Impoten : Ritual Bergairah

Impoten : Ritual Bergairah
Bab 40 - Saling Bertemu


__ADS_3

...༻◊༺...


"Pergilah!" Sebelum Arga masuk, Virgo bergegas menutup pintu. Akan tetapi Arga sigap menahannya. Adu kekuatan pun terjadi.


Arga gigih tak mau mengalah. Perasaan penasaran serta kesal menjadi kekuatannya. Hingga Virgo tak kuat lagi mempertahankan pintu. Lelaki itu lantas melangkah mundur dan membiarkan Arga masuk.


"Aku rasa semuanya sudah jelas. Kau berusaha menghindariku. Itu artinya kau mengenal Agniku," ucap Arga.


"Tidak! Aku menghindarimu bukan karena itu. Aku hanya merasa terganggu! Aku bahkan tak mengenalmu. Kau bisa kulaporkan pada polisi karena menerobos masuk ke rumahku!" balas Virgo yang masih mencoba melindungi Agni.


"Telepon saja. Mungkin itu lebih baik. Jadi Agni pasti datang. Aku ingin melihat kau bertemu dengannya." Arga menyilangkan tangan di depan dada. Dia merasa Virgo bukanlah pemuda biasa. Dari banyaknya tato di tubuh pemuda itu, serta minuman keras di meja, Virgo kemungkinan melakukan pekerjaan buruk.


Virgo meliarkan bola mata ke segala arah. Dia bingung harus berucap apa saat mendengar Arga bicara begitu.


"Aku adalah suaminya Agni. Karena Agni istriku, aku berhak memeriksa properti yang baru dibelinya. Kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengannya?" tanya Arga.


"A-aku... Aku keponakannya," jawab Virgo tergagap.


"Keponakan? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" Arga menyelidik.


"Itu karena aku keponakan angkat," sahut Virgo. Berusaha tenang sebisa mungkin.


"Itu bahkan lebih aneh!" tukas Arga.


Tanpa diduga, bel pintu berbunyi. Buru-buru Virgo berlari untuk membukanya.


"Hai, Sayang! Apa kau sudah lama menunggu tante?" Orang yang datang adalah seorang wanita paruh baya. Tujuannya tentu ingin menyewa jasa Virgo sebagai gigolo.

__ADS_1


"Tante! Tunggu! Aku--"


"Oh iya. Aku juga membeli kon-dom terbaik untukmu!" ujar wanita itu genit. Dia membuat Virgo tak bisa bicara. Padahal lelaki tersebut berupaya memberitahu si wanita.


Arga membulatkan mata. Dia yang tadinya tidak tahu, akhirnya mengetahui siapa Virgo.


"Aku bisa jelaskan!" Virgo kini tak bisa berkutik. Dari pada berurusan dengan polisi, lebih baik dia mengatakan semuanya pada Arga.


Mendengar cerita Virgo, Arga syok sekali. Dia merasa hatinya terhujam pisau. Apalagi saat mengetahui bukan cuma Virgo saja yang pernah ditiduri Agni.


Arga melangkah gontai memasuki mobil. Dia tidak menyangka Agni melakukan hal seburuk itu.


"Rasya..." Arga jadi teringat dengan putranya. Dia merasa kasihan pada anak itu. Terutama saat Arga juga mengingat kesalahan yang dilakukannya dengan Laras.


"Rasya..." Arga akhirnya memanggil nama sang putra sambil terisak. Dia merasa sangat bersalah pada Rasya.


"Papa? Kita mau kemana? Apa kita akan jalan-jalan lagi bareng Mama?" tanya Rasya antusias. Dia duduk di sebelah Arga dengan keadaan sabuk pengaman yang terpasang.


"Tidak. Kali ini kita akan jalan-jalan berdua saja," sahut Arga.


"Kenapa?" Rasya sontak bingung.


"Mama kamu sedang sibuk. Jadi dia tidak bisa ikut," jelas Arga sembari merekahkan senyuman. Memasang ekspresi palsu untuk menyembunyikan sakit hatinya.


Bersamaan dengan itu, ponsel Arga berdering. Ia mendapat panggilan dari nomor tak dikenal. Meski bingung, Arga tetap mengangkat panggilan tersebut.


"Hai, Arga. Ini aku Hery Darmawan. Ini mengenai kehamilan istriku. Bisakah kita bertemu?" Orang yang menghubungi Arga tidak lain adalah Hery.

__ADS_1


...***...


Kini Laras sedang sibuk membuat kue. Dia mencoba membuat resep kue terbaiknya untuk melakukan eksperimen.


Sebelum resmi bercerai, Laras harus memikirkan masa depannya dan anaknya. Dia berniat membuat toko kue. Dengan begitu, Laras bisa membiayai kebutuhan hidupnya.


Ponsel Laras berdering. Dia melihat ada nomor tidak dikenal yang masuk. Laras langsung mengangkatnya karena mungkin saja pemilik nomor itu dari kantor pengadilan.


"Apa ini dengan Larasati Anggita?" tanya suara perempuan dari seberang telepon. Tanpa sepengetahuan Laras, dia adalah Agni. Perempuan itu sepertinya sedang melakukan rencananya bersama Hery.


"Iya. Ini aku. Ada apa ya?" tanggap Laras.


"Aku dari kantor pengadilan. Aku jaksa yang ditugaskan untuk mengurus masalah perceraianmu. Apa kita bisa bertemu?"


"Tentu saja. Kapan?" Laras bergegas melepas celemeknya. Dia pergi dari dapur.


"Jam 3 sore ini bisa? Aku akan mengirimkan alamat tempat kita bertemu."


"Baiklah."


Pembicaraan berakhir di sana. Laras segera bersiap. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam 2 lewat.


Ketika hampir jam tiga, Laras berangkat ke alamat yang dikirimkan Agni. Ternyata tempatnya adalah sebuah cafe.


Setibanya di tempat tujuan, Laras terkejut saat melihat sosok yang dia temui. Agni bahkan menyapanya dengan lambaian tangan serta senyuman.


Walau kedoknya belum ketahuan, Laras sudah merasa takut lebih dulu. Terlebih sekarang dia sudah memiliki perasaan khusus terhadap Arga.

__ADS_1


__ADS_2