
Sia merobek kertas yang berisi perintah mutasi dirinya ke bagian design dan konsep. Wanita itu seketika menatap penuh ancaman pada Arch yang duduk di hadapannya.
"Jangan pernah bersikap sok baik di hadapanku. Kita tidak saling kenal. Hubungan kita hanya sebatas bos dan kuli."
Arch seketika mengetatkan rahangnya, dia tentunya harus bisa menebak kalau Sia akan menolak usulannya untuk pindah ke bagian design dan konsep. Pria itu hanya ingin Sia bekerja dengan tenang. Divisi design dan konsep tidak berurusan dengan banyak orang. Mereka hanya perlu mewujudkan konsep dari klien yang masuk. Atau mereka membuat konsep yang mungkin saja disukai klien.
"Tapi Si...Nona Fantasia, ini peluang yang bagus untuk mengembangkan bakatmu. Lagi pula kamu punya basic design di sini." Arch mencoba membujuk. Bagaimana bisa baru dua bulan ditinggal, sifat Sia sudah berubah jadi keras kepala begitu.
"Design baju bukan design interior atau yang seperti itu." Balas Sia.
"Sama saja kali."
Sia mendelik, mendengar gaya bicara Arch yang kembali seperti biasa. Seperti saat mereka masih satu rumah. Gadis itu semakin curiga akan sosok Arch.
"Dia itu sebenarnya siapa sih? Berlagak gak kenal tapi sikapnya sok kenal. Membagongkan." Gerutu Sia kembali ke mejanya, sebelum gadis itu pergi ke venue pernikahan.
Arch menghembuskan nafasnya kasar. Pria itu sungguh pusing menghadapi Sia. Dia sangat ingin membantu gadis itu terang-terangan. Namun dia takut jika sang ayah akan menyakiti Sia. Terlebih sikap Sia yang sekarang memusuhinya.
"Haish, lama-lama gue hancurin juga ni gedung." Maki Arch kesal.
"Kenapa kamu?" Tanya En yang baru saja masuk ke ruangan Arch. Bukannya menjawab, Arch malah memanyunkan bibir sambil meraih berkas untuk dikerjakannya.
Sementara itu, Irwan Wijaya terpingkal-pingkal mendengar laporan dari tangan kanannya, Sam. Sam menceritakan bagaimana Aro yang sibuk nguber Rissa dan Arch yang puyeng karena dimusuhi Sia.
"Ha...ha..bisa kubayangkan bagaimana pusingnya mereka. Ini menarik." Kata Irwan sambil memegangi perutnya.
"Oh iya, Tuan. Orang-orang kita melaporkan kalau Ayla merencanakan pulang ke sini setelah tugas di Turki selesai." Laporan Sam membuat tawa Irwan berhenti. Sudah dia duga. Wanita matre itu tidak akan merasa cukup, bahkan setelah dia membantunya dalam banyak hal.
"Awasi saja terus dia. Kalau dia macam-macam atau mencoba mendekati Aro lagi. Kita tunjukkan saja belangnya selama kuliah di luar negeri."
Sam mengangguk paham. Sepertinya Ayla tidak paham dengan peringatan Irwan. Pria itu sudah mengatakan agar tidak kembali ke negara ini. Tapi rupanya Ayla tidak mengindahkan perkataannya. Padahal Irwan sudah setuju jika Aro dengan Rissa. Meski judes dan menyebalkan, gadis itu tahu sopan santun pada orang tua. Dan tidak punya track record yang buruk. Rissa termasuk gadis yang menjaga diri dari pergaulan yang menyesatkan.
*
__ADS_1
*
Sia menoleh ke kiri dan kanan. Gadis itu pulang terlalu malam dari venue pernikahan kliennya yang terletak di pusat kota. Di tempat itu bus hanya lewat sampai pukul enam. Selebihnya hanya ada taksi dan itupun jarang. Kecuali ada taksi yang menurunkan penumpangnya di hotel itu, Sia harus berjalan ke jalan raya yang lumayan jauh untuk mendapatkan taksi.
Beberapa staf masih berada di dalam venue, untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Pada akhirnya Sia memutuskan untuk berjalan menuju jalan raya. Beberapa kali, Sia menghembuskan nafasnya kasar. Malam semakin larut dan bulan sudah mulai nampak di langit malam.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di hadapan Sia. Si pemilik mobil langsung keluar dari mobilnya. "Masuklah, aku antar pulang." Suara itu terdengar lain di telinga Sia. Suara itu adalah suara yang sangat Sia rindukan selama ini.
"Tidak mau!" tolak Sia. Seulas senyum terukir di bibir pria itu. Seperti sifat aslinya, Elyos tidak pernah bisa marah pada Sia. Bagaimanapun sikap gadis itu padanya.
Melihat Arch yang hanya berdiam diri tanpa bicara membuat Sia jengkel. Gadis itu beranjak pergi dari hadapan Arch. Meski tak berapa lama, langkah Sia terhenti saat Arch memeluknya dari belakang. Jantung Sia berdebar sangat kencang. Saat Arch meletakkan dagunya di bahu Sia.
"Lepaskan!" Sia berontak dari pelukan Arch.
"Biarkan saja. Lima menit lagi." Deg, jantung Sia serasa berhenti. Suara itu, juga aura yang Sia rasakan, ini bukan Arch, tapi Elyos. Sia berusaha membalikkan tubuhnya tapi Arch tidak mengizinkan. Pria itu justru mendekap Sia semakin erat. Rasa rindu tersebut jelas terungkap lewat pelukan yang seketika membuat tubuh Sia merasa nyaman. Untuk beberapa waktu keduanya hanya diam. Entah apa yang dua orang itu rasakan.
"El...." Baru saja Sia akan berucap, Arch melerai pelukan mereka. Tanpa kata, pria itu menarik tangan Sia. Lantas memaksa gadis itu masuk ke mobilnya.
"Arch...aku tidak mau!" Dalam satu kedipan mata, bola mata biru Elyos berubah menjadi manik hitam milik Arch. Untuk sesaat, Arch merasa blank. Tidak mengingat apapun. Hingga dia menangkap sosok Sia yang duduk dengan wajah manyun di sampingnya. Saat itulah Arch teringat tujuannya datang ke tempat ini. Menjemput Sia. Meski beberapa detik lalu dia tidak ingat apa yang sudah dia lakukan.
"Arch turunkan aku!" teriak Sia.
"Diam dan duduklah." Untuk satu atau dua jam ke depan, Arch berani mengambil resiko untuk bertengkar dengan papanya. Tapi Arch tidak peduli. Dia hanya ingin bersama Sia.
Di sisi lain, tampak Abby yang tengah mengamuk pada En. Pasalnya pria itu berhenti bekerja tanpa memberitahunya. Terlebih sekarang, En bekerja dengan Arch. Pria yang sedang Sia musuhi.
"Bagaimana bisa kau sekarang malah bekerja dengan Arch." Maki Abby sambil memukuli lengan En. Pria itu hanya bisa beringsut menjauh, menghindari serangan Abby. Mereka sedang berada di kafe tempat biasa mereka makan, tapi kali ini En diperintahkan untuk memesan ruang VIP. Hingga kini Abby dan En sedang berada di sana.
"Aduh By, sakit. Jangan mukul dong. Cium kek." Kata En konyol. Cium? Berapa ratus tahun dia hidup. Namun belum pernah pria itu berciuman. Bersentuhan dengan lawan jenis saja, baru dengan Abby ini.
"Malah makin ngaco ngomongnya!" Bentak Abby tanpa mengurangi frekuensi pukulannya pada En. Lama-lama En gemas juga dengan ulah Abby. Hingga tiba-tiba pria itu menahan tangan Abby yang hendak memukulnya lagi. Detik berikutnya pria itu mendorong tubuh Abby, hingga jatuh di atas sofa. Setelahnya En mengungkung tubuh Abby.
Gadis itu jelas kelabakan dengan posisi mereka. Pasalnya beberapa kali Abby menangkap basah En yang tengah bertelanjang dada di kontrakan mereka. Dada bidang berotot dengan deretan abs terpahat sempurna di tubuh En. Abby menggigit bibirnya kala ingatan itu menyergap otaknya.
__ADS_1
Sementara En, pria itu sesaat merasa jantungnya berdegup kencang. Pria itu perlahan menurunkan tubuhnya. Mengikuti insting pria yang mulai mengambil alih pikirannya.
"Mau apa?" tanya Abby gugup. En tersenyum, mendengar jantung Abby yang berdetak tak kalah cepat dari miliknya.
"Kenapa jantungmu kayak habis maraton keliling kota, By?" tanya En lirih. Wajah pria itu hanya beberapa senti di atas wajah Abby. Bertumpu pada dua tangannya, En berusaha tidak menindih tubuh langsing Abby.
"Siapa yang maraton? Kamu kali yang abis ngegym, uuppsss." Abby langsung memanyunkan bibirnya, keceplosan karena sering melihat En yang sedang ngegym di lantai 3 kontrakannya bersama yang lain.
Tawa En hampir meledak. Dia sebenarnya tahu, wanita yang tengah dia tindih ini ada rasa padanya. Hanya saja dia tidak ingin membawa diri dalam hubungan yang jelas hanya akan menyakiti Abby. Namun saat ini, sepertinya dirinya juga tidak sanggup menahan diri untuk tidak mengecup bibir Abby yang telah lama menggodanya.
"Apa kamu penasaran dengan rasanya?" goda En.
"Rasa apa?" kepo Abby.
"Berciuman denganku?" En, tentu bisa tahu apa yang ada di kepala Abby. Dengan kekuatannya, dia bisa melihat pikiran beberapa orang. Tidak semua orang.
"Kau ini ternyata mesum ya..mmmpph." Suara Abby tenggelam saat En menempelkan bibirnya di bibir Abby. Manis...baru juga menempel rasanya sudah membuat jiwa keduanya meronta-ronta. Beberapa saat dua pasang mata itu saling pandang. Hingga En kembali menurunkan wajahnya. Kali ini melummatt bibir tebal Abby, menuntaskan rasa penasaran dalam diri pria itu akan rasa ciuman.
Mengikuti kelebatan pikiran Abby, En mulai memagut dan menggerakkan bibirnya. Memainkannya sesuai keinginan Abby yang langsung membalas tiap pagutan yang En berikan.
"Ini sensasional. Rasanya sungguh membuatku candu." Pekik Abby dalam hati. Enam bulan menjomblo membuat Abby lumayan merindukan sentuhan seorang pria. Dan En adalah pria yang beberapa waktu terakhir ini memenuhi pikirannya.
***
Kredit Pinterest.com
Abby dan En ya guys.
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
***