
Begitu masuk ke gedung Dreamaker, Arch langsung mengajak teman Sia, Rissa untuk bicara dengannya di ruang konsul tertutup. Bisa dibayangkan bagaimana senangnya Rissa, dapat bicara berdua dengan Arch. Pria yang dia suka. Rissa menyukai Arch sejak mereka bertemu hari itu.
Senyum Rissa mengembang saat melihat Arch menutup pintu lantas berbalik, menghadap Rissa.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Arch tajam. Pria itu sungguh ingin tahu apa sebab Rissa me-reject panggilan di ponsel Sia. Salah Sia juga sih, tidak menggunakan password atau sidik jari untuk mengunci ponselnya.
"Apa itu?" tanya Rissa sumringah. Arch melihat wajah Rissa yang terlihat begitu bahagia.
"Kenapa kamu menyentuh ponsel Sia?"
Senyum Rissa luntur seketika. Gadis itu begitu benci mendengar nama Sia terucap dari bibir Arch. Wajah Rissa seketika berubah kesal.
"Apa kau tidak mau mengakuinya?"
"Aku tidak melakukan hal itu. Jangan asal menuduhku!" kilah Rissa cepat. Arch menyeringai. Raut wajahnya berubah dingin dan itu menakutkan di mata Rissa. Arch menekan remot yang ada di tangannya. Layar besar di belakang Rissa menyala. Menampilkan gambar dirinya yang tengah mengutak atik ponsel Sia. Jelas sekali jika itu wajah Rissa.
"Bagaimana? Masih mau menyangkal?" kata Arch dengan wajah marahnya. Pasalnya selama ini Sia dan Rissa berteman baik. Lalu kenapa tiba-tiba Rissa malah melakukan hal yang membuat Sia kecewa. Tidak masalah jika yang direject bukan telepon. Namun kali ini, hal itu sangat penting bagi Sia. Andai Rissa tidak menolak telepon sang paman, mungkin Sia tidak akan kehilangan kalung milik sang ibu.
"Itu bukan aku!"
"Lalu siapa? Hantu?" Suara Arch meninggi. Pria itu jelas bukan pria yang sabar menghadapi tingkah polah makhluk berjuluk perempuan.
Rissa terdiam. Wanita tersebut memandang wajah tampan Arch. "Kamu tahu kenapa aku melakukannya? Aku menyukaimu, aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya."
Sesaat Arch tertegun. Cukup terkejut dengan perkataan Rissa.
"Itu tidak ada hubunganya dengan mereject panggilan di ponsel Sia. Kau tahu, gara-gara tindakan konyolmu Sia kehilangan kalung peninggalan ibunya yang sudah meninggal."
Arch tahu sebab Sia ke pegadaian hari ini. Pria itu menyuruh Ciel menyelidiki kenapa Sia pergi ke tempat tersebut. Dan hasilnya cukup membuat Arch tercengang. Pria itu jadi tahu kenapa dua bulan ini, Sia begitu rajin bekerja. Rupanya gadis itu sedang mengumpulkan uang untuk menebus kalung ibunya.
"Itu juga tidak ada hubungannya denganku. Aku cuma mau dekat sama kamu." Rissa mendekat ke arah Arch. Wanita itu tiba-tiba berubah agresif. Rissa memeluk paksa Arch, bahkan Rissa nekad ingin mencium pria tinggi besar itu.
Arch tentu gelagapan dengan sikap Rissa. Seumur-umur belum pernah pacaran. Skinship juga pertama kali dengan Sia hari itu. Bahkan ciuman keduanya juga fist kiss mereka. Arch terang-terangan menolak sentuhan Rissa. Saat Arch dan Rissa tengah bergelut, tiba-tiba pintu dibuka dan masuklah Sia. Mata gadis itu membulat. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1
Sia buru-buru membalikkan badannya. "Si....ini tidak seperti yang kau lihat." Arch berkata sambil berusaha melepaskan belitan tangan Rissa di pinggangnya.
"Aku keluar dulu kalau begitu."
"Dengar ya Sia. Aku menyukai Arch."
Suara Rissa terdengar sebelum pintu tertutup. Sia menghembuskan nafasnya kasar. Rissa menyukai Arch? Apa itu alasannya Rissa mengutak atik ponselnya? Tapi apa hubungannya? Arch kan tidak punya ponsel. Jadi tidak ada yang bisa dikepoin soal Arch di ponsel Sia. Kenapa Rissa melakukannya? Banyak pertanyaan Sia soal tingkah Rissa.
Sementara di dalam sana. Arch langsung mendorong tubuh Rissa kasar hingga gadis itu tersungkur di lantai. "Arch, kamu...." Rissa terkejut dengan perlakuan kasar Arch.
"Kenapa? Kau terkejut? Itulah aku yang sebenarnya. Aku peringatkan. Jangan mengganggu Sia lagi. Atau aku akan mendepakmu keluar dari sini. Dan satu lagi, aku tidak menyukaimu!" Arch berucap tegas. Pria itu lalu berbalik, akan keluar dari ruang konsul.
"Kenapa kamu menolakku? Apa kamu menyukai Sia?" tanya Rissa setengah terluka dengan penolakan Arch.
"Siapa yang kusuka, itu bukan urusanmu! Ingat yang kukatakan hari ini!" Perkataan Arch penuh penekanan.
Tangis Rissa pecah, saat pintu ditutup Arch. Gadis itu merasa sakit hati dengan penolakan Arch. Untuk sesaat Rissa membiarkan dirinya larut dalam tangisnya. Hingga satu pelukan membuat tangis Rissa berhenti sejenak.
"Jangan menangisinya. Dia memang seperti itu."
*
*
Arch keluar dari ruang konsul dengan langkah cepat. Semua orang jadi heran. Banyak yang mempertanyakan kinerja Arch, sebab pria itu lebih banyak menganggur timbang menangani klien. Arch hanya sesekali menghandle konsul dengan klien.
"Lagaknya seperti bos ya. Padahal dia sama kayak kita." Celetuk seorang karyawan, teman Arch. Hanya helaan nafas yang terdengar dari bibir Arch, saat pria itu samar-samar mendengar gunjingan karyawan soal kinerjanya. Namun terserahlah. Sifat Arch yang cuek benar-benar menguntungkan dirinya. Dia tidak terlalu percaya dengan berita yang atau gosip murahan yang beredar di luar sana.
"Bagaimana?" Arch menemui Ciel yamg menunggunya di tempat biasa. Sebuah tempat di tangga darurat, yang jarang dilewati. Keduanya jelas menghindari dilihat karyawan lain.
"Kau harus secepatnya cari asisten sendiri. Aku tidak mampu menghandle dua orang sekaligus. Lama-lama bisa sedeng aku. Apalagi kamu. Banyak maunya." Gerutu Ciel sambil menggunakan ponselnya.
"Lah dia protes." Ledek Arch.
__ADS_1
"Sudah bercandanya. Lihat ini, pemenang lelang kalung itu adalah tuan Alexto. Dan dia mau melepas kalung itu kalau kamu bisa membayar dua kali lipat dari harga lelang." Jelas Ciel.
"Berapa itu?" kepo Arch.
"80 juta." Ciel kembali menatap layar ponselnya. Takut salah lihat.
"Bayar kalau begitu." Kata Arch enteng.
Ciel melongo, bos mudanya ini serius tidak sih. 80 juta untuk sebentuk kalung yang....cantik sih menurut Ciel.
"Malah bengong. Bayar dia pakai ini." Arch mengulurkan black card miliknya pada Ciel. Pria itu tambah melongo.
"Ini serius?" Ciel memastikan.
"Seriuslah, antar barangnya besok ke nomor ponsel Sia. Kurirnya bisa melacaknya melalui maps." Jelas Arch.
"Arch kamu mau tahu tidak kalungnya Sia seperti apa?"
"Memang seperti apa?" Arch akhirnya kepo juga. Ciel memberikan ponselnya pada Arch. Arch langsung terpukau dengan bentuk kalung itu. Sebentuk kalung berwujud kunci dengan permata amethyst berwarna ungu sebagai penghiasnya.
Kredit Pinterest.com
"Tunggulah kalungmu kembali, Si. Semoga setelah kalung ini berada di tanganmu. Kamu bisa terus tersenyum." Batin Arch lega.
Meski pria itu sedikit merasa aneh dengan kalung itu. Kalung dengan bandul kunci? Apa tidak salah.
*****
Up lagi readers
Jangan lupa ritual jempolnya ditunggu. Terima kasih
__ADS_1
****