In My Dream

In My Dream
Maksudnya Apa?


__ADS_3

Ciel menerobos masuk ke ruang di mana para freelancer menerima klien dan berdiskusi soal keinginan mereka. Tempat itu menyerupai hall besar dengan meja dan kursi yang berjejer. Di tata beraturan. Setiap klien akan mendapat satu freelancer yang akan menjadi tempat mereka mendengarkan dan mencurahkan serta berusaha mewujudkan pesta impian mereka. Sebab Dreamaker tidak melulu soal pernikahan. Meski menggunakan embel-embel wedding organizer, Dreamaker yang sekarang lebih tepat disebut event organizer. Mengingat luasnya bidang cakupan kegiatan yang bisa mereka handle. Pesta pernikahan, pertunangan, ulang tahun, perayaan kelahiran bayi dan masih banyak event lain yang bisa diwujudkan melalui Dreamaker.


Ciel seketika melongo melihat seorang wanita marah-marah di depan Arch. Di belakang pria itu bersembunyi Sia yang tampak shock. Rambut Sia terlihat acak-acakan. Ada bekas merah di pipi gadis itu. Sementara di depan Arch, wanita itu terus memaki dan mengumpat.


"Dasar WO tidak becus. Nama aja mentereng! Sok keren! Tapi kualitas nol gedhe!"


Terlihat beberapa klien menjadi tidak nyaman dengan kehadiran wanita itu. Ada beberapa dari mereka yang berbisik-bisik. Terdengar beberapa mulai meragukan ke-bonafitan WO tersebut.


"Nyonya, mari bicara di dalam. Apa yang membuat nyonya tidak puas dengan WO kami." Ajak Arch. Sia tampak memegang lengan Arch. Mencoba mengendalikan emosi Arch.


"Aku tidak butuh bicara! Aku butuh ganti rugi!" teriak wanita itu.


"Nyonya akan dapat ganti. Tapi sebelumnya kita perlu bicara berapa banyak ganti rugi yang bisa nyonya dapatkan."


Baik Sia maupun Ciel langsung melotot mendengar betapa entengnya kata ganti rugi terucap dari bibir Arch. Tapi detik berikutnya Ciel mengedikkan bahunya. Terserahlah, ini kan juga kantor milik Arch. Terserah pria itu mau melakukan apa.


Tak berapa lama, Arch berhasil membujuk wanita itu masuk ke ruang konsultasi khusus. Ruangan yang lebih private dan tertutup. Lagi-lagi, Sia mengekor di belakang Arch.


Ciel hanya menunggu di sebuah meja kosong di sudut ruangan. Melihat para freelancer itu bekerja. Mereka dengan gigih membujuk para klien agar mau memakai jasa mereka. Beberapa langsung setuju, yang lain perlu diyakinkan dengan usaha ekstra keras.


Hampir satu jam, Arch dan Sia berada di dalam ruangan itu. Di dalam sana, tampak Arch dan Sia mendengarkan wanita itu mengoceh tanpa henti. Sibuk memaki WO mereka dengan kata umpatan yang membuat telinga Arch dan Sia panas.


Sampai akhirnya wanita itu menjawab kalau freelancer yang terdahulu menipunya. Arch dan Sia akhirnya saling pandang. Mereka kini tahu penyebab wanita itu emosi.


"Kalau begitu sebagai ganti rugi, kami akan membuatkan pesta yang meriah untuk putri Nyonya."


Wajah wanita itu langsung berbinar senang. "Benarkah?" tanya wanita itu tidak percaya. Setelahnya wanita tersebut menceritakan pernikahan impian sang putri. Hingga antara wanita itu dan Sia langsung menjadi akrab. Nyonya itu berkata ini dan itu dengan antusias.


Arch mengulum senyum, melihat Sia yang begitu pintar bicara hingga wanita itu bisa bercerita tanpa ragu. Ketika Sia telah selesai mencatat apa yang wanita itu inginkan untuk pernikahan sang putri. Barulah Arch bertanya.


"Jika boleh tahu, siapa nama freelancer terdahulu yang menjadi konsultan Anda. Dan berapa DP yang sudah Anda bayarkan pada kami?" Arch bertanya pelan. Takut jika si nyonya marah lagi.

__ADS_1


Namun semua di luar dugaan Arch. Wanita itu menunjukkan bukti transferan ke rekening atas nama seorang wanita. Arch dan Sia kembali saling pandang. Jika ada DP harus dikirim ke rekening Dreamaker, bukan rekening perseorangan. Jelas sudah terjadi penipuan di kantor itu.


Arch keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sia yang masih asyik berdiskusi dengan wanita yang kini menjadi klien Sia. "Kau dengar sendiri?" Arch bicara pada Ciel yang langsung mengangguk dan mengikuti langkah adik Aro itu.


Keduanya berjalan menuju ruang HRD. Saat masuk ke sana. Arch berubah jadi mengikuti Ciel. Berlagak menjadi saksi, Arch menceritakan hal ihwal yang terjadi pada wanita itu. Pihak HRD mulai bergerak. Melacak keberadaan wanita yang bekerja sebagai freelancer beberapa waktu lalu.


Setelah ketemu, HRD langsung menghubungi pihak kepolisian, karena besarnya DP yang diberikan wanita itu pada WO mereka. Dreamaker akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Agar siapapun tidak melakukannya lagi di lain waktu.


"Lalu sekarang bagaimana?" Ciel bertanya pada Arch. Keduanya bicara sambil berjalan beriringan. "Berikan pesta pernikahan yang meriah pada putri wanita itu. Sebagai ganti rugi kita akan menanggung katering dan dekorasi pernikahan mereka. Dan lagi, suruh mereka bayar sisa biaya ke kita saat mereka siap. Tidak perlu menagih. Aku yakin mereka tidak akan lari."


Ciel mengangguk paham, lantas berbelok ke arah lift. Keduanya berpisah jalan. Karena Ciel juga harus melapor pada Aro soal kejadian ini.


Arch kembali ke ruang konsultasi. Pria itu menjelaskan keputusan yang sudah disetujui oleh pemilik WO itu. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya nyonya itu. Kemarahannya berubah menjadi tawa saat Arch selesai menjelaskan semua.


"Terima kasih. Terima kasih. DP itu adalah tabungan saya selama 30 tahun. Saya persiapkan jika suatu hari putri saya menikah. Tapi saya tidak menduga freelancer sebelumnya malah menipu saya." Nyonya itu bercerita sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi.


"Sekarang Nyonya jangan khawatir. Pesta pernikahan putri Anda akan berlangsung meriah."


Sia lagi-lagi tersenyum. "Tidak apa-apa. Saya cukup paham perasaan nyonya."


"Semoga hidupmu selalu bahagia. Semoga kamu bisa bersatu dengan orang yang kamu cinta."


Tesss, bulir bening itu menetes di sudut mata Sia. Cukup banyak, namun Sia dengan cepat mengusapnya.


"Orang yang aku cinta? Apa dia masih ada di sini?" Batin Sia teringat akan Elyos.


Meski dada Sia terasa sesak. Namun gadis itu berusaha tersenyum saat mengantar nyonya itu sampai ke pintu lobi. Untuk selanjutnya mereka akan terhubung melalui ponsel untuk mengetahui perkembangan persiapan pernikahan putri nyonya itu.


"Jika event ini sukses, aku akan bisa menebus kalung ibu." Batin Sia ceria. Melupakan sejenak rasa sedih yang menghantuinya beberapa waktu lalu.


Setelah kepergian nyonya tadi, Arch mengajak Sia masuk ke ruang konsul tadi. Saat masuk ke sana sudah ada bongkahan es dengan selembar kain di atas meja.

__ADS_1


"Apa itu?" Sia bertanya heran.


"Pasti ini pertama kalinya kamu digampar orang." Celetuk Arch. Sia manyun karena yang dikatakan Arch benar. "Kok tahu?"


"Kalau sudah pernah atau sering ditampar, mereka tahu cara menghilangkan memarnya. Lah kamu tidak. Berarti pipimu masih perawan belum pernah ada yang nyentuh."


"Siapa bilang. Yang hari itu...uuupsss!" Sia menutup mulutnya, keceplosan. Arch seketika menghentikan gerakannya. Mengambil beberapa bongkah es batu kecil, lantas membalutnya dengan kain.


"Apa yang waktu itu adalah first kiss-mu?" tanya Arch setengah meledek.


"Apaan sih? Mestilah bukan. Berhenti jangan tertawa. Arch kau menyebalkan!" teriak Sia.


Arch terkekeh sesaat, sampai pria itu berhenti tertawa. Arch memandang wajah Sia. Pria itu mendekat ke arah Sia, hingga hidung mereka bersentuhan.


"Mau apa?" tanya Sia curiga. Arch tersenyum. Sampai kemudian pria itu berbisik di telinga Sia.


"Karena kita sama."


Bola mata Sia membulat mendengar perkataan Arch. "Maksudnya apa?"


****



Kredit Pinterest.com


Up lagi reader


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


**

__ADS_1


__ADS_2