
...༻◊༺...
Hery mendatangi tempat pertemuannya dengan sang pengirim pesan misterius. Ketika sudah tiba di sana, dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Sampai akhirnya seorang lelaki paruh baya melambaikan tangan ke arahnya.
Tanpa basa-basi, Hery datangi lelaki tersebut. Mereka duduk saling berhadapan.
"Jadi kau yang mengirim pesan tentang Laras?" tanya Hery serius.
"Kenalkan aku Satyo." Satyo mengulurkan tangan ke arah Hery.
"Aku yakin kau pasti sudah tahu siapa aku," ujar Hery seraya menyambut uluran tangan Satyo.
"Iya. Kau benar," tanggap Satyo sembari mengangguk.
"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku? Bagaimana kau tahu tentang apa yang sudah dilakukan Laras? Apa bukti yang kau kirim itu benar?" Hery yang penasaran, mencecar dengan banyak pertanyaan.
Satyo langsung mengiyakan. Dia memberitahu Hery kalau Laras telah melakukan banyak hal agar bisa hamil.
Hery perlahan menunduk sendu. Kini dia menyadari bagaimana perjuangan Laras. "Apa dia melakukan semua itu karenaku?" ucapnya.
"Aku rasa tidak!" Satyo menepis.
Dahi Hery sontak berkerut dalam. "Kenapa kau yakin sekali? Bukankah sudah jelas dia melakukan itu untukku? Tapi aku malah mengkhianatinya," katanya. Dia menjadi semakin ingin bertemu Laras lagi.
"Aku rasa Laras hanya terobsesi ingin hamil. Kebetulan aku mengenali dukun yang dia datangi terakhir kali. Dukun itu memberitahuku kalau Laras harus menyerahkan tumbal agar bisa hamil," jelas Satyo.
"Tu-tumbal?" Hery memancarkan tatapan getir.
__ADS_1
Satyo mengangguk yakin. "Satu hal yang kau harus tahu, Laras adalah alasan kenapa Fita keguguran," ungkapnya.
Mata Hery terbelalak. "Apa maksudnya Laras sengaja menumbalkan anakku dan Fita demi kehamilannya?" tanyanya.
"Iya! Itulah alasan dia pergi jauh. Itu semua agar kau tidak bisa mengambil anaknya, karena anak yang sekarang bersamanya adalah anakmu juga kan?" Satyo berkata dengan gurat wajah yang begitu meyakinkan. Dalam sekejap dia bisa membuat Hery percaya.
"Kau harus mencarinya dan bawa anakmu kembali ke sini. Aku tahu betapa buruknya kau dan keluargamu sekarang terhadap keguguran anak keduamu," sambung Satyo.
Nafas Hery bergerak dengan cepat. Kedua tangannya mengepal erat. Dia merasa marah dengan apa yang sudah dilakukan Laras. "Dia ternyata memang lebih buruk dariku! Aarrghh!!!" geramnya penuh kekesalan.
"Kalau kau ingin tahu dimana Laras, hubungi Agni. Kalian bisa bekerjasama lagi seperti dulu. Beritahu dia kalau Arga melakukan hal yang sama seperti Laras. Arga menumbalkan anak dalam kandungan Agni karena ingin sembuh dari kelainan," ungkap Satyo.
"Kelainan? Apa?" Hery yang tak tahu otomatis penasaran.
"Tanyakan saja pada Agni. Aku harus pergi sekarang." Satyo bangkit dari tempat duduk.
"Eh, tapi aku--"
Hery sempat mematung di tempat. Dia berusaha menenangkan diri karena masih merasa syok dengan kenyataan yang ditemukan. Meskipun begitu, itu tak berlangsung lama, Hery langsung pergi sambil mencoba menghubungi Agni.
Dalam panggilan kedua, Agni menjawab telepon Hery. Lelaki tersebut memberitahukan informasi yang baru dia dapat pada Agni.
"Kau pasti bercanda!" Agni awalnya tak percaya.
"Kalau kau tak percaya, lalu bisakah kau jelaskan kenapa kau dan Fita sama-sama mengalami pendarahan parah saat keguguran? Bukan kah itu aneh? Kau bahkan merasa sangat menderita karena rasa sakit itu!" Hery yang sudah sepenuhnya percaya pada omongan Satyo, berupaya meyakinkan Agni.
Dari seberang sana Agni terdiam. Sepertinya dia mulai percaya.
__ADS_1
"Sekarang beritahu aku dimana Laras!" desak Hery. Dia baru saja masuk ke mobil.
Dari kejauhan, Satyo mengamati. Dia menatap Hery dengan perasaan bersalah. Itu semua karena apa yang dikatakannya adalah kebohongan.
Satyo dipaksa berbohong oleh Senopati. Hal tersebut dilakukan agar Senopati bisa meneruskan takdir untuk anak Laras dan Arga. Yaitu takdir sebagai tumbal.
Satyo menenggak salivanya, kemudian meletakkan ponsel ke telinga. Satyo berucap, "Aku sudah melakukannya, Mbah!"
...***...
Tanpa mengetahui hal buruk yang akan datang, Laras dan Arga terbuai dalam permainan ranjang. Tubuh keduanya sama-sama terguncang karena penyatuan yang dilakukan.
Laras dan Arga saling melenguh bersamaan. Menikmati surga dunia yang terasa sulit di akhiri. Bahkan ketika badan mereka sudah merasa lelah.
Sekarang Laras dan Arga melakukan ronde ketiga. Badan keduanya bermandikan keringat, itu membuat permukaan kulit mereka tampak mengkilap.
Segalanya berakhir ketika Laras dan Arga mencapai puncak kenikmatan. Sekujur tubuh mereka mengejang dalam sesaat.
Arga segera melepas penyatuan, dan tumbang ke sebelah Laras. Mereka saling terkekeh sambil meredakan nafas yang menderu.
"Aku rasa kita menjadi semakin ganas karena saling cinta..." ungkap Laras di sela-sela pengaturan nafas.
"Ya. Tapi apa kau tahu masalah yang kudapatkan sekarang?" tukas Arga. Dia menatap Laras dengan sudut matanya.
"Apa?" Laras menuntut jawaban.
"Sepertinya aku menyukai asimu. Aku tidak akan tiba-tiba berubah jadi bayi kan?" ujar Arga.
__ADS_1
"Arga!" Laras memukul dada Arga sambil tergelak. "Itu agak menjijikan tahu nggak," komentarnya.
Arga memeluk Laras dengan erat. "Apapun yang aku lakukan padamu, kata menjijikan tidak ada dalam kamusku," ucapnya.