In My Dream

In My Dream
Troublemaker


__ADS_3

Elyos jatuh terduduk dari kursinya di istana mimpi. Pria itu merasakan nyeri luar biasa di ulu hatinya. Elyos memejamkan mata, menahan rasa sakit bak ribuan belati yang menghunjam jantungnya. Keringat dingin perlahan menetes dari dahi Elyos. Pria itu meringis, lantas menidurkan dirinya di lantai marmer berwarna putih di hadapannya.


Gila! Rasanya lebih sakit dari pada pada tikaman Seth waktu itu. Untuk sesaat Elyos diam tidak bergerak. Membiarkan rasa sakit itu menguar dengan sendirinya. Nafas Elyos terengah-engah, saat rasa itu benar-benar menghilang.


"Kau kenapa?" tanya En yang muncul tiba-tiba di hadapannya.


"Aku tidak tahu." Elyos menjawab terbata. Sakitnya sudah menghilang, tapi bekasnya masih terasa. Pria itu membiarkan dirinya berbaring telentang di tengah istananya.


"Ada apa?" tanya Elyos.


"Tidak apa. Ini tidak penting."


Elyos tidak menjawab lagi. Pria itu memejamkan mata, sementara En justru sibuk dengan pikirannya sendiri. "Jika Amethyst ingin kembali, maka gadis itu akan mati. Begitulah yang seharusnya terjadi."


En terdiam, baru saja kembali dari dunia langit untuk memberi laporan pada Yue, pria itu malah tidak sengaja mendengar percakapan Destiny dengan asistennya, Re dan Ri.


Masih ingat Re dan Ri, duo R dari Pengantin Raja Iblis.


"Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu Amethyst kembali dan Sia meninggal." Batin En sedih. Pria itu cukup bersimpati dengan nasib Elyos. Pria yang tulus hatinya, namun selalu kurang beruntung dalam hidupnya.


En hanya bisa menghela nafas, tidak tahu harus bagaimana.


*


*

__ADS_1


Di bumi, setelah sehari dipaksa beristirahat. Sia akhirnya pulih. Secara khusus, Irwan dan Lani meminta gadis itu untuk tinggal di sana. Sampai hari pernikahan mereka. Namun Sia menolak. Gadis itu akan kembali ke rumahnya. Sia tidak ingin ada rumor negatif soal dirinya yang tinggal di Arch, bahkan sejak mereka belum menikah.


Dua minggu lagi, dua pasangan itu akan menghelat pesta pertunangan sebagai langkah awal untuk memberitahu khalayak soal hubungan mereka. Lalu dilanjutkan dengan grand wedding yang akan dilangsungkan dua bulan lagi. Sia memang menerima pinangan Arch, dengan satu syarat, dia diizinkan bekerja. Dan syarat itu tentu disetujui oleh Arch dan keluarganya.


Hari berikutnya, sesuai keinginan Sia. Gadis itu kembali ke rumahnya, setelah Arch meminta Sia untuk berjanji, kalau gadis itu tidak akan lari lagi. Sia menyanggupi syarat Arch meski dengan tatapan penuh curiga dari Arch. Dia tidak yakin kalau Sia akan mudah menuruti dirinya. Mengingat kalau gadis itu punya jiwa pemberontak dalam dirinya.


Semua persiapan berjalan lancar. Tidak ada kendala yang berarti dalam persiapan pernikahan Arch dan Aro. Tentu hal ini menimbulkan kelegaan bagi semua orang, mereka tinggal menunggu hari bahagia itu akan datang.


Hari ini ada undangan pernikahan yang harus Arch hadiri sebagai perwakilan dari Dreamaker Wedding Organizer. Malam itu Arch menjemput Sia yang akan menemani Arch pergi ke undangan pernikahan tersebut. Sia berusaha menolak tapi Arch tidak mau mendengar alasan penolakan Sia.


Dan disinilah Sia berada. Memakai gaun kemban berwarna pink, yang membuat Sia risih sejak tadi. Karena gaun itu menampilkan bahu mulus dan sebagian dada Sia. Gadis itu mendelik pada Arch yang memilihkan gaun itu. Hingga Arch memberikan jasnya untuk menutupi bahu Sia yang terekspose, meski sedikit tertutupi oleh rambut panjang Sia. "Maaf, aku tidak tahu kalau damage-nya luar biasa."



Yang lagi kondangan, bawa kresek. Buat ngambil makanan 🤭🤭


Seorang pelayan menawari Sia minum, dan gadis itu mengambil satu. Mata Sia menatap ke depan, di mana sepasang pengantin tampak tersenyum bahagia menerima ucapan selamat dari tamu undangan.


"Waaahhh, lihat siapa ini? Tidak menyangka akan melihat mantanmu di sini." Satu suara penuh nyinyiran terdengar di telinga Sia. Gadis itu memutar matanya jengah, dia tahu jelas pemilik suara yang selalu membuat Sia sebal.


"Kenapa aku tidak boleh ada di sini? Ada tulisan dilarang masuk begitu?" Sia berbalik dan melihat Cherry yang langsung menganga melihat penampilan cetar Sia. Sebagai pengikut fashion terkini, Cherry tahu benar soal harga gaun yang dipakai Sia. Meski sudah tertutup jas Arch yang juga tak kalah mahal. Senada dengan Cherry, Aska melongo dengan tampilan Sia yang sungguh cantik di mata pria itu.


"Bukan begitu, hanya saja. Suasana seperti ini tidak cocok untukmu. Apa kau dapat tangkapan besar. Sampai bisa membelikanmu gaun mahal ini."


Cherry memutari Sia yang tampak tenang menghadapi istri Aska itu. Ya, pada akhirnya Aska mau menikahi Cherry. Setelah pria itu memberi syarat kalau pernikahan mereka akan diselenggarakan dengan biaya separuh budget kemarin. Tidak punya pilihan, Cherry hanya bisa pasrah. Dari pada dia kehilangan kesempatan hidup enak sebagai istri Aska.

__ADS_1


"Oohh, tentu saja. Tangkapanku sangat besar. Ikan dengan kekayaan luar biasa." Bisik Sia di telinga Cherry.


Cherry membulatkan mata, mendengar nasib Sia yang lagi-lagi mendapatkan pria kaya. "Sial! Bagaimana dia selalu mendapatkan pria yang lebih kaya dariku! Tidak aku tidak boleh kalah!" batin Cherry kesal. Wanita itu melirik ke arah Aska yang terlihat tampan dengan balutan jas mahal pilihannya.


"Alahhh, paling pacarmu hanya seorang manager, paling pol seorang direktur." Sindir Cherry.


Sia sedikit berpikir. "Iya sih, dia cuma direktur. Direktur di perusahaannya sendiri lagi." Jawab Sia merendah.


"Sudah kuduga. Kau....sampai kapanpun tidak akan pernah menang melawanku." Kata Cherry penuh percaya diri.


Sia tersenyum, melihat rupa asli dari seorang Cherry yang dulu adalah kawan karibnya. Namun ternyata semua hanya tipuan saja. Cherry tidak pernah menganggap dirinya sahabat. Wanita itu memanfaatkan Sia untuk mendapatkan apa yang dia mau. Cherry seketika tersenyum, teringat Sia yang harus jadi konsultan pernikahan di sebuah wedding organizer. Pekerjaan yang menurut sang suami, sangat rendah.


"Aku tidak sedang melawanmu, tapi aku tengah menghancurkanku." Balas Sia elegan. Karena gadis itu telah melihat Arch yang berjalan ke arahnya. "Maaf Si, ada telepon dari Papa." Arch berkata sambil merengkuh pinggang Sia. Lantas tanpa ragu mencium pipi Sia. Hal yang membuat Cherry dan Aska membulatkan mata.


Terkejut, sudah pasti. Cherry tidak menduga kalau direktur yang dimaksud Sia adalah direktur dari semua direktur di Dreamaker.


"Kenapa? Apa mereka menganggumu. Orang yang minta diskon 50% saat menggunakan jasa kita,"ucapan Arch cukup keras, hingga ada beberapa orang yang mendengarnya. Mereka pun mulai kasak kusuk membicarakan Cherry. Muka istri Aksa itu langsung berubah merah padam.


"Kau lihat? Aku tidak pernah kalah darimu. Dalam segala hal. Kau tahu? Konsep pernikahanmu dan mereka adalah ideku. Ide yang kau tawar dengan harga separuhnya. Meski pada akhirnya, aku menggratiskannya. Takut kalau ibumu datang lalu menamparku. Mengataiku wanita murahan." Tambah Sia cepat.


Aska tentu terkejut dengan fakta baru ini. Dia tidak menduga kalau sang ibu bisa melakukan itu pada Sia. "Kau tidak sedang berbohong kan?" Tanya Aska kecewa. Tidak Cherry, tidak ibunya bisanya cuma menimbulkan masalah lain saja. Si troublemaker, istilahnya zaman sekarang.


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


*****


__ADS_2