
Rei menghentikan aksinya saat Abby berteriak kencang. Bisa Rei lihat kalau Abby sedang menahan sakit. Saat pria itu melihat ke bawah. Bola mata Rei membulat. Melihat miliknya yang sudah tenggelam dalam tubuh Abby. Ingin rasanya Rei berteriak kencang. Dia sembuh! Miliknya dapat mendobrak masuk milik Abby. Ditambah Rei bisa merasakan lelehan hangat yang mengalir di sela-sela paha keduanya. Abby masih perawan, Rei adalah pria pertama yang meniduri Abby.
"Maaf, juga terima kasih." Dua kata itu yang terucap saat Rei menciumi wajah Abby. Dapat Abby lihat kebahagiaan terpancar di wajah Rei. Seolah ini adalah pertama kali bagi pria itu bercinta, sama seperti dirinya.
"Maksudmu apa?" Abby bertanya bingung. Jari Rei mengusap air mata yang sempat keluar di pipi Abby.
"Akan kujelaskan nanti. Sekarang biarkan kuselesaikan ini. Tapi maaf, mungkin aku memerlukan waktu lama sampai aku puas."
Abby tidak sempat mencerna kata-kata Rei, karena detik berikutnya Abby sudah meringis setengah mendessahh, saat Rei memompa dirinya. Rasa perih bercampur nikmat seketika Abby rasakan. Tidak perlu waktu lama, Rei sudah bisa membawa Abby terbang tinggi ke langit. Menikmati sesi panas yang sesungguhnya terlarang bagi dua orang itu.
*
*
Abby melamun di kontrakannya. Rei baru saja mengantarnya setelah keduanya melewati sesi panas hampir dua jam dengan jeda setengah jam. Saat jeda itulah, Rei menceritakan soal pernikahannya.
Yang membuat Abby shock adalah saat Rei menunjukkan foto sang istri. "Sia...." Itulah nama yang Abby ucapkan saat melihat foto Alicia. Apa yang sudah dia lakukan? Rasa sesal seketika menyelinap masuk ke hati Abby. Dia menyesal telah terlibat skandal dengan Rei, suami Alicia. Meski Rei berkata kalau dia tidak pernah bisa bercinta dengan Alicia, bukan berarti dia bisa mencari pelampiasan di luar.
"Aku bukan tidak pernah bercinta dengan istriku. Tapi aku tidak bisa bercinta dengannya. Tapi denganmu, milikku ternyata mampu melakukannya."
Ini bagaimana bisa terjadi? Bukannya milik pria bila sudah menegang, lubang mana saja bisa dimasuki. Haissshh, Abbya menjambak rambutnya sendiri, mengingat gagah dan perkasanya Rei saat menjajah dirinya. Ditambah perlakuan lembut Rei juga ciuman pria itu yang begitu memabukkan. "Lah...lah....aku bisa gila beneran kalau begini ceritanya." Maki Abby pada dirinya sendiri.
Abby sesaat kembali melamun. Mengingat kembali rasa yang ditinggalkan oleh Rei untuknya. Hingga wanita itu teringat akan Arch, bagaimana reaksi sahabatnya jika tahu ada wanita yang mirip dengan Sia.
"Arch harus tahu soal Alicia." Abby bergerak ke kamar mandi. Membersihkan dirinya lagi, meski tadi sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian dari Rei. Abby tidak terima begitu saja. Berpikir kalau percintaannya dengan Rei tadi hanyalah kesalahan sesaat. Abby berniat akan melupakannya. Wanita itu tidak ingin terlibat dengan suami Alicia.
Abby memutar bola matanya melihat banyaknya panggilan dari ibu Aska, bos tempat dia bekerja. Bodo amat, begitulah pikir Abby. Sambil berjalan keluar dari kontrakannya, Abby pikir akan menuruti saran Arch, mencari pekerjaan lain. Atau malah minta satu butik pada Arch, seperti yang pria itu katakan.
__ADS_1
"Haisshh, kenapa rasanya perih begini sih. Gila aja ya, segede gitu dipaksain masuk. Untung kagak robek." Abby mengumpat Rei yang asal memasuki dirinya. Meninggalkan rasa perih yang sampai sekarang masih terasa, walau rasa nikmat itu tidak akan bisa Abby lupakan. Mengingat besarnya junior Rei, Abby seketika menggigit bibirnya.
"Aduuhh En, maaf. Baru juga ditinggal empat bulan, sudah oleng aku ke pria yang ular kadutnya segede gaban." Batin Abby sambil mengusak rambutnya di dalam taksi yang dia tumpangi.
Di tempat lain.
"Bagaimana keadaannya?" Arch bertanya pada seorang dokter yang dia panggil ke kantor untuk memeriksa Alicia. Saat keluar dari restauran, Arch menemukan Alicia yang tergeletak pingsan di kerumuni oleh pengunjung tempat makan itu.
Merasa mengenal Alicia, Arch membawa wanita itu ke kantornya. Hingga Neo membulatkan mata melihat kelakuan Arch.
"Kau tidak beneran jadi pebinor kan?" Neo bertanya panik sambil menghubungi dokter.
"Nggaklah, aku cuma nolongin dia. Dia pingsan depan resto, masak iya aku tinggalin gitu aja. Dosa dong."
Arch meringis saat Neo menggeplak lengan bosnya itu. Dasar asisten gak ada akhlak, Arch memaki Neo. Bukannya membant, malah sibuk ngomel saja pria itu.
Arch dan Neo saling pandang. Kurang kalori? Masak orang kaya kurang makan. Apa mereka tidak punya beras di rumah, sampai Alicia kurang kalori atau karbohidrat yang lain tidak ada.
Dokter itu terkekeh melihat wajah heran Arch dan Neo. Dokter tersebut kemudian menjelaskan, ada kemungkinan jika Alicia sedang menjalani program diet sampai mengurangi asupan banyak kalori. Hingga berakibat dia jadi lemah.
"Body langsing kek gitu bagian mana yang perlu dihilangkan lemaknya. Yang ada juga ditambahin depan sama belakangnya biar bohay."
Giliran Neo yang dikeplak oleh Arch setelah si dokter pergi. Asisten Arch yang satu ini benar-benar asal mangap kalau bicara. "Yang aku omongin sesuai fakta di lapangan Arch, kenapa kamu sewot sih." Neo berlalu dari hadapan Arch, masih ngedumel sambil melakukan perintah Arch. Meminta delivery order ke sebuah resto dengan menu full kalori.
Saat Neo keluar dari ruangan Arch, saat itulah Abby masuk ke sana. Wanita yang baru saja kehilangan mahkota karena kesalahannya sendiri itu buru-buru menarik tangan Arch untuk duduk.
"Apaan sih? Gak kerja? Mau minta butik? Bilang aja yang mana, gue kasih deh. Dari pada elu kerja sama tu nenek lampir. Masih dendam aja mantunya gue penjarain." Cerocos Arch tanpa henti. Sampai Abby melongo dibuatnya.
__ADS_1
"Kamu gak lagi kesurupan jin tomang kan? Adduuhhh." Abby menyentuh dahinya yang baru saja disentil Arch.
"Kayak Neo aja kalau ngomong. Asal bunyi." Abby mendengus geram, mendengar ucapan perkataan dari Arch.
"Iya, aku mau berhenti bekerja dari sana. Tapi bukan itu masalahnya. Apa kamu tahu kalau ada orang yang sama persis dengan En dan Sia?"
Abby bertanya antusias. Arch mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Abby, berpikir apa Abby sudah bertemu Alicia atau Rei.
"Iya aku tahu." Balas Arch santai. Baru ingin mengatakan kalau Alicia ada di kamar pribadinya, Abby sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Aku serius Arch, gak bercanda." Abby segera duduk di sebelah Arch, menggamit lengan Arch, hubungan keduanya menjadi dekat setelah kepergian En dan Sia. Tak jarang banyak yang salah paham dengan Arch dan Abby. Mengira keduanya pacaran.
"Aku juga serius." Arch menoleh pada Abby, hingga jarak wajah keduanya sangat dekat. Hidung mereka bahkan saling bersentuhan. Namun tidak ada debar apapun di antara keduanya. Perasaan Arch dan Abby murni hanya sebagai sahabat.
Namun hal itu tidak berlaku untuk Alicia. Wanita itu bergeming di tempatnya berdiri, menyaksikan pemandangan yang seketika membuat dirinya salah paham. Alicia mengira Abby dan Arch adalah sepasang kekasih.
"Ternyata semua pria sama saja. Baru saja berkata akan membawaku pergi, membantuku jika aku punya masalah dengan Rei. Nyatanya dia sendiri punya pacar." Gerutu Alicia yang langsung berjalan menuju pintu keluar. Mengabaikan rasa lemah dan pusing di tubuhnya.
Langkah Alicia terhenti saat Arch memanggilnya. Abby seketika membekap mulutnya sendiri, melihat Alicia yang berdiri di hadapan. Melihat Alicia keluar dari kamar Arch, salah paham pun timbul di benak Abby. Wanita itu berpikir kalau Arch menjalin kasih dengan istri Rei.
"Sia....." Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Abby, melihat Arch yang menghampiri Alicia. Namun Alicia segera menepis tangan Arch yang ingin membantunya.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****