In My Dream

In My Dream
Tamu Tidak Diundang


__ADS_3

"Jangan menggangguku!" Sia menepis tangan Arch yang berusaha menahannya.


"Ayolah Si, kita bisa bicarakan ini baik-baik," mohon Arch. Salah paham terjadi antara keduanya. Dan Sia marah besar. Arch tidak sengaja mengunci pintu kamar pribadi yang ada di ruang kerjanya, saat Sia minta izin numpang ke toilet.


Bisa dibayangkan bagaimana ngamuknya gadis itu. Sepele, tapi Sia merasa dikerjai oleh Arch. Berpikir kalau Arch sengaja melakukannya untuk menekannya.


"Pergi sana! Aku tidak kenal kamu, pak Bos!" usir Sia kesal.


Arch seketika mencekal kedua lengan Sia. Pria itu tidak suka dengan sikap Sia yang selalu mendorong jauh dirinya. Meski itu juga salah dia. Menolak mengaku kalau dia Arch yang sama dengan Arch yang pernah tinggal di rumah Sia.


"Sia....!"


"Apa?! Lepas Pak Bos!"


"Jangan panggil pak bos. Aku tidak suka!"


"Bodo!" Sia menepis tangan Arch yang mencekal kedua lengannya. Namun pria itu menarik tubuh Sia, hingga membentur dada bidang Arch. Lantas menyudutkannya ke dinding.


Arch cukup paham dengan karakter Sia yang akan membiarkan emosinya meluap sembarangan. Pria itu tahu harus meredam emosi Sia lebih dulu sebelum keluar dari ruangannya.


Sia menatap nyalang pada Arch. Sedang Arch mulai melembut sikapnya. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukannya."


"Ndak mau denger!" Sia menutup kedua telinganya tidak mau mendengar ucapan Arch.


"Si...Sia...." pria itu berusaha membuka dua tangan Sia yang menyumpal telinga gadis itu. Tidak berhasil, sampai timbul ide jahil di pikiran Arch.


"Cup." Sia mendelik saat Arch menggunakan kesempatan itu untuk menciumnya.


"Kenapa kau ini suka main sosor seperti orang gila yang pernah numpang tidur di rumahku." Sia memaki Arch dalam satu tarikan nafas.


"Karena aku memang dia." Jawab Arch enteng.


Kali ini Sia melotot, mendengar jawaban Arch. Arch ini dan yang itu adalah orang yang sama. "Kau bohong padaku!"


"Alah, jujur salah. Bohong juga salah." Arch semakin intens menatap Sia. Dia sudah membulatkan tekadnya. Akan jujur kali ini. Bodo amat dengan aturan sang papa.


"Aku Arch yang pernah tinggal di rumahmu." Arch menegaskan pengakuannya.


Sia sesaat terdiam. Berusaha mencerna perkataan Arch. Sampai pada akhirnya Sia memilih tidak mempercayai. "Jangan menipuku!" kilah Sia.


"Apa aku perlu memberitahu ukuran pakaian dalammu atau kebiasaanmu saat tidur? Baru kau percaya padaku?" tanya Arch memasang wajah mesumnya.

__ADS_1


Sia mendelik mendengar perkataan Arch. Gadis itu buru-buru menutupi dadanya, menghindari tatapan mengerikan yang Arch berikan.


"Kau sedang membohongiku kan?" Sia sekali lagi memastikan. Arch seketika mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Sia. Bola mata Sia melebar, mendengar satu kalimat yang membuat gadis itu yakin kalau Arch bosnya adalah pria yang pernah tinggal dengannya.


"Bagaimana? Sekarang percaya kan kalau aku Arch-mu...aahhrrrgghhhh....gila! Si....sakit!" Arch berteriak lantang, kala Sia mencubit perutnya.


Arch menatap kesal pada Sia, dua kali gadis itu mencubit dirinya sepagi ini. Bagian dada masih menyisakan bekas kemerahan, dan sekarang perutnya mengalami hal yang sama.


"Jadi katakan! Kenapa bohong padaku? Kenapa pergi gak pamit? Aku cemas tahu!" bentak Sia.


Dua sudut bibir Arch tertarik mendengar perkataan Sia. Cemas? Gadis di depannya ini mencemaskan dirinya? Arch rasanya ingin terbang ke langit ke tujuh. Saking senangnya.


"Malah cengar cengir gak jelas!"


"Duh, makin galak aja ditinggal tiga bulan," goda Arch. Sia memanyunkan bibirnya mendengar godaan Arch.


"Manyun... nanti ku cium lagi," ancam Arch. Sia seketika mengubah ekspresi wajahnya.


"Terus kenapa tiba-tiba pergi gak pamit?" tanya Sia.


Arch menghela nafasnya lantas mulai bercerita. Sia seketika membulatkan mata saat Arch selesai bercerita. Hampir lima belas menit.


"Lalu mamamu bagaimana?"


"Maaf.....lalu soal perjodohanmu? Calonmu beneran Rissa?" Arch mengangguk sebagai jawaban. Sia lumayan terkejut mendengar siapa Rissa dan asal usulnya. Ternyata dia orang kaya.


"Aku gak mau dijodohin sama dia. Makanya aku lari. Tapi sekarang kak Ae yang akan menghandle dia," Arch berkata sambil menaikkan satu alisnya.


"Maksudnya? Kakakmu yang akan menggantikanmu dalam perjodohan ini?"


"Kakakku menyukai Rissa lebih tepatnya. Maka dia dan aku sedang main kucing-kucingan dengan papa. Kak Ae sedang mendapatkan hati Rissa dan aku ingin denganmu."


Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Baik Arch maupun Sia hanya saling pandang. Tidak ada seorangpun yang berucap di antara keduanya.


"Aku menyukaimu Si, mencintaimu." Kata Arch pelan. Pria itu menatap penuh cinta pada Sia.


Kembali kesunyian muncul di antara mereka. Sampai teriakan En membuyarkan semuanya.


"Arch!!!! Gawat!!! Papamu ada di bawah." En menerobos masuk ruangan Sia tanpa permisi. Sia dan Arch langsung kelabakan begitu mendengar sang ayah ada di kantornya.


*

__ADS_1


*


"Dia menumpang hidup dalam tubuh gadis ini?" Seth bertanya saat Larc memberikan sebuah laporan soal Amethyst. Dewi cantik yang baru saja membuat Larc tertawa kencang. Seth benar-benar termakan omongannya sendiri. Kini pria itu tengah disibukkan dengan keinginannya untuk mencari Amethyst. Dan laporan Larc membuat pria itu heran.


"Berhenti tertawa! Atau kukembalikan kau ke Black Castle!" ancam Seth. Larc hanya mengubah tawa lebarnya menjadi senyum terkulum. Dia lebih senang tinggal di Black Castle kalau di tanya. Tidak ada Seth yang sibuk meminta ini dan itu.


"Lalu maumu apa?" tanya Larc setelah bisa mengatasi rasa lucunya akan tingkah Seth.


"Bawa dia padaku." Pinta pria itu. Tatapannya lurus mengarah pada Larc. Sebuah perintah tanpa bantahan.


"Apa yang kau inginkan darinya?"


"Tidak perlu banyak tanya. Lakukan saja!" Seth berucap kesal. Tidak tahu apa kalau dirinya sangat ingin bertemu Amethyst dan memilikinya.


"Jika kau ingin memilikinya. Itu akan sulit. Kau tahu Amethyst memilih mate-nya. Bukan dipilihkan." Larc pikir harus memperingatkan Seth. Berurusan dengan Amethyst mungkin akan membawa nama lain di belakang dewi itu. Mengusik Amethyst sama saja dengan membuat kekacauan di istana langit.


"Aku tidak peduli. Setelah semua ini, kekuatanku meningkat pesat. Bahkan Yue saja tidak bisa mengalahkanku."


"Jika Yue tidak bisa melakukannya, maka akan ada Fire, Wind dan juga Leon yang akan maju. Kau siap untuk itu?" Larc memberi penekanan pada tiga nama yang merupakan pemimpin pasukan tertinggi dunia langit. Di bawah komando Fire, bahkan pasukan dari dunia iblis pun bisa pria itu atasi.


Seth terdiam mendengar peringatan Larc. Pria itu cukup mempertimbangkan perkataan Larc.


"Satu lagi, kau tidak bisa meminta bantuan pada Demon, si raja Iblis. Dia sedang dalam mode anak baik demi meraih simpati Fire."


"Haisshhh, perjanjian terkutuk dari The Lord ini benar-benar membuatku muak. Apa maksudnya putri Fire akan jadi pasangan untuk putra Demon?"


"Agar dua dunia tetap berada dalam kedamaian."


"Damai katamu? Tidak ada kata damai dalam kamusku. Itu adalah kata terlarang dalam hidupku. Jadi selama aku hidup, tidak akan ada kedamaian dalam dunia ini!"


"Kalau begitu kau minta aku habisi!"


Seth dan Larc seketika mencari sumber suara. Keduanya membulatkan mata melihat siapa tamu tidak diundang yang bisa menyusup masuk ke istana Black Cristalnya.


***


Part ini sedikit menyenggol nama karakter di Pengantin Raja Iblis ya readers.


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2