
Beberapa hari berlalu, hubungan Arch dan Alicia mulai dekat. Dalam hal ini, Arch sebenarnya tidak ingin menunggu lagi. Namun yang jadi masalah adalah Alicia yang masih menutup diri dari hubungan dengan lawan jenis. Gadis itu tampak lebih berhati-hati. Bahkan jika itu dengan Arch sekalipun.
Hubungan Alicia dan Rei pun sudah terputus sama sekali. Rei tidak ingin berhubungan lagi dengan Alicia pun sebaliknya. Terlebih Abby sendiri telah memberitahu kalau dia dan Rei akan menikah dalam waktu dekat. Rei menerima perjanjian nikah kontrak yang Abby ajukan.
Walau Arch sedikit khawatir dengan rencana Abby. Mengingat cerita dari Alicia, masuk ke dalam keluarga Altarezza tidaklah mudah, terlebih menghadapi ibu Rei yang jenis muka dua. Arch beberapa kali memperingatkan Abby, tapi wanita itu selalu meyakinkan Arch, kalau dia bisa menjaga diri.
"Mereka akan marah jika tahu kau pakai kontrasepsi." Arch bicara untuk ke sekian kali.
"Aku tidak selamanya memakainya. Satu tahun jangka waktu kontrak itu. Jika dalam satu tahun aku bisa melihat Rei mencintaiku, aku akan melepas alat kontrasepsi ini. Gila aja aku hamil anak laki-laki yang tidak cinta padaku. Memangnya aku ini apa? Sapi perah? Ibu pengganti? Aku ingin mengandung anak dari pria yang aku cinta juga mencintaiku." Tutur Abby panjang lebar.
"Tapi By, bagaimana jika dia menggunakan dirimu hanya untuk memuaskan nafsuunya saja." Alicia merendahkan suaranya saat bertanya.
"Tenang saja. Aku punya cara untuk mengatasi itu. Enak saja dia mau menikmatiku terus-terusan."
Alicia nyengir sambil menggaruk tengkuknya. Suasana jadi canggung, dengan Arch pura-pura tidak mendengar ucapan Abby. "Alah kalian ini makanya cepetan nikah. Apalagi yang kalian tunggu."
Arch dan Alicia melotot bersamaan ke arah Abby. "Kau ini bicaramu sudah seperti pro saja." Ledek Arch.
"He....he....kalian tau Sasha, yang tinggal di kontrakan sebelah. Dia ternyata nyambi...nah dari dia aku dapat teori bagaimana meng-anu pria. Nah nanti aku tinggal praktek."
"Neng.... teori sama praktek lain." Arch memperingatkan.
"Aku tahu!" potong Abby cepat.
"Kalau kamu nanti malah cinta duluan sama Rei ĝimana?" Alicia bertanya ragu.
"Gak mungkin!" Abby menyahut yakin.
"Jangan begitu. Nanti kamu bucin beneran, habis kau!" Arch malah semakin getol menggoda.
__ADS_1
Abby mencebik kesal mendengar ledekan Arch. Punya sahabat, bukannya mendukung teman malah sibuk nakutin.
*
Kredit Pinterest.com
"Bagaimana menurutmu?"
Arch bertanya sembari berjalan di sebuah taman. Mereka baru kembali dari butik Abby. Mengusir kebosanan, keduanya memutuskan untuk mencari udara segar.
"Soal apa?" Alicia balik bertanya. Untuk pertama kalinya, gadis itu bisa melakukan hal yang sudah lama dia impikan. Berjalan-jalan di taman tanpa khawatir kena semprot ibu mertua. Senyum Alicia mengembang. Dia menyukai apa yang sedang dia jalani sekarang. Sangat menyenangkan. Dia merasa bebas, bisa melakukan apa saja yang dia mau. Pergi ke mana saja yang dia suka.
"Mau berkuda lagi minggu ini?" tanya Arch tiba-tiba. Pria itu teringat kalau Alicia suka berkuda.
"Yang tadi saja belum dijawab. Sudah bertanya lagi." Protes Alicia. Arch tertawa sambil mengusap kepalanya. Salah tingkah.
"Tidak juga. Aku pikir semua pria akan seperti Rei. Ternyata tidak."
"Terang saja beda. Wajah saja beda. Kelakuan juga jelas tidak sama. Aku jamin itu."
Dahi Alicia berkerut, memikirkan makna di balik ucapan Arch. "Maksudmu apa?"
"Lah dia malah balik nanya? Kan tadi nanyain maksudku. Aku tanya soal Abby dan Rei. Apa kamu tidak berpikir mereka hanya bermain-main."
Wajah Alicia berubah sendu. Ternyata mereka masih membahas soal Abby dan Rei. Melihat Alicia yang tidak antusias dengan topik mengenai Abby dan Rei, Arch mengubah arah pembicaraan.
"Tidak suka membicarakan mereka? Kita ganti topik kalau begitu?"
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku...."
"Lalu...."
Alicia menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu mendudukkan dirinya di bangku taman di sana. Wajah Alicia berubah kesal, tidak tahu kenapa. Sampai satu ikat mawar merah membuat senyum Alicia merekah. Namun senyum itu seketika hilang saat tahu siapa yang memberikan bunga cantik tersebut.
"Menikahlah denganku. Akan kubuat kamu tersenyum setiap hari."
Ha? Alicia melongo mendengar apa yang baru saja diucapkan Arch. "Jangan ngaco kamu! Aku ini janda."
"So what kalau kamu janda. Aku serius Alice. Aku pikir tidak ingin menunda lagi. Aku menundanya dengan Sia dulu. Dan hasilnya kau lihat. Dia pergi meninggalkanku. Karena itu, aku tidak mau hal itu terulang lagi." Kata Arch sendu. Dia sendiri tidak tahu mendapat keberanian dari mana. Hingga dia bisa mengajak Alicia menikah.
"Apa kamu melihatnya dalam diriku. Karena kami mirip." Alicia menanyakan satu hal yang sejak dulu selalu bersarang di kepalanya. Senyum Arch menyambut pertanyaan Alicia.
"Tidak. Kamu dan Sia, meski rupa kalian sama. Tapi kalian dua orang yang berbeda." Jawab Arch sambil tersenyum lembut. Tangan Arch terulur merapikan rambut Alicia yang beterbangan tertiup angin.
Dua pasang mata itu saling bertatapan. Di bawah pancaran sinar lampu taman yang temaran, diiringi helaian daun yang gugur ke tanah. Saat desir halus itu mulai menjalar di hati, satu dorongan membuat Arch mendekatkan wajahnya ke arah Alicia. Hingga bibir pria itu bisa menjangkau bibir lembut Alicia. Untuk sesaat keduanya terdiam, seolah mengecap rasa yang baru saja menyapa untuk pertama.
Detik selanjutnya Arch mengikuti nalurinya, mencium bibir Alicia, dengan Alicia yang juga mengikuti instingnya. Bohong jika dia dan Rei tidak pernah berciuman. Sering sekali malahan dulu. Arch dan Alicia menautkan bibir mereka dengan jutaan tanya dalam hati. Apa yang sedang mereka rasakan. Sampai Arch menemukan apa yang dia cari selama ini. Tanpa melupakan Sia yang pernah hadir dalam hati dan hidupnya, kini rasa cinta itu telah tumbuh untuk satu nama baru.
"Aku harap kamu tidak takut untuk memulai lagi, aku jatuh cinta padamu, Vega Alicia Alou. Bukan sebagai dia tapi sebagai dirimu sendiri." Ujar Arch sambil menatap dalam mata Alicia, setelah pria itu mengurai ciumannya.
Alicia diam, tidak memberikan jawaban. Arch kembali tersenyum. "Tidak perlu menjawab sekarang. Aku tahu kamu masih belum bisa melupakan masa lalumu. Aku akan sabar menunggu. Asal jangan lari dariku."
Malam itu jadi awal mula perjalanan Arch dalam mencapai bahagianya. Bahagia yang sempat tertunda, karena Arch dan Sia tidak berjodoh. Namun kali ini Arch yakin, waktu itu akan datang untuknya.
****
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****