak perempuan datang dari arah pintu. Dia tidak lain adalah Rista. Anak dari Hery dan Fita.
Laras mematung sejenak saat melihat sosok Rista. Dia tentu bisa menduga kalau Rista adalah anak Hery. Semuanya terlihat jelas dari hidung dan matanya. Sakit hati Laras seketika kembali memuncak.
__ADS_1