
...༻◊༺...
Agni dan Hery melangkah beriringan mengikuti Senopati. Di tengah dingin dan gelapnya malam mereka memasuki hutan yang berkabut.
Tidak ada kecurigaan sama sekali dari Agni dan Hery, sampai akhirnya mereka harus berhadapan dengan kabut yang semakin menebal. Senopati terlihat berjalan menembus kabut tersebut. Agni dan Hery pun buru-buru mengikutinya.
Perlahan kabut menghilang. Saat itulah Agni dan Hery sadar kalau Senopati sudah tidak ada lagi di depan.
"Kemana kakek tua itu?" Hery kebingungan sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
"Sialan! Apa kau kehilangannya? Jelas-jelas dia ada di depan kita tadi!" sahut Agni. Dia menatap tajam Hery. Menurutnya lelaki itu sangat ceroboh.
"Iya! Tadi dia ada depan. Tapi setelah kabut tebal tadi dia menghilang begitu saja!" jelas Hery yang tak mau disalahkan.
"Sial! Jangan-jangan dia sengaja melakukan ini. Harusnya kita tidak mempercayainya begitu saja," keluh Agni sembari mengusap wajahnya beberapa kali. Ia melihat ke sekeliling, hanya ada kegelapan dan pepohonan yang tampak mencekam.
"Jangankan menemukan Laras dan Arga. Sekarang bahkan kita tidak tahu ini ada dimana!" imbuh Agni.
"Kita harus cari kakek itu! Aku yakin dia berjalan ke depan! Kalau aku bertemu dia lagi, aku akan memberinya pelajaran!" ujar Hery bertekad.
"Tapi dia mungkin saja tidak ke sana! Aku rasa sebaiknya kita kembali saja. Kita laporkan saja lelaki tua itu ke polisi!" tanggap Agni. Menurutnya itu solusi terbaik dari pada harus menanggung resiko tersesat di hutan.
__ADS_1
Hery tidak menyahut. Karena kesal, dia mengikuti kata hatinya untuk terus melangkah maju.
"Hery! Apa kau tidak mendengarku?!" seru Agni.
Namun Hery tetap tidak menggubrisnya. Karena takut, alhasil Agni tidak punya pilihan lain selain mengikuti Hery.
Hery dan Agni terus berjalan. Hingga mereka melihat ada cahaya lampu petromax dari kejauhan.
"Lihat! Aku benar kan?" cetus Hery seraya menyenggol Agni.
"Ayo kita lihat. Kau duluan!" Agni berjalan di belakang Hery. Keduanya mendekati lokasi dimana lampu petromax berada.
Saat sudah dekat, pupil mata Agni dan Hery membesar bersamaan. Mereka berhenti melangkah. Bagaimana tidak? Di tempat yang tak jauh dari lampu petromax, terdapat sebuah gua yang di aliri air. Dari kejauhan, Hery dan Agni bisa melihat Arga dan Laras bercinta. Arga dan Laras tampak telanjang bulat di atas batu besar.
Hal serupa juga dilakukan Agni. Dia bahkan siap menggunakan ponsel untuk merekam semuanya.
"Jangan berisik, Her! Kita harus mendapatkan bukti lebih dulu," cicit Agni sambil berusaha menyamakan langkah dengan Hery. Ia sudah menyalakan ponsel dalam mode rekam video.
"Berhenti kalian!" pekik Hery. Dia tidak mendengarkan perkataan Agni karena tidak sabaran.
Agni pun berusaha mendapatkan video Arga dan Laras. Awalnya gambar tidak begitu terlihat jelas saat berada dari kejauhan. Tetapi ketika sudah dekat, Agni merasa ada yang aneh.
__ADS_1
Langkah Agni terhenti. Matanya terbelalak tak percaya. Dia gemetaran karena dalam rekamannya dirinya tidak melihat Arga dan Laras. Akan tetapi makhluk mengerikan berlidah panjang dan bersisik.
Bulu kuduk Agni dibuat merinding hebat. Dia semakin takut, saat dua makhluk aneh itu menengok bersamaan ke arahnya dan Hery. Dua makhluk mengerikan tersebut tersenyum. Mereka memiliki mata merah menyala yang mengerikan.
"Hery!!!" Agni memanggil Hery dengan lantang. Berharap lelaki itu berhenti.
Namun karena dikuasai amarah, Hery mengabaikan Agni seperti sebelumnya. Dia menghampiri dua makhluk yang dirinya kira adalah Arga dan Laras.
"Kalian benar-benar menjijikan!" geram Hery seraya mengambil sebuah batu. Dia lemparkan batu tersebut ke arah dua makhluk yang menyerupai Arga dan Laras.
Terdengar bunyi batu lemparan Hery yang memantul dan berakhir jatuh ke air. Dia yang tadinya ingin memberi pelajaran pada Arga lebih dulu, kini harus mematung di tempat.
Hery terdiam karena Laras dan Arga menghilang begitu saja dari penglihatannya. "Sial! Mereka kemana?" gumamnya sembari mengucek mata berulang kali.
"Mereka pasti bersembunyi di suatu tempat. Aku yakin Arga dan Laras bekerjasama dengan kakek itu!" duga Hery yang masih berusaha berpikir logis.
"Itu tadi bukan Arga dan Laras! Ada yang tidak beres. Kita harus pergi dari sini!" seru Agni. Dia kian panik tatkala ponselnya mendadak mati dan tak bisa dinyalakan. Padahal baterainya dalam kondisi masih banyak.
"Tidak! Kita harus mencari mereka. Apa kau akan menyerah begitu saja?" sahut Hery.
"Terserah! Kau saja yang cari mereka. Aku mau pulang!" Agni bergegas berjalan keluar dari gua.
__ADS_1
"Kau pengecut!" cibir Hery. Dia nekat masuk ke dalam gua lebih dalam.
Berbeda dengan Agni yang merasa menemukan banyak keganjilan sejak tadi. Padahal bisa dibilang dia adalah tipe orang yang tidak mempercayai hal mistis. Tetapi saat dirinya melihat semuanya dengan mata kepala sendiri, itu semua benar-benar tak bisa terbantahkan.