In My Dream

In My Dream
Sisi Lain


__ADS_3

Sia meremas tangannya yang terkepal berulang kali. Gadis itu sungguh gugup menghadapi Irwan Wijaya yang duduk di hadapannya. Pria itu menatap tajam bergantian pada empat orang yang duduk di depannya. Sesekali menarik nafas dalam dan berat. Seolah tengah berpikir. Apa yang harus dia lakukan pada empat orang ini.


Jika Rissa bisa bersikap tenang. Sia justru sebaliknya. Ketakutan menguasai hati Sia. Dia takut kalau Irwan akan melakukan hal buruk pada Arch. Sia terus menundukkan wajahnya sejak tadi. Sampai sentuhan tangan dari Arch, membuat Sia mengangkat wajahnya. Satu senyuman Arch berikan, seolah ingin memberitahu kalau semua akan baik-baik saja.


"Jadi ada yang bisa menjelaskan kepadaku?" Irwan bertanya sembari melihat pada dua putranya yang langsung saling pandang.


"Seperti yang Papa lihat. Kami sudah memilih pasangan kami masing-masing," jawab Aro mewakili Arch dan yang lainnya. Aro kemudian menggenggam tangan Rissa. Menunjukkan kalau keduanya memang menjalin hubungan.


"Aku dan Rissa saling mencintai. Dia tidak ingin melanjutkan perjodohannya dengan Arch. Karena Arch mencintai Sia. Bukan begitu?" Aro menambahkan sekaligus bertanya.


"Aku tidak mencintai Rissa, tapi aku jatuh cinta pada Sia." Arch menegaskan perasaannya juga penolakannya pada perjodohan yang telah ayah mereka rencanakan.


Irwan menarik nafasnya kembali. "Bagaimana jika aku tidak merestui kalian?"


Keempatnya saling pandang. "Tidak masalah jika Papa tidak merestui. Mencintai dan memilih pasangan hidup adalah hak setiap orang. Tidak seorang pun bisa memaksakannya. Jika Papa tidak merestui hubunganku dan Sia. Maka aku akan melawan. Aku ingin menunjukkan kalau perasaanku pada Sia bukan bualan tapi sebuah kesungguhan." Tegas Arch menatap tajam pada sang ayah. Bukan tatapan menentang, tapi sebuah tatapan ingin dimengerti.


"Kau siap dengan konsekuensi atas pilihanmu?" tanya Irwan.


Arch sendiri sadar, pilihannya bukanlah kriteria yang ayah dan ibunya inginkan. Namun Arch bukan jenis yang akan mudah menyerah dengan keyakinan dan pilihannya. Karena itu dia siap menanggung akibat dari keputusannya.


Di sisi Sia, gadis itu jelas merasa bersalah karena membuat Arch berselisih paham dengan sang ayah. Dia sadar dengan dirinya.


"Jangan melawan papamu," mohon Sia. Keduanya tengah berjalan di sebuah jalanan setelah Arch mengajak Sia pergi dari hadapan Irwan.


"Aku tidak melawannya. Aku hanya ingin dia menghormati keputusan, juga pilihanku. Common Sia, aku sudah dewasa untuk menentukan jalan hidupku. Aku tidak keberatan melepas semua yang aku punya. Dan aku harap kamu tidak keberatan hidup susah denganku," kata Arch sambil menatap dalam kedua mata Sia.


Untuk beberapa waktu keduanya saling diam.


"Aku sudah biasa hidup susah. Kamu yang tidak biasa hidup miskin," lirih Sia.


"Nyatanya kita bisa hidup dua bulan kemarin. Dengan kerja jadi pencuci piring. Bahkan dengan standar makanku yang tidak aku turunkan sama sekali." Balas Arch cepat.


Dia hanya ingin Sia bersedia berada di sampingnya. Bersama, Arch yakin kalau mereka bisa mengatasi segalanya.


"Lalu Dreamaker bagaimana?" Sia mencemaskan perusahaan besar itu.


"Akan ada yang mengurusnya. Mereka tidak akan membiarkannya bangkrut. Percaya padaku." Kata Arch, menarik tangan Sia, berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


*


*


"Kalian lihat. Betapa gegabahnya dia. Adikmu itu sama sekali tidak mau mendengarkan omongan orang tua sampai habis. Selalu memotongnya lalu ditinggal pergi."


Gerutu Irwan pada Aro dan Rissa yang masih berada di depannya. Aro sendiri akhirnya paham dengan maksud sang ayah. Pria itu tidak ingin anak-anaknya salah memilih pasangan hidup.


Untuk kasus Aro dan Rissa, Irwan sama sekali tidak keberatan, asal Aro dan Rissa saling mencintai. Perjodohan bisa dibicarakan kembali. Bahkan untuk Arch, Irwan tidak masalah jika Sia adalah pilihan sang putra. Silsilah keluarga Sia sangat baik. Tidak ada cacat ataupun kekurangan dalam keluarga Sia.


"Papa tahu Arch bukan?" sahut Aro cepat.


"Yang Papa takutkan adalah dia hanya akan membawa Sia dalam kesusahan. Papa tidak suka ya, kalian memilih seorang wanita hanya diajak hidup susah. Rissa, mungkin hidupmu tidak menderita secara ekonomi. Meski Om tahu, kamu tidak suka dengan aturan keluargamu yang memang bejibun."


Rissa tersenyum mendengar penuturan Irwan. Dia tidak percaya jika ayah Aro itu begitu pengertian.


"Jadi bisa bawa aku keluar dari sana?" kata wanita itu tiba-tiba.


"Kode tu Aro, kode!" Irwan berucap setengah bercanda pada sang putra.


"Secepatnya," bisik Rissa malu-malu. Wajah Aro bersemu merah. Kenapa Rissa jadi lebih agresif sekarang.


"Temui ayahmu dulu. Katakan soal perasaanmu. Jika kalian sudah bicara, nanti Om akan membantu kalian menjelaskan." Senyum mengembang di bibir Aro dan Rissa. Ternyata Irwan tidak sekaku yang mereka bayangkan.


"Lalu bagaimana dengan Arch. Dengan sifatnya, dia akan memilih pergi. Padahal WO ini jadi kebanjiran klien sejak Arch yang pimpin." Tutur Aro setelah ada keheningan di ruangan itu.


"Itulah adikmu. Padahal Papa tidak akan mengusirnya. Kalau dia mau dengan Sia ya terserah, toh Sia anak baik. Yang Papa khawatirkan, tu anak cuma buat susah Sia saja. Tahu sendiri kalau Arch makannya ribet banget."


"Apa iya Om?" Rissa malah baru mendengar hal itu.


"Dia tipe pemilih dan tidak bisa ditawar. Tapi nyatanya Sia bisa menghandle soal makanan Arch dua bulan mereka tinggal bersama."


"Oh iya, mereka pernah tinggal seatap," tambah Irwan.


Rissa membulatkan mata, mendengar fakta terbaru soal Arch dan Sia.


*

__ADS_1


*


Dua hari berlalu sejak kejadian terungkapnya dua pasang kekasih itu oleh Irwan. Aro sudah menghubungi Arch berkali-kali. Meminta pria itu kembali ke Dreamaker. Sebab En keteteran jika bekerja sendiri. Namun Arch yang masih jengkel masih enggan untuk kembali ke kantor. Arch memang keras kepala.


Pria itu masih menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di kasur di apartemennya. Sebenarnya Arch hanya mengambil rehat sejenak, jika sang papa memang tidak mengeluarkannya dari kantor.


Sementara Sia, gadis itu bekerja seperti biasa. Sebab satu hari Sia libur, managernya sudah menghubungi, meminta Sia untuk tidak lama-lama mengambil cuti. Jadi terpaksalah Sia masuk kerja. Gadis itu merasa tidak enak hati pada keluarga Wijaya. Dia merasa menjadi penyebab ayah dan anak itu berseteru.


"Kau tidak akan menghalangi keinginanku untuk menikahi Sia kan?" Arch bertanya pada Elyos yang kini berdiri di sampingnya. Di balkon apartemen milik Arch, suatu malam.


Raga Elyos perlahan pulih, meski belum seratus persen. Keduanya tengah menatap langit malam dengan bulan purnama bersinar terang. Kuil mimpi memberikan cahaya penuh pada bulan saat bulan purnama.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan mencampuri takdir kalian. Kalian dan aku punya garis hidup masing-masing yang sudah ditetapkan oleh langit." Jawab Elyos pelan. Tidak ada rasa marah dalam diri Elyos.


"Apa itu benar? Kalau kami semua ini punya takdir yang sudah langit berikan." Untuk manusia modern, akan terdengar tidak masuk akal soal kaisar langit atau makhluk lain selain manusia. Namun ternyata ada, satu sedang berdiri di hadapan Arch. Berbincang dengannya.


"Percaya atau tidak. Ada kehidupan lain selain dunia manusia. Dunia manusia hanya satu dari tiga dunia yang ada dalam kehidupan ini."


Penjelasan Elyos cukup membuat geleng-geleng kepala Arch. Dia benar-benar belum bisa menerima hal tidak masuk akal itu.


"Lalu bagaimana dengan nasibmu. Kau bilang menyukai Sia tapi tidak bisa memilikinya."


Elyos seketika melayangkan tatapan mata birunya pada Arch. "Apa kau ingin aku merebutnya darimu?" tanya Elyos tajam.


Arch melongo melihat mode galak on dari Elyos. Cukup mengerikan saat mengetahui kalau Elyos bisa bereaksi cukup ekstrim jika menyangkut Sia.


"Pangeran mimpi ini ternyata menyeramkan juga," batin Arch.


Seringai terbit di bibir Elyos. "Kau akan terkejut melihat sisi diriku yang lain."


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2