
Tidak ada lagi yang bisa ia harapkan kali ini. Keinginannya untuk hidup ditengah kerumunan orang banyak, kencan bersama Kyuhyun, dan hidup seperti layaknya seperti orang lain. Semua itu tidak dapat ia gapai, karena ia merasa jika dirinya tak akan pernah keluar dari sana, dan tentu akan hilang tanpa jejak.
"Yah aku akan menghilang, dari mimpinya kelak. Mungkin kehadiranku ini hanya sebagai keinginan besarnya, entah ia pernah merasa sedih atau bagaimana, dan aku hadir hanya untuk menghapus kesedihan serta kekosongannya itu saja. Setelah semua baik-baik saja, aku akan pergi. Aku yakin itu."
Lagi-lagi tangannya menjadi tembus pandang, kini bukan hanya tangan, bahkan kakinya. Air mata pun menetes dari kedua pelupuk matanya. Dirinya merasa tidak siap, ia tidak ingin pergi dari sana.
"Apa gejala ini adalah awalnya? Tanda jika tidak lama lagi aku akan pergi. Lalu, bagaimana dengan kata-kata itu?" Gumam Hyurin
“Seandainya aku bisa terlahir kembali, aku ingin berada didekat orang yang menyayangiku. Tidak peduli, meski hanya ada kami berdua. Karena hal itu sudah sangat cukup dibandingkan aku tinggal di keramaian, namun mereka tak pernah memperhatikanaku.”
"Akankah aku hidup lagi? Namun hidup di mimpi orang lain? Untuk mengisi kekosongan orang itu lagi? Aku tidak mau."
Tengah berfikir keras, tiba-tiba saja seseorang menyentuh bahunya, dan Hyurin sungguh terkejut akan hal tersebut. Melihat bekas air mata di pipi Hyurin, membuat pria itu khawatir, dan menariknya ke dalam pelukkannya.
Tak ingin terlarut, dan semakin terbawa suasana. Hyurin melepaskan pelukan itu, dan berjalan mundur menjauhinya. Pria itu tentu saja kebingungan dengan sikap gadis dihadapannya ini. Gadis ini pun berjalan meninggalkannya, dan pria itu pun mengikuti langkah kakinya.
Langkah gadis itu membawanya menuju pantai. Seperti biasa, air laut sangat tenang, dan kali ini desiran angin terasa sangat halus saat menyentuh kulit. Gadis ini memang merindukannya, ingin sekali ia kembali memeluknya. Namun, ia harus menahan semua itu.
Pria ini mendekati gadisnya, dan mencoba meraih bahu sang gadis. Lagi-lagi gadis ini menjaga jarak darinya, dan sikapnya membuat pria itu frustasi. Dia bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi, hingga gadisnya tak ingin didekati olehnya.
"Kita akhiri saja."
__ADS_1
"Apa?" Pria ini sungguh tidak mengerti dengan ucapan gadis yang ada di hadapannya saat ini.
"Akhiri hubungan ini." Gadis ini masih bicara dengan tenang, dan dengan tatapan kosongnya.
"Kenapa? Ada apa denganmu Hyurin?"
"Kenapa? Bukankah sudah jelas? Hubungan kita bahkan tidak nyata Kyu. Seperti yang kau katakan saat itu, aku hanya gadis penghuni alam bawah sadarmu. Itu artinya, aku disini hanya untuk mengisi kekosongan di hatimu saja."
"Tidak Hyurin. Aku tidak ingin ini berakhir."
"Dalam hal ini, aku lah yang bodoh, dengan mudahnya aku menerima perasaan itu. Dengan posisi dimana aku sudah mengetahui keberadaanku, seharusnya aku menolaknya saat itu."
"Ku mohon jangan dilanjutkan."
Lagi-lagi Hyurin merasakan itu lagi. Kali ini seluruh tubuhnya yang menjadi tembus pandang, dan Kyuhyun sangat terkejut melihat hal itu. Hal itu sungguh membuat rasa takut Hyurin semakin besar, meski begitu, ia harus melepaskannya.
"Hal ini bisa terjadi, mungkin karena alam bawah sadarmu sudah mengetahui kebenarannya. Mungkin juga sebentar lagi aku akan pergi." Air mata itu pun kembali menetes.
Mendengar itu membuat Kyuhyun menggelengkan kepalanya, dan berjalan perlahan mendekap tubuh kecil Hyurin dengan sangat erat.
"Maafkan aku Kyu. Ku rasa aku harus melupakanmu, tapi aku akan selalu mencintaimu apa pun yang terjadi. Kau juga, lupakanlah aku, dan jalani hidupmu. Aku akan merasa bahagia, jika kau merasakan hal itu juga." Hyurin mencium Kyuhyun dengan air mata yang masih deras.
__ADS_1
●●●
Nafas Kyuhyun tersengal ketika membuka kedua matanya. Ia juga merasa jika kedua matanya berair. Dia menangis, mengingat kejadian itu membuatnya sangat sedih. Itu semua pasti hanya lelucon, dan ia merasa yakin jika dirinya akan bertemu kembali dengannya.
Kali ini wajahnya terlihat sangat frustasi. Kenapa bisa Hyurin mengatakan hal itu padanya? Dadanya bahkan masih terasa sesak, dan ia menenggak habis air mineral yang tengah ia genggam. Setelah itu, ia menutup lemari esnya, dan duduk di ruang makan seraya mengacak-ngacak letak rambutnya.
"Aku dataaaang~" Seorang gadis berlari ke arah Kyuhyun, dan Kyuhyun masih tak menanggapi kehadiran gadis tersebut. "Oppa, aku datang."
"Lalu aku harus apa? Apa aku harus melakukan roll depan, dan roll belakang? Memang kau tidak pergi ke cafe?" Nada suaranya benar-benar tak bersemangat.
"Aku meminta izin hari ini, ya? Dan kau harus mengantarku ke toko buku."
"Pertama, aku akan memotong gajimu karena sudah izin di hari dimana cafeku pasti ramai. Kedua, aku sedang malas keluar. Jadi, pergilah sendiri." Kyuhyun berjalan meninggalkan gadis tersebut.
"Tidak. Kau tidak boleh menolak. Ini demi skripsiku, jika aku tidak lulus bagaimana? Kau mau kan mengantarku?"
Melihat tingkah gadis dihadapannya membuat Kyuhyun menghela nafasnya, dan ia pun meminta gadis itu untuk menunggunya. Gadis itu merasa menang kali ini, karena akhirnya Kyuhyun mau mengikuti keinginannya.
Ketika sudah berada di toko buku Kyuhyun memisahkan diri, dan melihat beberapa buku. Sebuah judul dari buku itu menarik pandangannya, dan tangannya meraih buku tersebut.
"A friend of my imagination." Saat itu juga Kyuhyun memutar balikkan buku tersebut, dan mulai membaca sinopsisnya.
__ADS_1
Bersambung...