In My Dream

In My Dream
Gila!


__ADS_3

"Bersabarlah Alice, sebentar lagi dia akan datang. Seratus hari itu sudah berlalu. Jiwanya dan jiwamu sudah bersatu kembali."


"Tapi Dewi, ini sudah terlalu lama."


"Sebentar lagi, dia sudah datang tapi masih ragu pada perasaannya. Ingat karena dia sangat mencintaimu."


Amethyst mengusap lembut kepala Sia. Keduanya bertemu di alam mimpi Alice. Sia adalah pemilik jiwa Alice. Setelah seratus hari, jiwa Sia masuk ke tubuh Alice. Sia mengangguk paham mendengar perkataan Amethyst. Dia hanya bisa berdiam diri, tidak boleh mencampuri urusan dunia Alice sampai wanita itu menyadari perasaannya pada Arch. Saat itulah Sia bisa menyatu dengan tubuh Alice sepenuhnya. Kali ini Arch adalah kunci Sia dan Alice bisa sempurna menjadi tubuh dan jiwa.


"Kau sedang apa?" Amethyst berjingkat saat Elyos memeluknya dari belakang.


"Kau mengagetkanku El," Amethyst memberengutkan wajahnya. Kesal dengan tingkah sang suami. Elyos terkekeh mendengar gerutuan sang istri.


"Masih mengurusi Sia?" Elyos bertanya sambil meletakkan dagunya di pundak Amethyst. Elyos benar- benar jadi pria bucin sekarang.


"Tentu saja, aku tidak bisa tenang sebelum orang-orang yang menyayangiku di dunia hidup bahagia."


"Lalu Abby bagaimana? Dia dulu cuma suka sama En, sedang En sekarang sama Meili." Elyos mengingat kalau En sudah mengutarakan perasaannya pada asisten Amethyst itu.


Amethyst tersenyum, bagaimana Elyos sekarang jadi pria yang tidak teliti. Apa dia tidak menyadari bagaimana rupa suami Alicia.


"Apa kamu tidak sadar seperti apa wajah Reiki?" Satu gerakan dari Amethyst memunculkan sebuah layar laksana monitor di depan mereka. Layar tersebut menampilkan wajah Reiki Savian Altarezza.


"Astaga, dia adalah jodoh..... Apakah kamu yang membuat Reiki selalu tidak bisa bercinta dengan Alice?" Elyos bertanya penasaran. Amethyst tersenyum samar seolah mengiyakan perkataan Elyos.


"Astaga kamu menyiksa mereka. Pantas saja Alice ngamuk mulu. Gak pernah dapat jatah." Giliran Elyos yang menggerutu kocak.


"Eh bukan begitu maksudku. Maksudku, aku ingin mereka jadi yang pertama untuk Arch dan Abby. Masa iya dapat bekas. Kan gak lucu."


"Tapi caramu membuat Rei dan Alice kayak hidup di neraka. Orang nikah kok gak bisa indehoy." Woohh... Elyos yang sekarang sungguh berbeda dengan Elyos yang dulu. Wajah dingin bak gunung es itu sekarang sudah mencair. Bahkan mulutnya mulai pandai mengucapkan guyonan receh. Meski terdengar garing.


"Alah cuma dua tahun doang abis itu mereka begituan sepuasnya."


"Seperti kita?" Amethyst seketika memutar matanya jengah. "Kumat lagi omeshnya suamiku." Batin Amethyst.


"Jangan mengumpatku," kata Elyos dengan bibir mulai berlarian di leher Amethyst.

__ADS_1


*


*



Kredit Pinterest.com


Alicia menarik nafas lantas membuka matanya pelan. Bisa dia rasakan, sebuah tangan besar yang memeluk tubuhnya, sangat posesif. Alicia melihat ke arah punggung tangannya. Luka di tempat itu sudah terbalut rapi, padahal semalam Alicia membiarkannya begitu saja. Wanita itu seolah tidak peduli pada dirinya sendiri.


"Jangan melukai dirimu lagi." Satu kalimat terdengar dari arah belakang, suara khas orang bangun tidur. Keduanya tidur di sebuah ranjang bulat dengan kelambu bernuansa hijau mengelilingi kasur tersebut.


"Jangan sok peduli padaku!" Ketus Alicia. Namun begitu, wanita itu tidak mengubah posisi tidurnya, tidak juga menyingkirkan tangan Rei yang setia memeluknya.


"Alice....."


"Jika kau peduli padaku, ceraikan aku."


Rei membalik tubuh Alicia, ditatapnya wajah cantik Alicia. Binar cinta itu terlihat jelas di mata Rei, tapi tidak di mata Alicia. Sejak hari di mana dia tahu rahasia Rei, Alicia sudah menutup pintu hatinya untuk sang suami.


"Dengar Rei, aku tidak mau terus menerus di salahkan karena aku tidak bisa hamil. Bagaimana aku bisa hamil kalau kamu saja tidak bisa eerekksi."


Dulu Alicia gadis yang polos di awal pernikahan mereka. Dia hanya tahu pengetahuan dasar soal pernikahan dan bercinta. Namun semakin ke sini dia mulai mencari tahu soal seksss dan yang lainnya. Hingga dia menemukan kejanggalan pada sang suami. Dua bulan sejak pernikahan Alicia dan Rei, suami Aicia tidak pernah pernah menyentuhnya. Pria itu hanya mencumbunya, tanpa bisa memasukinya. Pada awalnya Rei masih bisa menipu Alicia. Memuaskan wanita itu menggunakan jari, tapi lama kelamaan Alicia curiga juga. Sampai akhirnya Alicia tahu kalau milik Rei tidak bisa bangun.


Bukan masalah dia tidak mendapat nafkah batin, tapi menurut Alicia ini lebih pada kejujuran dan keterbukaan pada pasangan. Alicia merasa dibohongi, dijebak, ditipu. Semua menimbulkan kekecewaan yang mendalam pada diri Alicia. Sampai Alicia kembali menutup pintu hatinya setelah sempat mencoba untuk mencintai Rei. Wanita itu tidak lagi bisa mentolerir sikap sang suami.


"Aku pasti sembuh." Balas Rei kembali mengeratkan pelukannya pada Alicia.


"Kapan? Aku tidak bisa menahan cibiran mereka padaku. Mereka pikir aku yang bermasalah. Padahal itu kamu!" Alicia meronta dalam pelukan Rei. Pria itu punya gairaah dan nafsuu saat bersama Alicia. Siapa juga yang tidak berhasrat saat melihat tubuh mulus dan seksi milik Alicia. Masalahnya dia tidak bisa memasuki tubuh Alicia bagaimanapun dia mencoba. Sekeras apapun Rei mencoba, miliknya tidak bisa menembus kewanitaan Alicia.


"Maafkan aku Alice. Aku takut jika kamu pergi dariku. Aku tidak bisa hidup tanpamu."


*


*

__ADS_1


Alicia menghembuskan nafasnya kasar. "Kau bilang aku bisa melakukan apa yang aku mau, asal tidak pergi darimu."


Alicia menopang dagunya sambil melamun, wanita itu menatap jendela yang ada di depannya. Menikmati keramaian jalanan ibu kota. Setelah meeting, Alicia pergi ke sebuah restaurant, tempat dia dan Arch berjanji untuk bertemu, guna membahas design milik Alicia.


Tanpa Alicia sadari, Arch berjalan mendekat ke arah istri Rei itu. Awalnya Arch ingin menyapa, tapi melihat Alicia yang tengah melamun, Arch membiarkannya. Hanya saja, pandangan Arch tertuju pada punggung tangan Alicia yang terbalut kasa, ditambah masih ada warna merah di sana. Menandakan kalau luka itu masih baru.


"Tanganmu kenapa?" Arch spontan memegang pergelangan tangan Alicia.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung keduanya berdebar, desir halus itu mulai menyebar bermula dari sentuhan kulit tangan keduanya. Dua pasang mata itu seketika bertemu pandang. Arch menemukan keberadaan Sia dalam bola mata Alicia.


"Sia...." Bisik Arch lirih. Alicia reflek menarik tangannya dari genggaman tangan Arch. Hal itu membuat Arch tersadar.


"Maaf...." Satu kata terdengar dari bibir Arch. Alicia menatap Arch penuh tanya. "Aku heran, dari berita yang kudengar, kekasihnya meninggal lebih dari tiga bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang dia masih belum bisa melupakannya. Hebat." Monolog Alicia dalam hati.


..."Siapa kamu? Kenapa aku bisa melihat sosok Sia dalam dirimu. Hati...jangan kau oleng ke bini orang dong." Lagi Arch memanjatkan doa yang sama, agar hatinya tidak lancang mencintai istri orang....


..."Apa yang terjadi dengan tanganmu?" Arch terlalu kepo untuk tidak bertanya perihal tangan Alicia....


"Bukan urusanmu!" Alicia menjawab ketus. Wanita itu ingin beranjak pergi. Namun Arch menahan tangan Alicia.


"Jika suamimu menyakitimu. Kau bisa bicara padaku. Aku akan membelamu dan menolongmu." Ucapan Arch sungguh di luar dugaan keduanya. Baik Arch maupun Alicia tidak percaya dengan apa yang baru saja Arch katakan.


"Gila! Aku pasti sudah gila!" Maki Arch pada dirinya sendiri. Tidak tahu bagaimana mulutnya bisa bicara seperti itu.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2