
...༻◊༺...
Agni sekarang mengenakan pakaian. Dia baru selesai bercinta dengan Virgo. Dirinya kembali terpikir mengenai apartemen yang dibicarakan Arga.
"Kau tidak membohongiku kan?" celetuk Agni. Menatap Virgo penuh selidik.
"Berbohong tentang apa?" tanggap Virgo.
"Tentang suamiku!" Agni menatap semakin tajam.
"Untuk apa aku berbohong padamu! Aku bahkan tidak mengenal suamimu," sahut Virgo.
"Mungkin saja kau mendapat bayaran mahal darinya bukan? Aku tahu kalau uang adalah segalanya bagimu!" timpal Agni. Dia memiringkan kepala dan baru sadar kalau apa yang diucapkannya bisa benar-benar terjadi.
Satu kesimpulan muncul dalam benak Agni. Dia berdiri dan mengedarkan pandangan ke berbagai sudut ruangan. Agni berpikir kalau bisa saja ada kamera tersembunyi sekarang. "Jangan bilang kau dan Arga sedang menjebakku," cetusnya.
Mata Virgo membulat. Apalagi ketika melihat Agni mulai menelusuri sudut ruangan untuk mencari sesuatu.
Virgo tentu panik. Mengingat secara diam-diam, memang ada kamera yang merekam dirinya dan Agni. Jika Agni menemukan kamera tersebut, maka kedok Virgo akan ketahuan.
Meskipun merasa gelisah, Virgo tidak bisa menunjukkan kepanikannya terlalu jelas.
"Kenapa kau tak percaya padaku? Kau sangat mengenal bagaimana aku," ujar Virgo. Berharap Agni berhenti mencari.
"Ya, aku sangat mengenalmu! Kau akan melakukan segalanya demi uang!" balas Agni sembari mengobrak-abrik barang di apartemen Virgo.
"Apa kau tahu betapa sulitnya aku merapikan barang-barang itu? Kau sebaiknya merapikannya kembali saat sudah selesai," kata Virgo. Dia melirik ke arah televisi. Tempat dimana dirinya menyimpan kamera kecil yang merekam.
__ADS_1
Bel tiba-tiba berbunyi. Agni sontak berhenti mencari. Sedangkan Virgo bergegas membuka pintu. Pemuda itu melakukannya dengan hanya bertelanjang dada.
Pintu lantas dibuka oleh Virgo. Ternyata orang yang datang adalah Arga. Lelaki tersebut langsung menerobos masuk ke apartemen.
"Mas!" Agni kaget sekali menyaksikan Arga ada di depan matanya.
"Aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat membicarakan semuanya!" cetus Arga.
Mata Agni bergetar. Dia benar-benar sudah tertangkap basah.
"Kau bilang tidak mengenal suamiku! Dasar sialan!" Agni murka kepada Virgo.
"Aku tak punya pilihan, oke? Suamimu mengancamku dan juga menawarkan uang yang menggiurkan," sahut Virgo seraya mengulurkan dua tangan ke depan. Dia mengambil rokok serta alat pemantik. "Bicarakan saja urusan kalian di sini. Aku akan keluar," ujarnya yang segera menghilang ditelan pintu.
Kini Agni dan Arga hanya berduaan. Agni tampak frustasi sambil duduk menghempas ke sofa.
Arga duduk ke hadapan Agni. Dia menatap wanita itu dengan perasaan campur aduk. Ada perasaan marah sekaligus bersalah.
"Maafkan aku... Itu terjadi begitu saja..." Arga memutuskan mengaku. Walaupun begitu, dia tidak akan menyindir perihal ritual bergairah dari Senopati.
Agni terisak. Meski dia sudah menduga Arga berselingkuh, namun mendengar pengakuan langsung dari lelaki itu membuat hatinya sakit sekali.
"Laras memang lebih cantik dariku. Wajar kau tergoda dengannya..." lirih Agni. Di tengah-tengah tangisannya.
"Para pemuda itu tentunya lebih menarik dariku. Tampan dan kuat." Arga menanggapi sembari menundukkan kepala.
Tangisan Agni semakin menjadi-jadi. Dia merasa salah dan juga tak bisa menyalahkan Arga. Semuanya benar-benar berantakan. Kesalahan yang dilakukan Agni dan Arga adalah hal fatal.
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas... Maaf..." rengek Agni. Wajahnya telah dipenuhi air mata yang luruh.
"Aku juga minta maaf..." Arga meneteskan air mata, walau tidak separah Agni. "Yang aku pikirkan sekarang hanyalah Rasya dan anak dalam kandunganmu. Kita orang tua yang buruk untuk mereka..." lirihnya.
"Mas..." Agni tak kuasa berkata-kata. Tangisannya jadi sesegukan. Apalagi ketika mengingat tentang anak di dalam perut dan juga Rasya.
Beberapa menit terlewat. Arga dan Agni sempat saling terdiam karena sibuk meratapi kesalahan satu sama lain.
"Apa kau akan menggugat cerai padaku? Memakai bukti yang sudah kau temukan untuk mengakhiri segalanya?" tanya Agni. Dia menjadi lebih tenang karena sudah puas menangis.
"Entahlah. Aku lebih memikirkan kalau sebaiknya kita bercerai secara baik-baik. Demi kebaikan anak, kita rahasiakan kesalahan masing-masing. Itu kalau kau setuju," jawab Arga.
"Tapi bagaimana kalau aku memberi kau kesempatan lagi? Dan kau juga memberiku kesempatan?" imbuh Agni.
Pupil mata Arga membesar. Dia tidak menyangka Agni akan mengatakan hal seperti itu.
"Maksudmu kau ingin kita mengabaikan kesalahan satu sama lain dan tetap hidup bersama?" Arga memastikan.
"Ya. Anggap saja apa yang kita lakukan ini demi Rasya," kata Agni.
Arga menggeleng pelan sambil berucap, "Aku merasa tidak yakin..."
"Apa kau merasa jijik padaku?" tanya Agni.
"Kau sendiri tidak jijik padaku?" Arga malah berbalik tanya.
"Aku akan mengabaikan kesalahanmu kalau kau berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku tentu juga akan melakukan hal sama." Agni terlihat bicara dengan serius.
__ADS_1
Sementara itu Arga terdiam. Dia memang sudah jijik dengan apa yang Agni lakukan. Tetapi di sisi lain, Arga juga memikirkan perasaan Rasya. Putranya tersebut pasti sedih jika mengetahui orang tuanya berpisah.