
Beberapa waktu berlalu, hubungan Arch dan Alicia kian dekat. Arch sama sekali tidak terburu-buru mendekati Alicia. Meski usianya semakin matang, tapi pria itu tetap santai. Berpikir kalau dia ingin menikah sekali seumur hidup, jadi Arch tidak akan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Proyek pembangunan sekolah Alicia hampir selesai, saat itulah Arch berpikir sudah waktunya untuk mengikat gadis itu. Terlebih sikap Alicia jauh berbeda dengan saat pertama kali pria itu mengenalnya. Alicia yang sekarang pun lebih banyak tersenyum. Dengan tingkah sedikit manja pada Arch. Lebih terbuka juga.
"Suka?"
Alicia mengangguk, melihat sekeliling makam ibunya yang dibangun ulang. Alicia tersenyum lebar, dengan kepala manggut-manggut senang. Detik berikutnya Alicia reflek memeluk Arch, membuat Arch serasa mendapat kejutan.
"Alice, jangan begini. Malu gak sih?" Arch berusaha melerai pelukan Alicia.
Namun Alicia tampaknya tidak mau. Gadis itu terus membelitkan tangannya ke tubuh Arch.
"Bodo amat. Kamu tahu gak? Semalam mama muncul di mimpiku. Dia bilang menyukaimu."
"Lalu?"
"Kita nikah aja yuk...."
Arch melongo mendengar ucapan yang keluar dari bibir Alicia. Terdengar konyol bagi Arch.
"Jangan ngaco kamu."
Giliran ucapan Alicia digunakan balik oleh Arch. "Kok gitu sih..."
"Tuh kan dia marah. Kalau denger omongan kayak gitu. Sama kaya waktu kamu bilang seperti itu ke aku."
"Aku serius!"
Dua orang itu terdiam karena mereka baru saja mengucapkan hal yang sama. Arch jadi yang pertama sadar dari keterkejutan mereka. "Jadi mau nih?" tanya Arch.
Alicia mengangkat wajahnya. "Mau menikah denganku?" Pinta Alicia.
Arch tertawa lebar. Baru kali ini dia tahu ada perempuan mengajak nikah. "Kamu melamarku?" tanya Arch tidak percaya.
Alicia nyengir menyadari tindakannya. Gadis itu jadi salah tingkah. "Tapi gak bawa cincin." Lirih Alicia lantas menundukkan wajahnya. Malu melihat wajah Arch yang seolah meledeknya. Arch benar-benar tidak menduga kalau justru Alicia yang memintanya menikahinya. "Kamu serius?" tanya Arch lagi. Alicia mengangguk yakin.
__ADS_1
Entah kenapa sejak sang mama datang dalam mimpinya, dan mengatakan kalau dia menyukai Arch. Alicia merasa kalau sang mama merestui hubungannya dengan Arch. Karena itu dia memberanikan diri untuk melamar pria itu.
"Tapi gak bawa cincin." Alicia kembali bergumam lirih. Alicia mengangkat wajahnya saat Arch memegang dua lengannya. "Aku tidak perlu cincin darimu. Yang kuperlukan hanya jawaban iya darimu." Ujar Arch sambil menatap dalam wajah Alicia.
"Mau menikah denganku?" ulang Alicia.
Arch tersenyum, hingga satu jawaban dari Arch membuat Alicia langsung berjinjit dan mencium bibir Arch sekilas. Singkat, tapi cukup memberi efek luar biasa bagi Arch. Pria itu tampak melihat Alicia yang lagi-lagi menundukkan wajahnya. Sampai kemudian Arch menangkup wajah Alicia lantas mencium bibir gadis itu. Satu tangan Arch beralih ke tengkuk Alicia, hingga ciuman keduanya semakin dalam. Untuk beberapa lama, keduanya begitu menikmati tautan bibir mereka. "Aku mencintaimu, Alice." Kata Arch dengan kening menempel di dahi Alicia.
"Aku juga mencintaimu Archie Aodra Wijaya." Senyum Arch mengembang sempurna mendengar jawaban dari Alicia. Gayung bersambut, cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan.
*
*
Abby berseru senang saat mendengar kalau Arch dan Alicia akan menikah. Rencananya berhasil. Wanita itu masuk ke kamar yang dia tempati bersama Rei, ya Abby sudah menikah dengan Rei. Tanpa Abby tahu, sang suami sudah pulang lebih dulu dan berada di kamar itu.
Abby tanpa ragu melepas blazernya, melepas blusnya, hingga tubuh bagian atasnya tinggal mengenakan penutup dada saja. Rei menelan salivanya susah payah. Tubuh Abby benar-benar jadi candu untuk Rei. Dengan Abby, Rei tiap malam bisa menghabiskan malam panas berdua.
Abby yang tahunya hanya sendirian, tidak langsung mencari baju ganti. Suasana hatinya yang panas membuat wanita itu membiarkan tubuhnya begitu. "Dasar rubah tua sialan!" maki Abby pelan tanpa suara. Wanita itu meraih laporan butik yang baru saja dia terima.
Tingkah Abby yang menggemaskan saat mengutak atik design membuat Rei tidak tahan untuk tidak menggodanya. Pria itu melepaskan jasnya setelah mematikan laptopnya. Lalu mengurai kancing kemejanya. Rei berjalan mendekati Abby yang duduk membelakanginya.
"Hai baby...."
Abby seketika memejamkan mata, mendengar suara berat Rei di telingannya. Hembusan nafas Rei membuat tubuh Abby merinding.
"Gaun siapa?"
"Alice akan segera menikah dengan Arch."
"Baguslah, tidak ada lagi yang akan mengganggumu." Bibir Rei mulai berlarian di pundak Abby yang polos, hanya seutas tali penutup dada yang ada di sana.
"Sial! Aku memancing singa tidur."Batin Abby kesal dengan kecerobohannya.
"Arch selamanya akan jadi temanku. Kau tidak bisa mengganggu gugat soal itu."
__ADS_1
"Tapi aku cemburu."
"Apa kau sudah jatuh cinta padaku?"
"Apa kau sudah mengandung anakku?"
"Belum!" Keduanya menjawab kompak.
Karena hal itulah yang sering membuat keduanya berselisih paham. Rei ingin Abby hamil anakknya, tapi hal itu mana mungkin terjadi, jika Abby sudah memasang alat kontrasepsi sebelum menikah dengan Rei.
Sedang Abby, ingin Rei mencintainya baru dia sudi mengandung darah daging Rei. Karena kesalahpahaman itulah, keduanya sering berdebat. Meski semuanya masih bisa diatasi, tentu setelah bergumul panas di atas ranjang.
Rei memberengut kesal. Dia pikir hampir setiap malam menyemburkan benihnya di rahim Abby, tapi kenapa sampai sekarang Abby belum hamil juga. Melihat reaksi Rei, Abby pikir Rei akan mengurungkan niatnya. Mengingat tadi pagi, Rei sudah menerkamnya di kamar mandi, gara-gara dia lupa mengunci pintu. Hingga Rei bisa menyusul masuk dan terjadilah serangan fajar yang berulang kali Abby alami.
"Tidak masalah, kita akan terus mencoba sampai kamu hamil anakku." Abby memekik saat Rei mengangkat tubuhnya, membawanya ke ranjang.
"Rei masih sore." Abbya berusaha menghalau Rei yang mulai menindihnya.
"Aku tidak peduli."
Mati kau Abby! Maki Abby pada dirinya sendiri. Semalam dia sudah berhasil menipu Rei, hingga tadi malam dia lolos dari permainan panas Rei. Berganti tadi pagi. Sekarang sepertinya dia tidak punya kesempatan untuk menghindar. Terlebih sentuhan Rei selalu membuat Abby mabuk kepayang.
"Andai kata cinta itu keluar dari bibirmu. Aku rela mengandung anakmu. Tapi selama itu belum terjadi, aku tidak sudi melakukannya!" Batin Abby yang mulai tenggelam dalam kungkungan tubuh besar Rei.
"Buat dia hamil anakmu, lalu ceraikan dia. Mama tidak sudi punya mantu yang asal usulnya tidak jelas, pembangkang. Suka melawan mama."
"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mungkin belum bisa mencintai hatimu, tapi aku yakinkan kalau Abby hanya untuk Rei." Batin Rei mulai mencumbu tubuh sang istri.
***
Part Abby sama Rei mungkin akan author buat judul sendiri. Tapi gak tahu kapan 😅😅
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
*****
__ADS_1