Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 39 - Kerjasama Hery & Agni


__ADS_3

...༻◊༺...


"Bagaimana bisa kebetulan begini ya? Lebih baik kita bertemu dan bicarakan ini dengan serius!" ujar Agni. Dia dan Hery lantas bertemu di sebuah restoran.


Agni menceritakan semuanya kepada Hery. Termasuk mengenai pertemuan Arga dan Laras di klinik.


Kini Hery memperhatikan video yang diberikan Agni. Video rekaman kamera pengawas yang sempat disimpannya untuk mencari bukti. Namun Agni baru bisa menggunakan video itu setelah melihat noda lipstik di kemeja Arga.


"Laras juga sudah dua kali meninggalkan mobilnya di parkiran klinik Arga," ucap Agni. "Aku sempat ingin mencari tahu hubungan mereka secara detail. Namun aku batalkan karena suatu alasan," lanjutnya.


"Aku ingin percaya hubungan mereka sekedar dokter dan pasien, tapi setelah mengetahui mereka pergi beberapa hari, rasanya mustahil. Aku semakin yakin setelah melihat noda lipstik di kemeja Arga hari ini. Warna lipstiknya persis seperti lipstik yang dipakai Laras," sambung Agni lagi.


Hery sejak tadi hanya diam. Hatinya terasa kacau. Mengingat dia juga memiliki kesalahan yang besar pada Laras. Namun dari semua itu, hanya satu hal yang dipikirkan Hery. Jika Laras berselingkuh, apakah kemungkinan bayi dalam perut perempuan itu bukan anaknya?


"Laras sedang hamil sekarang!" ungkap Hery.


Agni membulatkan mata. "Benarkah?"


"Dia pernah mengaku kalau anak dalam perutnya bukan anakku," kata Hery.


Agni kaget mendengarnya. Dia sampai membekap mulutnya sendiri. Berpikir kalau bayi dalam perut Laras adalah anak Arga. Tetapi Agni lekas menggeleng. Sebagai orang yang bergelut di bidang hukum, dia tidak mau menyimpulkan semuanya tanpa bukti.

__ADS_1


"Kita harus cari buktinya! Kau juga bisa mengajak Laras bicara lagi. Aku rasa dia akan mengatakan yang sebenarnya padamu. Mengingat dia pernah mengakui hal segila itu," saran Agni.


"Dia berucap begitu karena marah padaku," sahut Hery.


Kening Agni mengernyit. "Marah padamu? Jangan bilang dia yang sudah menggugat cerai padamu?" terkanya.


Hery mengangguk. "Aku melakukan kesalahan besar!"


"Kau berselingkuh?" Agni menyelidik.


"Aku menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Laras. Aku juga memiliki seorang anak bersama wanita itu." Hery memilih memberitahu Agni mengenai masalahnya. Ia merasa Agni bisa membantunya, karena perempuan itu bekerja sebagai pengacara.


"Wah!" Agni tercengang. Dia mencengkeram rambutnya sendiri. Sebagai perempuan, dirinya bisa tahu bagaimana perasaan Laras. Wajar jika Laras marah sekali sampai mengajukan gugatan cerai. "Dunia ini memang sangat mengerikan," komentarnya yang menahan segala kata makian di hati.


"Memanfaatkan kesempatan kau bilang?" Agni menuntut penjelasan lebih lanjut.


"Iya. Kalau anak dalam perutnya bukan anakku, maka nafkah yang harus kuberikan padanya setelah cerai, bukan kewajibanku. Aku juga baru sadar sekarang, betapa enaknya hidup Laras saat menikah denganku. Aku yakin dia akan menyesal sudah menceraikanku! Tak akan kubiarkan Laras menggunakan kesalahanku agar bisa mendapat uang yang banyak!" Hery mengungkapkan segala apa yang ada di pikirannya. Setelah mendengar cerita Agni, dia jadi memandang buruk segala hal tentang Laras.


Agni menatap miris Hery. Dia merasa jijik mendengar pernyataan lelaki itu. Tetapi Agni membutuhkan Hery untuk mencari tahu lebih jelas hubungan Arga dan Laras.


"Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Hery.

__ADS_1


"Beritahu aku waktu pertama kali Laras pergi dan membohongimu!" tanggap Agni. Dia dan Hery mulai mencari kesamaan cerita satu sama lain.


...***...


Waktu menunjukkan jam 12 siang. Arga memanfaatkan jam istirahatnya untuk mendatangi apartemen yang dibeli Agni.


Sebagai awal penyelidikan, Arga menemui pemilik gedung apartemen lebih dulu. Dia menanyakan kepastian transaksi yang dilakukan Agni.


Pemilik apartemen tersebut mengiyakan dengan jelas kalau perempuan yang membeli apartemennya adalah Agni. Hal paling aneh adalah, Agni tidak datang sendiri saat itu.


Arga diberitahu bahwa Agni datang bersama seorang pemuda. Dia kaget sekali ketika mengetahui pemuda tersebut yang menempati apartemen pembelian Agni.


Tanpa ba bi bu, Arga datangi unit apartemen yang dibeli Agni. Kebetulan unit apartemen itu bernomor 177. Arga menekan bel pintu berulang kali.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Sosok Virgo muncul dari balik pintu.


"Ada perlu apa, Mas?" tukas Virgo seraya mengucek matanya dengan malas. Dia tampak bertelanjang dada dan mengenakan celana jeans. Jelas pemuda itu baru bangun dari tidur.


"Apa kau mengenal Agni?" timpal Arga.


Virgo yang tadinya malas menanggapi, langsung membulatkan mata.

__ADS_1


"Agni? Aku punya banyak kenalan yang bernama Agni." Virgo berusaha bersikap tenang.


"Agni yang kutanyakan padamu adalah Agni Reliana. Dia bekerja sebagai pengacara di kantor pengadilan negeri. Dia adalah orang yang sudah membeli unit apartemen 177. Tapi kenapa kau yang tinggal di sini?" Arga menatap tajam sambil melangkah lebih dekat ke hadapan Virgo.


__ADS_2