
Elyos membaringkan tubuh Sia di ranjang. Setelahnya Arch menyelimuti tubuh gadis itu. Setelah berhasil melumpuhkan Seth, pria itu dibawa pulang ke istana langit sebagai tahanan untuk diadili. Istana kristal hitamnya di hancurkan dan kristal hitam sendiri untuk sementara diamankan oleh Yue. Pria itu akan menempatkan kristal tersebut di paviliun Ghrian, tempat di mana semua benda akan mengalami penyucian. Kristal hitam akan diubah menjadi kristal biasa.
"Maaf, sudah melibatkan Sia dalam urusan kami," Elyos berucap penuh rasa bersalah.
"Asalkan dia baik-baik saja. Itu sudah cukup bagiku."
"Dia baik-baik saja. Jangan khawatir."
Ucap Elyos, kedua pria itu melihat ke arah Sia yang terlelap. Untuk sementara, Amethyst tidak akan muncul, karena lukanya yang cukup parah, membuat jiwanya harus bermeditasi untuk beberapa lama.
"Arch, besok aku akan kembali. Terima kasih sudah membantuku. Aku tidak tahu bagaimana akan bertahan jika bukan karena bantuanmu."
Arch seketika mengalihkan pandangannya pada Elyos, ada binar kesedihan yang terlihat di mata biru Elyos.
"Kenapa?" Arch bertanya.
"Kau tahu tempatku bukan di sini. Aku punya dimensi dan dunia sendiri. Tempat yang harus aku jaga dengan jiwaku. Karena akulah pemilik tempat itu. Terlebih masalah Seth sudah selesai. Dia akan diadili dan dihukum atas apa yang telah dia lakukan hari ini."
Untuk sesaat Elyos terdiam. Pun dengan Arch. "Temui dia, dia pasti mencarimu."
Elyos tidak menanggapi saran Arch. Pria itu hanya takut tidak bisa pergi setelah melihat Sia. Terlebih setelah tahu, siapa yang berada dalam tubuh Sia.
Di dunia langit, Ice, Yue dan Fire sedang berada di paviliun Ghrian, Ice sendiri yang akan mengatur bagaimana kristal hitam itu akan disucikan. Perlu beberapa menit sampai Ice menyelesaikan prosesnya. Kristal hitam tetaplah kristal hitam. Namun tanpa ambisi untuk mendominasi. Selayaknya manusia benda prisma itu juga punya keinginan. Sesuai dengan sang penjaga.
"Kita akan mengadakan seleksi untuk mencari penjaga kristal ini. Orang yang dilahirkan seperti Elyos. Sampai orang itu kita temukan, dia akan berada di sini. Dalam pengawasan kita semua." Pesan Ice diangguki oleh Yue dan Fire.
Tak berapa lama, ketiganya sudah duduk di taman paviliun Luna. Tempat tinggal Yue. Mereka membicarakan Elyos yang akan kembali ke dunia mimpi esok hari waktu dunia manusia. Jika Elyos kembali, kehidupan akan kembali seperti semua.
"Semua yang terjadi tentu sudah ada dalam kitab takdir Destiny." Ice mulai bicara.
"Tapi Ice, bagaimana nasib mereka. Aku tidak bisa ikut campur dalam urusan pengantin anak dewa."
"Ya sudah biarkan saja. Mereka akan bersatu bila sudah waktunya. Ada kejutan untukmu." Bisik Fire.
__ADS_1
Yue mendengus geram melihat dua ipar itu senang sekali membuatnya penasaran.
"Mi'er...Mi'er....jangan pergi ke sana, Nak." Teriakan Luna, istri Yue membuat ketiganya menoleh. Dilihatnya seorang gadis kecil berlari ke arah paviliun Ghrian. Tanpa kesulitan berarti, Mi'er, putri Yue itu biasa dipanggil, langsung mengangkat kristal hitam yang baru saja dimurnikan oleh Ice.
Yue seketika menepuk dahinya. "Penjaganya sudah ketemu." Celetuk Fire.
"Kita tidak perlu menyeleksinya lagi. Sudah pasti lolos sensor," tambah Ice kacau.
"Alamak, kenapa juga kamu Mi'er?" keluh Yue.
"Bagus Mi'er. Biar bapakmu pusing mencarikan jodoh untukmu."
Menjadi penjaga kristal hitam, jelas harus memiliki kriteria pasangan yang lain dari pada yang lain. Di ujung sana, Mi'er tampak tersenyum senang dengan benda prisma yang baru saja dia temukan dan jadi mainannya sekarang.
Di bumi, malam merayap turun. Sia terbangun dalam dunia mimpinya. Ini aneh, sudah lama dia tidak bisa masuk ke dunia penuh warna itu. Namun hari itu dia berada di sana. Berada di sebuah dermaga, dengan seseorang seolah tengah menunggunya.
"Elyos...." Gadis itu langsung berlari ke ujung dermaga, di mana Elyos seketika tersenyum melihat Sia yang menghambur ke pelukannya.
"Hei, apa ini?" tanya Elyos, ketika Sia memeluk tubuhnya erat. Bukannya menjawab, Sia justru semakin mempererat pelukannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Sia bertanya setelah melerai pelukannya.
Senyum Elyos mengembang. "Aku baik, seperti yang kau lihat. Jangan terlalu mencemaskanku. Urusi saja dirimu sendiri itu." Ledek Elyos.
"Aku akan pergi. Aku dan Arch tidak berjodoh." Kata Sia setelah gadis itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Dari mana kamu tahu? Bahkan orang yang sudah menikah pun akan bercerai jika mereka tidak berjodoh."
"Aku tidak mau yang seperti itu. Aku ingin seperti ayah dan ibu. Hidup bersama sampai mati pun bersama....."
"Lalu meninggalkanmu sendirian. Itu tidak adil namanya." Potong Elyos cepat. Di atas sana, Destiny merengut mendengar perkataan Elyos. "Hei, aku hanya menjalankan tugas. Jangan protes padaku!" teriak dewa botak itu, seolah Elyos ada di depannya.
"Bukankah hidup ini memang sering kali tidak adil pada kita?" Sia bertanya sembari menatap mata biru milik pangeran mimpi itu.
__ADS_1
"Kau memang benar. Tapi percayalah, setelah kepahitan dan kesulitan yang kau alami, akan ada hal manis yang menunggumu."
Sia mengembangkan senyumnya. "Apapun itu, tidak masalah. Aku masih punya dirimu. Aku bisa curhat padamu tiap malam."
Hening seketika menyapa. Ada rasa sesak saat Elyos akan berucap. " Sebenarnya, malam ini aku menemuimu untuk mengucapkan selamat tinggal. Sudah waktunya aku kembali." Rasa sesak itu kian nyata. Elyos terdiam, menunggu reaksi Sia.
El pikir, Sia akan menangis, namun kenyataannya tidak. Gadis itu tersenyum. Sia menatap lekat wajah Elyos, seakan itu terakhir kali dia bisa melihat wajah tampan penuh damai itu.
"Jadi kau pun akan pergi juga?" tanya Sia terbata. Gadis itu tengah menahan tangis. Elyos mengangguk lantas menundukkan wajah. Sia melengos, tidak lagi mampu menahan laju air matanya.
"Maaf, dan juga terima kasih. Sudah menjadi rumah ternyaman untukku. Aku....."
"Bisa aku minta tolong....."
Elyos mengangkat wajahnya. Saat itulah dilihatnya Sia yang berusaha tersenyum padanya. Sia sangat sadar, dia bukan siapa-siapa. Sampai bisa menahan seorang Elyos untuk tetap tinggal di sisinya. Di sini, bersamanya. Sejak awal lagi, Sia tahu kalau suatu hari nanti semua orang akan pergi meninggalkannya. Termasuk Elyos.
Jika hari itu tiba, Sia hanya ingin melupakan hari di mana mereka pernah ada dalam kehidupannya. Sia tidak ingin kenangan itu menyiksanya.
"Kau seorang pangeran mimpi kan?" Elyos mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu, aku minta satu hal padamu sebelum kau pergi."
"Kau tidak marah padaku? Aku pergi. Apa tidak apa-apa?"
Sia menggelengkan kepalanya. "Aku hanya tempat persinggahanmu di bumi. Meski aku sangat menyukaimu. Aku sadar, aku tidak bisa menahan jika kau ingin kembali. Tapi sebelum kau pergi. Kabulkanlah satu permintaanku."
Mohon Sia, gadis itu perlahan mendekati Elyos. Dua tangannya terulur mengusap pelan wajah Elyos, mata Sia seolah tengah membingkai wajah Elyos, menempatkannya di relung hati yang paling dalam. Jemari lentik Sia lalu menangkup dua sisi wajah Elyos. Lantas gadis itu berjinjit, hingga bibir Sia bisa mencium bibir Elyos. Pria itu membelalakkan mata, tidak menduga kalau Sia akan menciumnya sedemikian rupa. Meski tidak lama, namun semua itu sangat berkesan untuk Elyos.
"Permintaanku....hapuskanlah ingatanku soal dirimu."
****
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****