
Sebuah ledakam terjadi di daratan ujung utara bumi. Seth tertawa puas. Istana kristal hitamnya tumbuh semakin besar. Sebentar lagi akan menutupi wilayah itu. Ledakan tadi adalah hasil dari benturan sisi kristal hitam dengan medan elektromagnet yang mengelilingi tempat tersebut.
Pria itu berbalik, saat seseorang masuk ke istananya. Larc, kini telah bergabung dengan Seth. Meninggalkan Dark Castle, Larc kembali pada tuannya.
"Kekuatanmu meningkat pesat." Ada pujian tersirat dalam ucapan Larc.
Seth menyeringai puas. Taktiknya berhasil membuat manusia bermimpi buruk dan memberikan energi negatifnya pada kristal hitam. "Bukan hanya kekuatanku. Tapi kekuatan kristal hitam juga. Sebentar lagi, aku bisa menguasai kota ini. Lalu bumi ini."
Pria itu mengangkat tangan, asap kehitaman menguar dari kepalan tangannya. "Pergilah, dan buatlah para manusia itu bermimpi buruk." Asap itu menguar, memudar lantas menghilang dari hadapan Seth. Tak perlu waktu lama, terdengar jerit tangis ketakutan masuk ke telinga Seth. Pria itu menoleh ke arah prisma krista hitam miliknya.
Prisma itu tumbuh semakin tinggi dengan energi negatif yang kian besar terasa. Seth tampak puas dengan hasil kerjanya. Sampai suara Larc mengganggu kesenangan Seth.
"Aku menangkap pendar kristal Amethyst belum lama ini." Lapor Larc.
"Dia kembali?" tanya Seth. Pria itu tahu benar siapa pemilik benda itu, penjaga kuil mimpi.
"Aku belum pasti. Tapi kau tahu artinya jika kristal Amethyst dan kristal mimpi bersatu."
"Kristal Amethyst adalah kunci untuk kristal mimpi. Jika benda itu kembali bisa dipastikan jika energi kristal mimpi akan semakin besar dan itu bisa menghidupkan Elyos lagi."
"Apa kau takut?" tanya Larc.
"Tentu saja tidak! Dengan kekuatanku sekarang, aku bisa mengalahkan Elyos, bahkan jika Dewi Amethyst ikut melawan."
"Kau belum pernah bertemu Dewi Amethyst?"
Seth menggeleng pelan. Ujung bibir Larc melengkung membentuk lengkungan. "Kau akan jatuh cinta padanya jika kau bertemu dewi itu."
Seth berdecih pelan. Jatuh cinta? Tidak ada kata itu dalam kamus hidupnya.
__ADS_1
"Jangan sombong dulu. Amethyst seperti Amor untuk dunia mimpi. Kecantikan keduanya seimbang. Jika takdir Amor milik Dewa Api, Fire. Maka takdir Amethyst masih misteri sampai saat ini. Dewi itu tidak pernah terlihat di kuil mimpi sejak lama. Ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Ada yang bilang kalau takdit Amethyst adalah milik penjaga kristal mimpi." Larc menyudahi dongengnya.
Seth tersenyum mengejek mendengar cerita Larc yang menurutnya hanya omong kosong saja.
"Aku tidak akan jatuh cinta." Seth menjawab tegas.
"Bagus kalau begitu. Jangan sampai kau berubah pikiran saat bertemu Dewi Amethyst."
**
Cherry mengamuk ketika suatu hari wanita itu datang ke kantor Dreamaker. Bermaksud mengerjai Sia lagi. Niat Cherry nyatanya tidak akan pernah terwujud. Sebab Sia sudah dipindahkan ke divisi lain. Dan konsultannya sekarang adalah si manager langsung.
"Aku mau dia yang menghandle pesta pernikahanku." Teriak Cherry marah.
"Bukankah kemarin Anda sudah menolak semua konsep yang freelancer kami ajukan pada Anda." Ledek si manager.
"Ya...karena...karena belum ada yang cocok." Kilah Cherry. Wanita itu harus membuat Sia menjadi konsultan pernikahan mereka kembali. Dengan begitu, dia akan punya banyak kesempatan untuk mengganggu Sia.
Cherry melotot. Tidak boleh! Sia tidak boleh bersentuhan dengan design lagi. Jika tidak, semua orang akan melihat betapa berbakatnya Sia.
"Tapi aku mau dia yang menghandle pernikahanku." Cherry bersikukuh dengan keinginannya. Perdebatan pun terjadi. Sang manager berusaha sabar menghadapi sikap kekanakan Cherry. Kini manager itu tahu bagaimana repotnya Sia saat menghadapi Cherry.
Saat suasana mulai tidak terkendali, muncul Arch dan En yang langsung melerai perdebatan itu.
Mata Cherry berbinar cerah melihat wajah Arch.
"Belum selesai juga dengan manusia satu ini?" tanya Arch santai. Wajah Cherry langsung berubah masam melihat bagaimana Arch mengabaikannya. Padahal wanita itu sengaja berdandan cantik, siapa tahu bisa bertemu Arch.
"Maaf, tuan. Dia menginginkan Sia menjadi konsultannya." Terang si manager.
__ADS_1
"Sia sudah kupindahkan ke bagian design. Jika kau masih ingin menggunakan WO kami. Maka gunakan konsultan yang ada. Kalau tidak mau, silahkan cari WO lain." Kata Arch enteng.
"Eehhh....tidak begitu juga kali." Jawab Cherry gelagapan.
"Bagus jika kau masih mau menggunakan jasa kami. Jika tidak, silahkan pergi dan jangan kembali lagi."
Lagi, satu kalimat tegas dari Arch membuat Cherry kesal. Wanita hanya bisa mengepalkan tangannya. Melihat Arch yang melenggang pergi meninggalkannya. Tidak mungkin dia mencari WO lain. Mau ditaruh di mana coba mukanya. Dia sudah koar-koar ke semua temannya. Kalau dia akan menggunakan jasa Dreamaker Wedding Organizer yang terkenal untuk pernikahannya dengan Aska. Kalau sampai batal, bisa habis dia diejek teman-temannya. Malu yang ada nanti.
"Kau kejam sekali." Kekeh En. Sementara Arch hanya tersenyum mendengar ucapan En. Keduanya masuk ke sebuah ruangan yang terletak berseberangan dengan ruang kerja Arch. Di sana tampak staf dari divisi design sedang bekerja. Satu di antaranya Sia. Gadis itu nampak serius dengan kertas design-nya. Terlihat sekali jika Sia sangat menyukai design. Bagaimana wajah Sia yang tersenyum, sembari menggoreskan penanya di helaian putih yang ada di hadapannya.
"Ada yang bisa kami bantu, tuan." Manager divisi itu menyapa Arch yang berdiri di pintu masuk ruangan, yang berisi kubikel-kubikel dengan satu staf bekerja di tiap kubikel itu.
"Ah, tidak ada. Hanya kebetulan lewat." Jawab Arch dengan mata tidak lepas dari memandang Sia yang asyik dengan pekerjaannya. Si manager menarik nafasnya. Sepertinya rumor yang tengah beredar adalah benar. Bahwa satu stafnya yang baru dipindahkan dua hari lalu memiliki hubungan spesial dengan atasannya.
Si manager menganggukkan kepala, setelah mengantar Arch keluar dari ruangannya. "Hai, sepertinya aku akan menghadapi berbagai kabar tidak sedap yang akan mampir ke divisiku". Pria itu melihat ke arah Sia yang dia akui berbakat dalam menggambar. Ada beberapa konsep yang Sia hasilkan sejak bergabung dengan divisinya.
Divisi design dan konsep membebaskan tiap stafnya untuk berkreasi. Tidak hanya mendesign konsep atau hubungan yang berhal dengan pernikahan. Semua staf bisa juga mendesign baju atau gaun, atau design eksterior maupun interior. Design itu bisa saja dilaporkan ke kantor pusat. Karena Wijaya Group bukan hanya membawahi Dreamaker saja. Ada butik yang dikelola oleh mama Arch. Juga ada usaha property yang menjadi bisnis utama keluarga Wijaya. Semua bisa berkembang di bawah naungan perusahaan besar itu.
Sementara Sia sedang sibuk dengan pekerjaan barunya. Arch dan En juga begitu. Dua pria yang tiba-tiba menjadi akrab dan bersahabat itu sibuk berdiskusi soal pekerjaan mereka sepanjang jalan menuju kantor mereka, yang ternyata harus memutar jika dari divisi design.
Dua pria itu baru saja membuka pintu, ketika satu sapaan membuat wajah Arch langsung berubah masam. Arch pikir mustahil orang itu akan datang menemuinya. Namun ternyata orang itu kini berdiri di hadapannya, sambil tersenyum lebar.
"Hai, Arch. Senang sekali bisa bertemu denganmu."
"Yah, mood disaster datang." Batin Arch dan En bersamaan. Dua pria itu saling pandang penuh arti.
***
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
***