In My Dream

In My Dream
Angin Bertiup


__ADS_3

Sementara di sebuah lembah curam di tengah bumi, dalam sebuah gua. Seth tampak berdiri sambil melihat air terjun yang menjadi tirai penutup bagi pintu gua tempatnya berada. Pria itu tidak punya tempat untuk berlindung. Kembali ke Dark Castle sama saja bunuh diri untuknya. Kembali ke dunia atas, jelas dia sudah jadi buronan. Bahkan mungkin statusnya sekarang adalah buronan tingkat tinggi.


Melukai salah satu asisten dewa, bisa dihukum berat. Apalagi Seth sudah membunuh Elyos, salah satu asisten dewa yang keberadaannya cukup disegani di dunia langit. Bisa dipastikan hukuman mati menanti. Meski dia tahu melakukan kesalahan besar, tapi tidak terlihat raut penyesalan di wajah Seth. Pria itu justru berkali-kali menarik sudut bibirnya. Seth tersenyum puas dengan hasil kerjanya sendiri. Menghabisi Elyos adalah keinginan terbesar dalam hidupnya. Ambisi paling kuat dalam hatinya. Dan obsesi yang harus dia capai.


"Bagus sekali dia mati. Dengan begitu kristal hitamku tidak lagi punya saingan. Tidak punya penghalang untuk mencapai puncak kekuatannya. Dan mengubah bumi menjadi gelap tanpa cahaya.Tanpa mimpi indah."


Kata Seth sembari melihat sebentuk prisma berwarna hitam, Ukurannya masih kecil, tapi jika kekuatannya bertambah, kristal itu bisa bertambah besar. Itu bisa membahayakan bumi. Energi negatif kristal hitam bisa mengubah bumi diselimuti kegelapan.


Seth berbalik, pria itu melambaikan tangannya dan sebuah tempat duduk melayang muncul di tengah gua. Pria itu duduk bersila di atas tempat itu. Perlahan batangan kristal hitam tumbuh di sekeliling Seth. Menutupi tubuh Seth dari ancaman dunia luar. Pria itu lantas memejamkan mata, mulai bermeditasi. Memanipulasi mimpi indah manusia menjadi mimpi buruk. Energi negatif muncul dari tangis dan kesedihan, ketakutan, kekecewaan. Dan kekuatan itu langsung diserap oleh kristal hitam.



Kredit Pinterest.com


"Hanya menunggu waktu sampai aku cukup kuat untuk menyerang dunia manusia, mendirikan istanaku di pusat kota." Batin Seth senang.


*


*


Arch mengerutkan dahinya. Dalam dua hari terakhir, sifat Sia berubah drastis. Gadis yang semula periang itu mendadak jadi pendiam. Tidak banyak tertawa seperti sebelumnya. Sia juga lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Tiap kali Arch bertanya, Sia hanya menjawab dia baik-baik saja.


Arch ingin bertanya lebih banyak tapi pria itu takut melebihi batas. Dia tidak ingin dianggap terlalu ikut campur hal pribadi Sia. Meski keadaan Sia semakin hari, semakin membuat Arch khawatir.


Sia mulai menenggelamkan diri dalam kesibukan yang memang selalu ada di Dreamaker. Gadis itu menghandle beberapa klien sekaligus. Sampai bekerja hingga larut malam. Arch tentu pusing kepala di buatnya.


Pria itu mencoba bertanya pada En dan Abby. Namun dua orang itu tidak tahu. Mereka juga bingung dengan Sia yang sekarang. Gadis itu berubah total.

__ADS_1


Keadaan Sia tentu menjadi laporan tersendiri bagi Yue. Pria itu juga diam-diam mengawasi Sia saat berada di dunia mimpi. Yue hanya bisa melihat Sia menangia dalam mimpinya. Yue dan En hanya bisa menarik nafasnya pelan saat bertemu suatu malam.


En baru saja menyelesaikan pekerjaannya saat Yue memanggil. Keduanya kembali berdiskusi soal Elyos dan Sia. Di mana beluma ada petunjuk apapun mengenai keadaan Elyos. Yue bahkan sampai terbang ke pemukiman Pegasus. Sebab hukum yang berlaku bagi bangsa Pegasus adalah jika sudah meninggal, jiwa mereka akan kembali ke tempat asalnya. Di pemukiman Pegasus.


Namun tetua Pegasus menjawab kalau tidak ada jiwa yang kembali dalam beberapa hari ini. Namun tetua Pegasus memberi petunjuk. Jiwa Pegasus diciptakan sepasang dengan pasangannya. Jadi jika pasangannya masih hidup, ada kemungkinan jiwa Pegasus itu masih hidup. Hanya raganya saja yang rusak.


"Apa Sia adalah mate Elyos?"


Satu pertanyaan En memotong cerita Yue. "Bisa jadi."


"Tapi mereka berbeda. Tidak ada kesamaan dari mereka yang bisa menyatukan keduanya. Mereka seperti langit dan bumi. Timur dan barat."


"Tidak ada yang tidak mungkin jika dewa berkehendak."


"Kau curilah baca kitab kehidupan milik Dewa Takdir." En memprovokasi Yue.


"Kau mau aku mati ya. Kenapa barus mencuri kalau aku bisa meminjamnya."


"Sia hentikan ini. Kau bisa mati jika kelelahan." Arch mencoba membujuk Sia. Gadis itu tertegun. Yang Arch katakan sama persis dengan apa yang sering Elyos ucapkan.


"Elyos..." Gumam Sia lirih. Detik berikutnya, Sia sudah berada dalam pelukan tubuh Arch. Tangis Sia pecah tiap kali mengingat Elyos. Hatinya sakit. "Apa kau baru putus dari pacarmu?"


Arch mencoba bercanda. Mendengar pertanyaan Arch, tangis Sia justru semakin keras. "Dia pergi. Bahkan tanpa mengatakan selamat tinggal."


"Ooo korban PHP-lah ceritanya ini." Kekeh Arch.


Sia membenamkan wajahnya di dada Arch, menumpahkan segala kesedihan yang beberapa waktu terakhir dia rasakan. Mengungkapkan rasa kehilangan yang Sia rasakan setelah kepergian Elyos.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui sepasang mata menatap marah pada kedekatan Sia dan Arch. Binar tidak suka itu semakin kentara saat Arch mencium puncak kepala Sia lembut.


"Katanya Kakak kenapa mesra sekali. Bohong. Mereka pasti bohong." Geram suara itu.


"Sudah lebih baik?" Arch bertanya setelah beberapa waktu berlalu. Sia masih berada dalam pelukan Arch. Satu hal yang baru Sia tahu, dalam pelukan Arch dia merasa tenang. Pelukan Arch membuatnya nyaman. Hal yang sama, yang Sia rasakan saat bersama Elyos.


Keduanya berjalan beriringan masuk ke tempat mereka bekerja. Dreamaker Wedding Organizer.


"Aku pikir adikmu menyukai gadis itu." Gumam Ciel. Aro menatap senyum Arch saat bersama Sia. Sungguh berbeda dengan saat bersama orang lain. Senyum Arch terlihat lepas. Tanpa beban. Bahkan pria itu terlihat hidup dengan baik saat bersama Sia. Meski gaji mereka berapa, sangat jauh dari standar hidup Arch. Tapi sang adik fine-fina saja. Tidak merasa kekurangan.


"Apa yang terjadi jika itu benar?" Aro menatap Ciel sang asisten yang tampak berpikir.


"Kau dan ayahmu mungkin tidak masalah. Tapi mamimu yang tukang drama itu bagaimana?"


Aro mengeplak lengan Ciel. "Tukang drama itu sekarang bosku. Dan aku adalah bosmu." Aro menatap tajam pada Ciel yang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sadar dirinya salah ucap.


"Iya, iya salah. Minta maaf." Aro menghela nafasnya lantas melihat lagi ke jendela. Di mana Arch dan Sia sudah masuk ke ruang kerja mereka.


"Apa yang harus kulakukan?" Aro bertanya dalam hati. Aro sudah menyelidiki siapa Sia. Dia gadis baik-baik yang menjadi korban kecelakaan. Hingga merenggut semua kebahagiaan Sia. Belum lagi catatan tambahan kalau Sia sebenarnya bisa mendesign. Nilai plus yang bisa dikembangkan di Dreamaker. All in one, konsep yang coba Aro terapkan beberapa waktu ini.


Meski sebenarnya ini semua ide Arch. Pria itu sebenarnya bertanggung jawab besar soal pekerjaan. Satu panggilan, Aro mulai mendengarkan apa yang dkatakan oleh orang diujung sana. Detik berikutnya Ciel sudah berlari menuju ruang kerja free lanserr berada.


"Gini amat bagaimana bos kayak angin bertiup. Bentar oke, bentar seperti badai."


****


Up lagi readers,

__ADS_1


Terima kasih jangan lupa tinggalkan jejak ya.


**


__ADS_2