Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 82 - Impoten Lagi?


__ADS_3

...༻◊༺...


Rasya telah tertidur pulas. Saat itulah Arga pergi ke rumah Laras yang hanya berjarak beberapa langkah. Jujur saja, lelaki itu masih merasa gundah dengan masalah pekerjaan.


Sesampainya di rumah Laras, kue dan minuman hangat menyambut. Laras ternyata sudah membuat kue lebih dulu.


"Bukankah kau ingin aku menemanimu membuat kue?" tanya Arga.


"Itu alasan. Aku hanya ingin menghiburmu yang sepertinya masih gelisah," jawab Laras. Dia duduk ke sebelah Arga. "Mau menonton film?" tawarnya.


Arga mengangguk sambil tersenyum. Laras pun menyalakan televisi. Dia dan Arga menonton channel film.


"Pendekatanku dengan Rasya sepertinya berjalan baik. Aku yakin dia akan merasa semakin nyaman saat bersamaku," cetus Laras sembari menyenderkan kepala ke pundak Arga.


"Ya, aku turut senang akan hal itu," tanggap Arga yang segera mengelus kepala Laras.


Hening sempat menyelimuti suasana. Laras menengadah menatap Arga. Lelaki itu tampak menatap ke arah televisi. Meskipun begitu, lagaknya tidak seperti melihat televisi. Pikiran Arga seolah berada di tempat lain. Laras bisa melihat dari tatapan kosong lelaki tersebut.


"Kau hari ini benar-benar tidak bertenaga. Harus kah aku melakukan sesuatu?" Laras memegangi dagu Arga. Ia mengarahkan lelaki itu untuk menatapnya. Selanjutnya, Laras mengecup singkat bibir Arga. Perempuan tersebut melakukannya berulang kali.


"Laras..." Arga akhirnya tersenyum.


Barulah Laras memberikan ciuman lebih panjang. Dia segera duduk ke pangkuan Arga sambil terus memberikan pagutan demi pagutan.


Suara kecup-mengecup menemani bunyi televisi yang terputar. Sepertinya saat itu libido Laras sedang naik. Kali ini dia yang menginginkan Arga.

__ADS_1


Sadar akan godaan Laras, Arga berusaha merespon dengan baik. Keduanya mulai saling bercumbu, bahkan melucuti pakaian satu sama lain.


Laras mulai bernafas dengan berat. Tetapi Arga masih terdengar datar. Mereka melakukan pemanasan cukup lama. Sampai Laras merasakan kalau organ intim Arga belum aktif seperti biasanya.


"Ini aneh sekali. Biasanya Michael sudah berdiri saat kita berciuman," ungkap Arga yang sontak merasa panik. Usai pikirannya diganggu masalah pekerjaan, kini dia harus memikirkan disfungsi ereksi yang kambuh.


"Tenanglah... Aku akan mencoba memancingnya," ujar Laras. Dia segera bermain lolipop dengan Michael. Namun selama beberapa menit berlalu, tidak kunjung ada reaksi dari bagian tubuh kebanggaan Arga tersebut.


"Laras! Sudahlah." Arga menghentikan Laras. Dia bergegas mengenakan celana.


"Maafkan aku... Maaf... Aku tidak tahu kenapa ini tiba-tiba terjadi..." Arga merasa bersalah. Dia mengusap kasar wajahnya karena mencoba menahan tangis.


Laras yang melihat, buru-buru mengenakan pakaian. Dia lalu memeluk Arga.


"Kenapa kau minta maaf, Ga? Kau tidak salah sama sekali..." Laras mengelus pelan punggung Arga.


Arga akhirnya terisak. Dia juga membalas pelukan Laras. Sungguh, dirinya tidak mengerti dengan Michael.


Sekian menit kemudian, terdengar suara tangisan Adella. Arga harus merelakan Laras pergi sebentar untuk mengurus anak itu.


Kini Arga duduk termenung. Dia terpikir untuk memeriksakan dirinya ke dokter ahli.


Malam itu, Arga pamit pulang usai merasa lebih baik. Dia menghamburkan ciuman ke wajah Laras.


"Kau juga harus tahu, Laras. Aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Arga. Rasa sayangnya menjadi kian bertambah karena ketulusan hati Laras.

__ADS_1


...***...


Satu malam berlalu. Setelah mengantar Rasya sekolah, Arga mendatangi rumah sakit. Dia juga ingin sekalian memeriksakan keadaan Michael.


Tanpa diduga, dokter yang memeriksa Arga adalah teman kuliahnya. Dia merasa cukup senang akan hal itu.


"Ferry! Aku tidak menyangka kau di sini," sapa Arga saat mengenali Ferry.


"Harusnya aku yang berkata begitu," balas Ferry. Dia dan Arga saling menanyakan kabar satu sama lain. Sampai tibalah Ferry menanyakan tujuan kedatangan Arga.


Arga lantas mengatakan yang sebenarnya. Terutama mengenai kelainan disfungsi ereksi yang dia alami. Arga menceritakan semuanya. Dari mulai awal aktifnya Michael setelah sekian lama, hingga dengan kejadian tadi malam.


"Apa saat organ intimmu tidak bereaksi kau terpikirkan sesuatu hal lain?" tanya Ferry.


"Ya. Aku memikirkan masalah pekerjaan. Mencari pekerjaan di sini cukup sulit," sahut Arga.


"Itu!" ujar Ferry sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan.


"Jadi maksudmu apa yang kupikirkan berdampak pada kelainan yang kuderita?" Arga memastikan.


"Iya. Pikiran yang terganggu memang akan sangat berpengaruh. Ayolah, Ga! Kau juga dokter, aku yakin kau pasti sangat tahu betapa besar pengaruhnya pikiran terhadap kondisi kesehatan fisik," jelas Ferry.


"Aku tahu..." Arga mendengus kasar sambil mencengkeram rambutnya. "Tapi terkadang stress itu terjadi begitu saja. Aku tidak sadar kalau itu sangat mengganggu," tambahnya.


"Untuk sekarang kau lebih baik tenangkan pikiranmu dahulu," saran Ferry.

__ADS_1


"Apa menurutmu Michael bisa aktif lagi?" Arga sangat berharap.


"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya kan?" balas Ferry. "Oh iya satu hal lagi. Pastikan kondisi gairahmu saat melakukannya. Kalau kau merasa biasa saja, maka aku tidak yakin Michaelmu akan bereaksi."


__ADS_2