
Ada nada sendu, saat Sia mengatakan permintaannya. Meski begitu Elyos juga berpikir kalau itu adalah cara terbaik untuk membuat hidup Sia lebih baik. Menghapus ingatan Sia soal dirinya.
"Aku akan mengabulkannya. Tapi sebelum itu, dengarkanlah. Aku sangat berterima kasih padamu. Sudah menjadi tempat bernaung untukku. Semoga hidupmu selalu bahagia bersama Arch."
Sia tersenyum getir, karena setelah semua ini berlalu, dia akan pergi menjauh dari Arch. Sesuai janjinya pada Irwan Wijaya.
"Terima kasih juga sudah mau jadi temanmu. Walau aku tidak bisa mengingatmu. Aku harap kau selalu baik-baik saja, di manapun kau berada."
Sia mulai terisak, saat Elyos mengangkat telunjuknya. Ujung jari itu bersinar terang, terlebih setelah ditempelkan di dahi Sia.
"Selamat tinggal, Elyos."
Air mata Elyos pun turut mengalir, saat perlahan dia mengecup kening Sia, sebelum tubuh gadis itu menguar, menghilang dari hadapannya. "Aku sadar, rasaku padamu tidak mendapat restu dari langit. Karena itu aku merelakanmu pergi bersama rasa cintaku. Untuk selanjutnya, aku akan menunggumu kembali, Dewi. Menjalankan takdir yang sudah mereka berikan padaku."
Batin Elyos, menatap langit malam yang bertabur bintang di dunia mimpi Sia. Tanpa dia sadari, En sudah berdiri di sampingnya.
"Pergi sekarang?" tanya pria itu.
"Urusanmu sudah selesai?"
En mengangguk. Sebelum pergi, En juga harus menghapus jejaknya di dunia manusia. En sudah membaur dengan manusia, jadi pria itu harus menghilangkan ingatan semua orang yang pernah berinteraksi dengannya. Terutama Abby.
"Kau sedih karena harus meninggalkannya?" En bertanya, melihat wajah sendu Elyos.
"Kita bisa apa? Kau pun sama."
Keduanya menarik nafas bersamaan. Hening sesaat menyapa mereka. Sampai perkataan En membuat Elyos menurut.
"Waktunya pergi."
Sebuah portal terbentuk di atas mereka. Elyos menghembuskan nafasnya. Sepasang sayap muncul di punggung keduanya. Satu kepakan, Elyos dan En terbang menuju pintu yang akan mengantarkan mereka, kembali ke dunia mimpi.
"Selamat tinggal Sia."
***
Arch berlari keluar dari apartemennya. Sepucuk surat Sia tinggalkan di atas meja. Gadis itu pamit pergi pada Arch. Pria itu tentu saja bingung dengan tingkah Sia. Bukankah kemarin hubungan mereka baik-baik saja. Kenapa hari ini, gadis itu menghilang.
Pri itu menghubungi asistennya, seorang pria yang sudah disiapkan En untuk menggantikannya.
"Hei, bisa kau carikan Sia. Dia menghilang pagi ini." Jawaban iya, langsung Arch dapat dari ujung sana.
__ADS_1
"Kau ini ke mana sih?" lirih Arch sambil masuk ke dalam mobilnya. Melajukannya menuju rumah Sia. Tempat pertama yang jadi tujuannya.
Di tempat lain, Sia nampak menggeret kopernya, berjalan menuju ke makam ayah dan ibunya. Sampai di sana, Sia langsung memeluk makam ayah dan ibunya bergantian. Beberapa saat Sia berada di sana. Mencurahkan isi hati gadis itu. Semua adalah pilihan Sia, jadi dia tidak menyesal sedikitpun. Sia sama sekali tidak ingin menganggu kebahagiaan keluarga Wijaya.
"Apa yang kulakukan salah Bu?" lirih Sia. Gadis itu membaringkan tubuhnya di sebelah makam orang tuanya. Beberapa saat kemusian, Sia tertidur.
Tak berapa lama, seorang pria datang mendekati Sia. Mengangkat tubuh gadis itu. Lantas membawanya pergi dari sana. Dengan seorang pria lain menarik koper Sia. "Baru kali ini aku menemui seorang gadis yang sangat bodoh," gumam pria itu.
"Tapi kebodohannya berhasil membuat dia berkata iya." Pria yang menggendong Sia hanya mengangguk. Keduanya masuk ke mobil, lalu pergi dari tempat itu.
Awan gelap yang berarak di langit, mulai menurunkan muatannya. Hujan seketika membasahi kota.
Di jalan raya, Arch masih sibuk mencari Sia. Pria itu baru saja keluar dari rumah gadis itu. Namun nihil, Arch tidak menemukan keberadaan Sia di sana. Arch juga sudah menghubungi Abby. Wanita itu berkata tidak tahu di mana Sia.
"Haiisshh, ke mana sih dia ini sebenarnya."
Si asisten sudah mengunjungi makam orang tua Sia. Lagi-lagi zonk. Hanya ada bunga mawar merah yang masih segar, menandakan kalau ada yang baru saja berkunjung. Bisa dipastikan itu Sia. Selebihnya jejak Sia tidak ditemukan di manapun.
Arch masih berputar-putar di jalanan ibu kota, sampai satu pesan masuk ke ponsel Arch. Pria itu langsung mengumpat marah. Dengan segera, Arch melajukan mobil menuju rumahnya, kediaman Wijaya.
"Terakhir kali Sia terlihat bertemu papamu di restaurant XX."
"Iisshh, maunya papa ini apa sih?"
Arch membanting pintu mobilnya kasar. Berlalu masuk ke rumahnya. "Pa..Papa, aku ingin bicara."
Teriak Arch begitu berada di dalam rumah.
"Ada apa sih teriak-teriak. Gangguin orang tidur!" mama Arch mengomeli sang putra. Di tangan wanita itu ada secangkir teh, dan mama Arch baru saja keluar dari kamar tamu. Kamar yang jarang ada penghuninya.
"Papa ma, Papa keterlaluan. Dia pasti yang membuat Sia pergi. Memang apa sih salahnya Sia. Dia itu gadis baik, gak matre, pekerja keras. ..."
"Beuuhh, yang bucin akut." Ledek Aro yang baru turun dari lantai dua.
Arch mendelik mendengar ejekan sang kakak. Aro sekarang bisa tenang. Keluarga Atmaja sama sekali tidak menentang hubungannya dengan Rissa. Bahkan keluarga Rissa meminta pernikahan Rissa dan Aro dipercepat. Hingga sekarang ini, dua orang itu sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan Mereka.
"Kakak happy-lah, gak ada yang gangguin hubungan Kakak. La aku," protes Arch.
"Jangan protes dulu. Sekarang temui papa dan bicarakan baik-baik dengannya. Siapa tahu kita bisa barengan nikah. Gak ada iri-irian."
Tanpa menunggu lagi, Arch langsung melesat masuk ke ruang kerja sang Papa. Meninggalkan Aro yang bertanya tanpa suara pada sang Mama.
__ADS_1
"Bagaimana?"
Dan sang mama menjawab dengan kode sedang tidur. Aro membulatkan mulutnya, mengekspresikan ooooo. Keduanya lantas berlalu menuju dapur.
"Memang tidak masalah jika pernikahan kalian digabung. Rissa bagaimana?"
"Justru ini usulan Rissa. Dia merasa bersalah pada Sia, dulu dia pernah membencinya karena dikiranya Sia merebut Arch."
Giliran mama Arch yang ber-ooo ria. Mama dan anak itu, lantas menatap ke arah pintu di lantai dua. Di mana ruang kerja Irwan berada.
"Kira-kira, mereka gelud gak ya?" Aro mengutarakan kecemasannya.
"Pastilah, apalagi Arch lagi on fire, merasa si papa gak merestui hubungannya sama Sia."
"Tu anak bawaannya curiga melulu."
Wanita itu setuju dengan pendapat sang putra. Keduanya baru saja akan menikmati acara minum teh mereka, ketika seorang ART keluar dari kamar tamu. Mendekati sang nyonya dengan wajah panik.
"Nya...Nyonya...mbaknya yang di kamar itu..."
Dua orang itu langsung berdiri setelah mendengar laporan dari asisten rumah tangga mereka.
"Beritahu mereka. Mama akan memeriksa keadaannya."
Aro mengangguk paham. Pria itu juga menyarankan untuk memanggil dokter jika perlu. Mama Arch mengangguk paham.
Aro merangsek masuk ke ruang kerja Irwan. Di mana sang adik sedang adu debat dengan papa mereka.
"Sudah, jangan marah lagi. Aku tahu Sia di mana."
Kata Aro enteng. Giliran si papa yang melotot kesal pada putra sulungnya.
"Darurat, Pa. Kalau gak dikasih tahu. Dia nanti ngamuk beneran."
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
*****
__ADS_1