In My Dream

In My Dream
Akrab


__ADS_3

Rei melempar surat panggilan dari pengadilan beserta surat gugatan cerai dari Alicia. Pria itu sungguh marah. Alicia sekarang berani membangkang padanya. "Lihat saja! Apa yang akan kau lakukan jika aku menarik semua dana dari Alou Grup!"


Pria itu melesat keluar dari ruangannya, berjalan menuju pintu keluar. Geram, Rei bermaksud ingin menemui Alicia. Sampai di lampu merah, mobil Rei berhenti, saat itulah dia melihat Abby. Pria itu langsung menepikan mobilnya, berjalan cepat menghampiri Abby yang hampir masuk ke dalam taksi.


"Eehhh, siapa ka...." Ucapan Abby terhenti saat melihat Rei. Wanita itu melepaskan pegangan tangan Rei. Hal itu membuat Rei bertambah marah.


"Kau berani melawanku?" Gurat amarah terlihat jelas di wajah Rei.


"Kenapa? Kau pikir aku akan takut padamu?" tantang Abby. Wanita itu jelas marah pada Rei. Dari Arch, dia tahu semua cerita soal rumah tangga Alicia. Dari sana juga Abby bisa merasakan sakit hati yang Alicia rasakan. Terlebih Abby melihat bagaimana Rei mencekik Alicia waktu itu.


"Kau hanya wanita lemah....."


"Dan wanita lemah ini tidak akan pernah tunduk padamu!" Abby melangkah pergi dari hadapan Rei. Abby memutuskan melupakan kejadian satu malam itu, dia akan menghindari Rei sejauh mungkin.


"Halo......Sial!!!"


"Abby....Abby....Abby....."


Rei berteriak memanggil Abbya setelah menerima panggilan di ponselnya. "Maaf Tuan, Nona Abby menolak pembelian ruko itu." Rei menggumam kesal. Abby ternyata bukan wanita yang mudah silau dengan harta. Pria itu masuk ke dalam mobilnya, lalu menghubungi asistennya. Kembali, satu kabar yang membuat kepala Rei nyaris meledak saking marahnya.


"Tidak ada yang terjadi dengan Alou Grup setelah Anda menarik seluruh dana dan dukungan yang Anda berikan pada mereka."


Rei memukul kemudi mobilnya. Pria itu melajukan mobilnya menuju kantor Alou Grup, dimana Rei diberitahu kalau Alicia sudah kembali masuk kerja.


Rei langsung naik ke ruangan Alicia tanpa memperdulikan sapaan staf yang ada di sana. Mereka tahu jelas siapa Rei. Suami dari atasan mereka.


Keributan yang terjadi di luar pintu membuat Alicia mendongak dan mematikan sambungan teleponnya. Saat ini dia tengah bicara dengan kakak Rissa, Refaldo yang menjadi petinggi utama di Atmaja Grup. Semua keputusan ada di tangan Refaldo. Karena rekomendasi dari Rissa juga dukungan dari Wijaya Grup, Refaldo Atmaja setuju mengucurkan dana pinjaman yang lumayan besar untuk menutup kerugian akibat penarikan dukungan finansial tiba-tiba dari AR Grup.


"Kau berani sekali mengajukan perceraian padaku?!" Suara Rei menggelegar memenuhi ruang kerja Alicia. Pria itu merasa di atas angin, sebab berpikir kalau Alicia belum tahu kalau dia menarik semua dukungan dana pada perusahaan Alicia.

__ADS_1


"Kenapa aku harus takut padamu?" tanya Alicia balik. Wanita itu sudah bertekad akan melawan Rei. Mengabaikan trauma yang Rei berikan akibat luka batin dan fisik yang pria itu torehkan padanya.


"Kau pikir aku main-main dengan ancamanku?! Kau akan kalah, kau akan hancur! Kau dan segala kesombongan juga kebanggaanmu akan sirna. Sampai hanya malu dan penyesalan yang kau punya."


Alicia menarik ujung bibirnya. Mendengar perkataan Rei, berarti pria itu belum tahu kabar terbaru.


"Aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku, justru aku bersyukur bisa lepas darimu, hingga aku bisa bertemu orang yang benar-benar baik padaku. Tulus padaku. Bukan orang yang bermuka dua seperti keluargamu!" Alicia berteriak meluapkan amarahnya.


"Kau! Berani kau menghina keluargaku! Kau tahu betapa baiknya ibuku merawatmu. Dia selalu memperhatikan...."


"Itu karena dia menginginkan anak dariku!" Alicia berteriak sangat keras. Rei terperanjat melihat sikap Alicia.


"Apa kau tahu yang ibumu katakan saat bersama teman-teman sok-sialita-nya itu?" Alicia bertanya pilu, berusaha menahan kristal bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ingatan Alicia terbang ke beberapa kesempatan saat dia tanpa sengaja mencuri dengar obrolan sang mama mertua.


"Isshhh, aku sebenarnya malas melihatnya. Cantik sih cantik, tapi kalau gak bisa bunting, apa gunanya coba. Rei, aku, kami perlu penerus untuk meneruskan bisnis kami. Bukan cuma istri dan menantu cantik yang bisa diajak kondangan."


"Dia bilang aku mandull, tidak berguna. Hanya bisa numpang hidup enak di rumahmu. Kau pikir aku patung yang tidak punya perasaan apa?!"


Rei melompat mundur saat Alicia melempar vas bunga ke arah dinding. Fex dengan cepat memeluk Alicia yang seketika meronta, tidak mau dipeluk oleh Fex.


"Aku muak! Aku muak harus berpura-pura tersenyum padahal aku ingin menangis sekeras yang aku bisa!!" Alicia benar-benar meluapkan kemarahannya dan perasaan yang sudah dia pendam selama ini.


Rei tergugu di tempatnya berdiri, melihat betapa emosionalnya Alicia saat ini. Tampak rapuh, terluka dan menderita. Berbeda dengan seminggu lalu, di mana Alicia terlihat tenang, bahagia dan penuh senyum.


"Kau lihat apa yang sudah perbuat padanya? Tidak cukupkah kau melukai batinnya, fisiknya, dan sekarang kau ingin menghancurkan hidupnya dan karirnya. Kau kejam Rei!" Fex berujar berani pada Rei.


***


Rei termenung di dalam mobilnya. Ucapan Fex sungguh membuka mata hatinya. Saat dia mulai menjernihkan pikirannya. Dan tanpa Rei duga, tempat yang dipilih Rei untuk menenangkan diri adalah butik Abby yang baru 40% siap. Wanita itu menolak ruko pemberiannya. Dan mencari tempat lain yang tak kalah strategis. Pria itu sesaat heran, gaji Abby di tempat yang lama tidak akan cukup untuk menyewa tempat ini. Bahkan jika Abby sudah menabung beberapa tahun. Tempat ini sangat ekslusif dan cocok dijadikan butik. Dan mahal tentunya.

__ADS_1


Terdengar tawa renyah dari arah dalam. Rei pun kepo, menilik jam tangannya. Ini sudah lewat waktu makan malam. Rei yakin kalau Abby belum mengambil santap malamnya.


Pria itu baru akan keluar mobilnya. Saat mata Rei menangkap pemandangan yang membuat hatinya panas. Abby berjalan keluar dengan Arch yang merangkul mesra pundak Abby. Rei pikir apa Abby juga punya hubungan istimewa dengan Arch.


Tidak tahan dengan hatinya sendiri. Rei keluar dengan wajah merah padam. "Jadi ini hubungan kalian sebenarnya? Kau wanita murahan!" Maki Rei tanpa pikir panjang.


Abby dan Arch sontak terkejut dengan kehadiran Rei. Tidak menyangka jika pria itu bisa ada di tempat ini. "Hei... tu mulut kalau ngomong jangan kelewat pinter ya?" Abby pikir tingkah Rei semakin lama semakin menyebalkan saja.


"Lalu apa namanya kalau bukan murahan. Sana mau, sini mau!" Lanjut Rei.


"Wah By kau sana sini mau. Berarti dengan Neo kamu mau juga." Ledek Arch melihat Neo yang muncul di pintu keluar.


"Idih ogah, Neo dah sama Fex." Tolak Abby santai. Wanita itu perlahan melepaskan diri dari rangkulan Arch. Berjalan santai menuju ke arah Rei. "Kalau aku murahan, kau tidak akan jadi yang pertama untukku." Bisik Abby. Rei membulatkan mata mendengar ucapan itu. Dia lupa dengan fakta itu. Rasa bersalah seketika menyergap hati Rei.


"Dan aku tekankan sekali, jangan mengikutiku, jangan memberi bantuan apa-apa padaku. Aku tidak mau dicekik lalu dituduh numpang enak padamu. Asal kau tahu pendukung finansialku lebih kaya darimu."


Abby berjalan kembali ke arah Arch. Lantas melakukan tos dengan pria itu. Rei mengepalkan tangan melihat tingkah Arch dan Abby.


"Ehh, sorry kelamaan di toilet." Satu suara membuat Rei menoleh. Pria itu terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Bagaimana bisa dia jadi akrab dengan mereka?"


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2