
Alicia mengeplak lengan Arch setelah mendengar satu perkataan konyol keluar dari bibir pria tampan itu. Satu tatapan dari Arch dengan kode "apa" Alicia terima. "Apa maksudmu?"
"Masih nanya, sudah jelas dong. Jika kamu mau membuktikan kalau kamu bisa punya anak. Kamu harus mencobanya dengan orang lain. Denganku misalnya. Aaadduuhhhh......" Arch meringis setelah tangan Alicia mencubit pinggangnya, disertai pelototan mata penuh peringatan.
Dan interaksi manis itu tertangkap mata oleh Rei dan Hendry. Jika Rei begitu marah karena tidak suka. Hendry justru diam-diam mengulum senyum. Mengabaikan berkas yang ada di hadapannya, pria itu lebih tertarik melihat Alicia dan Arch yang sibuk dengan rasa masing-masing. Arch kesakitan dan Alicia dengan rasa jengkelnya.
Braakkkk
Suara dokumen yang digebrakkan di atas terdengar. "Apa ini?" tanya ayah Rei dengan wajah merah padam.
"Apa perlu saya jelaskan tuan Altezza?" tanya Arch melirik ke arah Rei. Rei yang tadinya tidak peduli dengan dokumen itu, kini merebutnya dari tangan sang ibu, yang seolah shock dengan apa yang baru saja dia ketahui.
"Rei tidak mampu meniduri Alicia. Dengan kata lain yang bermasalah dalam kesehatan sekssuaalll mereka adalah Rei."
"Kau bohong!" Rei membuang dokumen itu lalu merangsek maju. Mencengkeram leher Arch. Semua panik melihat tindakan Rei. Baru kali ini melihat sisi lain dari seorang Rei. Ibu Rei sampai membekap mulutnya sendiri. Tidak percaya dengan sifat asli Rei yang selama ini dia kenal sangat baik dan lembut pada semua orang.
"Wooohhh santai bro. Kan aku cuma mau menunjukkan siapa yang bermasalah dalam hal ini. Anda lihat, hasil pemeriksaan Alicia sangat bagus. Dia bisa hamil kapan saja dia mau. Masalahnya mau hamil bagaimana jika putra kalian gak bisa nembak. Apa dia perlu selingkuh untuk membuktikan dirinya bisa punya anak. Alih-alih selingkuh, dia memilih diam. Menelan semua tuduhan mandull itu sendirian. Menerima treatment seperti wanita yang susah punya anak."
Cekalan tangan Rei melemas. Saat Alicia mulai terisak lirih di samping Arch dengan tangan mencoba melepaskan tangan Rei dari leher Arch.
"Anda sebagai wanita, tentu bisa merasakan hal yang sama. Bagaimana jika tuduhan itu datang pada Anda, padahal anda baik-baik saja. Yang bermasalah suami anda. Pikirkan itu. Dua tahun tanpa sadar kalian menilai Alicia mandull, merendahkannya, diam-diam mencemooh. Padahal bukan dia akar permasalahannya. Tapi dia biang keroknya!"
Bugghhhh
Aarrghhhh
Semua orang menjerit saat Arch memukul Rei. Ayah Rei bahkan langsung melompat untuk melindungi Rei. "Itu untuk kelakuanmu yang berani mencekik Alicia."
Ibu Rei menutup mulutnya, lagi-lagi tidak percaya dengan fakta yang ada. Semua itu berhenti saat suara tangis Alicia mendominasi ruangan itu. Arch dengan cepat berbalik, lalu memeluk gadis itu. Menyembunyikan tangis Alicia di dadanya.
"Kalian lihat! Bahkan di depan kita, mereka berani menunjukkan kelakuan menjijikkan mereka. Mereka selingkuh Pa....!"
__ADS_1
"Cukup Rei!" Tatapan tajam dari ayah Rei membuat suami Alicia itu diam. Ayah Rei mengusak wajahnya kasar. Inilah wajah sebenar dari pernikahan putranya. Penuh air mata di satu sisi dan keegoisan di sisi lain. Bisa ayah Rei lihat, Alicia yang menangis pilu dalam dekapan Arch. Ditambah bekas kebiruan di leher Alicia. Hal yang membuktikan visum itu benar adanya.
*
*
Alicia termenung di kamarnya. Sejak kejadian hari itu, gadis itu lebih suka mengurung diri di kamar. Surat gugatan cerai sudah Hendry Alou ajukan. Pria itu tidak peduli saat Rei mengancam akan mem-pailitkan usaha keluarga Alou, jika Alicia berani minta cerai.
Satu kalimat dari Hendry membuat papa Rei malu dengan kelakuan Rei. "Aku berharap memberi kebahagiaan pada Alicia. Ternyata aku salah, aku hanya memberi air mata dan kepedihan pada putri tunggalnya. Sekarang jika hartaku bisa membebaskan Alicia. Ambillah. Asal senyum putriku kembali, aku rela."
Hendry sendiri yang pergi ke pengadilan untuk melayangkan permintaan perpisahan itu. Dengan seorang pengacara yang Arch sediakan. Pengacara yang lain takutnya tidak berani menghadapi keluarga Altezza. Namun pengacara yang ini beda, sebab dia adik Rissa, jadi melawan keluarga Altezza, dia senang-senang saja.
"Alice, makan yuukkk." Suara Fex terdengar di telinga Alicia. Gadis itu hanya menoleh sebentar lalu kembali melamun. Fex menarik nafasnya berat. Asisten Alicia itu lantas ikut duduk di sebelah Alicia.
"Gak lihat dia datang?" Fex berujar sambil memainkan ponselnya.
"Ngapain? Aku sudah bilang jangan datang dulu. Nanti orang bilang dia pebinor lagi."
Alicia memicingkan mata. "Kamu yang memberitahu dia?"
"Gaklah, dia tahu sendiri. Aku cuma dekat sama Neo, tapi kami gak pernah ngobrolin soal masalah kamu. Sueeeeerrr." Tatapan tajam penuh selidik, Fex terima dari Alicia. Cukup curiga dengan temannya yang satu ini.
Keduanya diam, dengan Alicia kembali masuk ke lamunannya. Sampai, suara Hendry membuat dua gadis itu menoleh.
"Alice, Arch ada di bawah. Mau bertemu katanya."
Alicia kembali memeluk lututnya. Dia enggan menemui Arch.
"Ini soal design-mu," Fex berbisik di telinga Alicia. Mata Alicia membulat mendengar soal design. Dia sudah menabung cukup lama untuk mewujudkan mimpinya. Tanpa pikir panjang, Alicia melesat keluar dari kamarnya. Dia tidak sadar dengan tank top dan hot pants yang melekat di tubuhnya.
Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Arch melihat tampilan Alicia. "Busyet, janda rasa perawan ini sengaja mancing atau gimana sih?" Arch jadi salah tingkah sendiri saat disuguhi paha mulus, ditambah belahan dada Alicia yang terlihat penuh.
__ADS_1
"Cobaan gue berat benget sih. Cuma pengen mastiin design aja, kek mau nyari kitab suci ke barat." Lagi-lagi Arch membatin bingung.
"Mana design yang sudah jadi."
"Errrr... aku kasih lihat setelah situ ganti baju." Arch membalas malu-malu meong. Dilihat dosa, dianggurin sayang.
Alicia melihat ke arah dirinya. Detik berikutnya, gadis itu melesat naik ke kamarnya kembali dengan bibir sibuk mengumpat Arch.
"Yey, kamu yang salah kenapa aku yang kena marah." Arch menyahut santai setelah Alicia duduk kembali di depannya. Memakai gaun rumahan untuk menutupi tank top dan hot pantsnya. Alicia hanya bisa memanyunkan bibirnya. Sadar dia tidak bisa menyalahkan Arch.
"Ni, kayak gini bukan?" tanya Arch sambil mengangsurkan tiga lembar kertas berisi design yang sudah Arch sempurnakan. Beberapa waktu berlalu, Alicia nampak berkaca-kaca melihat hasil gambaran Arch. Tidak percaya jika pria itu tahu yang dia inginkan.
"Cantik sekali."
"Gedung sekolahnya akan memutari taman itu. Jadi tamannya akan jadi icon dari sekolah itu. Ada apa di taman itu."
Arch bertanya sebab Alicia sudah menggambar taman itu lebih dulu. Terlihat jika taman itu begitu berarti untuk gadis yang sebentar lagi akan menyandang status janda tersebut.
"Hal paling indah yang pernah ada dalam hidupku. Meski hanya tinggal kenangan aku dan ayah akan menjaganya. Ada makam ibuku di sana."
Arch seketika mengangkat wajahnya, menatap Alicia yang kini menangis sambil memeluk kertas design milik Arch. Kerinduan itu jelas terlihat di mata Alicia. Satu hal yang seketika membuat Arch sadar, Alicia dan Sia sangat bertentangan. Sia sangat tegar saat dia harus hidup seorang diri. Sedang Alicia begitu rapuh, meski masih ada Hendry di samping Alicia.
"Wajah sama, tubuh sama namun mereka jelas dua pribadi yang berbeda. Apa aku mulai melupakanmu dan menerima Alicia sebagai gantimu, Si..."
*****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
*****
__ADS_1