
Arch berjalan mengiringi langkah Sia. Gadis di sampingnya itu terlihat ceria hari ini. Hal tersebut membuat Arch merasa sedikit lega. Setidaknya Sia tidak sedih lagi meski sebentar. Mereka berdua ada janji untuk bertemu Abby dan En. Biasa setiap akhir pekan keempatnya akan berkumpul bersama, sekedar meluangkan waktu bersenang-senang dan berbincang setelah sepekan bekerja.
Keempatnya berjanji bertemu di sebuah kafe. Tempat yang sesuai dengan kantong mereka. Saat Arch dan Sia masuk ke kafe. Lambaian tangan Abby langsung menyambut Sia. Gadis itu begitu antusias saat melihat Sia.
"Seneng amat." Ledek Sia pada Abby. Sedang Abby langsung manyun mendengar gurauan Sia. Meski setelahnya dua sahabat itu saling peluk dan cium.
"Mau dong Si, cipika cipiki-nya." Kata En asal. Sia dan Abby melotot mendengar ucapan asal mangap dari En. Pria yang rupa fisiknya sama sekali tidak mencerminkan kelakuannya yang somplak. Bagaimana tidak. Fisik En sangat macho dengan wajah tampan cenderung ke raut wajah serius. Tapi nyatanya fisik dan sifat En tidak sinkron sama sekali.
Kredit Instagram @ liu xu kang
Meet En, yang macho tapi somplak ðŸ¤ðŸ¤
"Pelit!" umpat En. Pria itu sejenak menatap Sia. Memindai wajah gadis itu. Dan aksi En itu ditangkap oleh mata Arch. Sontak Arch menyenggol lengan En. Pria itu protes. "Apa sih?"
"Jangan coba-coba." Arch berkata penuh nada peringatan. En seketika tersenyum. Bisa En tangkap kalau Arch ada rasa dengan Sia. Namun Sia tidak tahu. Sebab gadis itu terlihat bersikap biasa saja pada Arch. Sedang Arch jelas memberi perhatian lebih pada Sia.
"Semua masih belum jelas. Siapa kalian?" batin En sembari menatap ke arah Sia dan Arch yang sedang bercanda.
Keempatnya mulai menyantap makanan yang mereka pesan. Sampai dua gadis itu mulai bergosip.
"Tahu gak kalau mantanmu itu mau menikah." Bisik Abby pada Sia. Teman Abby itu seketika mencoba bersikap biasa. Meski dalam hati setengah mengumpat. Selanjutnya Abby mulai menceritakan bagaimana Cherry berlagak seperti bos sekarang. Memanglah butik itu milik orang tua Cherry, tapi semua itu di bawah jaringan butik milik keluarga Aska.
__ADS_1
Jadi secara tidak langsung orang tua Cherry adalah pegawai Aska. Mungkin Cherry berpikir bisa memiliki butik itu dengan menjerat Aska. Mengikatnya dalam sebuah pernikahan. Yang membuat Abby heran, kenapa Aska jadi buta karena cinta. Bahkan ketika Cherry terang-terangan sudah mencuri design Sia. Aska hanya diam saja.
"Apa kamu tidak merasa kalau Aska sudah memanfaatkanmu?" tanya Abby. Sia langsung mendelik mendengar pertanyaan Abby. Meski detik berikutnya gadis itu terdiam. Menelaah kembali perkataan Abby. Selama enam bulan berpacaran dengan Aska, Sia berpikir kalau Aska pria baik. Pria itu selalu ada untuknya, perhatian. Tapi setelah dipikir ulang, ada yang aneh dengan hubungan mereka. Enam bulan itu tidak ada sentuhan fisik antara keduanya selain pelukan dan cium pipi. Tidak lebih.
Sia menghela nafasnya, sepertinya apa yang dikatakan Abby ada benarnya. Aska cuma memanfaatkan dirinya. Siapa yang menyangka jika hubungan itu tidak lebih dari sebuah kedok guna memuluskan rencana Cherry untuk mencuri design Sia. Cherry sejak dulu sangat iri pada Sia. Sia banyak mendapat perhatian dari orang disekelilingnya. Sebab Sia cantik, ramah dan berbakat. Semua spotlite tertuju pada Sia, pada akhirnya membuat rasa iri Cherry semakin menjadi.
Puncaknya saat keluarga Sia mengalami kecelakaan setahun lalu. Kehidupan Sia berubah drastis. Dia yang tuan putri seketika menjadi seorang gadis biasa. Bisa diibaratkan jika semua kartu emas Sia diambil. Dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Semua aset orang tua Sia yang lumayan tiba-tiba beralih nama. Sia sama sekali tidak punya apa-apa saat itu. Gadis yang malang. Saat itu, Cherry adalah manusia paling bahagia di muka bumi.
"Biarkanlah jika mereka mau menikah. Aku tidak peduli. Bukankah lebih bagus begitu. Biar Cherry mumet jagain Aska."
Sia dan Abby tertawa, pasalnya mereka tahu Aska tipe pria rewel setengah mati. Jadi benar apa yang Sia katakan.
Mereka menikmati waktu berkumpul mereka sampai larut. Abby dan Sia sibuk dengan acara gosip mereka. Serta Arch dan En yang hanya sesekali menimpali candaan dua gadis itu. Mereka berpisah jalan saat tubuh Abby mulai sempoyongan. Gadis itu nekad menenggak tiga botol bir yang diberikan pemilik kafe sebagai bonus karena keempatnya sering menghabiskan waktu di kafe itu.
"Derita lu!" teriak Sia enteng.
"Anjiiirrr, punya temen gini amat." En terus melanjutkan acara memaki dan mengumpatnya. Pria itu sepertinya sukses bertranformasi menjadi makhluk bumi yang super rempong dan super banyak omong.
Sia dan Arch melambaikan tangan pada En yang masuk ke dalam taksi. Terpaksa, tidak mungkin juga En mengajak Abby naik bus dengan keadaan seperti itu. Yang ada, Abby bisa jadi bahan pelototan penumpang lain.
Setelah Abby dan En menghilang dari pandangan. Sia dan Arch mulai berjalan menyusuri trotoar yang padat pejalan kaki. Meski hari sudah malam tapi tempat itu masih ramai dengan banyaknya pengunjung yang menghabiskan waktu di sana.
*
__ADS_1
*
Saat malam mulai merayap larut. Dan jam tidur manusia mulai datang. Saat itulah sebentuk senyum terukir di bibir pria berpakaian hitam. Pria yang masih bersembunyi di gua yang terasing dari kehidupan luar.
Seth akan memulai aksinya, jika waktu malam sudah melewati puncaknya. Seperti saat ini, pria itu mulai melancarkan aksinya. Tanda kristal hitam di dahi Seth bersinar terang, detik berikutnya asap berwarna ungu keluar dari tanda itu. Asap itu menguar lantas menyebar ke luar gua.
"Buatlah mereka bermimpi buruk. Dan bawakan energi negatif yang banyak padaku."
Seth berkata sambil menyeringai. Tak berapa lama kristal hitam tempatnya duduk, tumbuh semakin besar dan tinggi. Seiring banyaknya manusia yang mengalami mimpi buruk.
Sementara itu, En kebingungan menyadari perubahan energi yang sangat kentara. Pria itu mulai berkeliling, terbang melayang di antara langit malam. Hingga tak berapa lama, dia menemukan penyebabnya. Sebuah panggilan En buat. Dan Yue seketika muncul di sampingnya. Sayap putih keduanya langsung hilang, manakala Yue melambaikan tangan.
Yue seketika paham dengan apa yang terjadi. Pria itu memejamkan mata, hingga mata perak Yue bersinar terang. Laksana sinar bulan yang berpendar terang. Cahaya bulan itu menyapu seluruh kota. Akibatnya, mimpi buruk semua orang berganti menjadi mimpi indah.
Seth jelas menggeram marah. Ketika aliran energi negatifnya terputus. Pria itu tahu jelas siapa penyebabnya. Gagal sudah usahanya malam ini untuk menambah kekuatan. Meski begitu Seth tidak pernah putus asa. Pengendali mimpi itu pantang menyerah.
"Kau boleh menggagalkan rencanaku malam ini. Tapi aku masih punya seribu cara untuk membangun kastil kristal hitamku." Teriak Seth penuh keyakinan.
*****
Up lagi reader
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
****