In My Dream

In My Dream
Tawaran


__ADS_3

Rei terduduk lemas di ruang kerja, di kamarnya. Berita terbaru dia dapat. Alou Group mendapatkan dukungan dana penuh dari Atmaja Group, penguasa perbankan yang sesungguhnya di negeri ini. Sepertinya Rei lupa dengan peribahasa di atas langit masih ada langit. Dan inilah yang sedang terjadi. Dia yang merasa di atas angin, kini harus merasakan rasanya dihempaskan ke bumi. Bukan Alicia yang hancur tapi keluarganya yang menanggung malu.


Berita perceraiannya sudah menyebar, Alicia yang diburu paparazi memberi pernyataan bahwa semua ini kesalahannya, dia tidak bisa memberi keturunan adalah isu yang diangkat Alicia untuk dijadikan komsumsi publik. "Dia bahkan menanggung semua sendiri."


Beberapa netizen memang menyudutkan Alicia. Namun di sisi lain banyak yang memuji tindakan Alicia. Mereka berpendapat, Alicia memilih mundur dan memberi kesempatan pada Rei untuk menikah lagi dan memiliki keturunan.


"Rei....Rei....kau sudah mendengar berita paling baru. Mantan istrimu yang mandul itu mengaku....."


Rei memutar matanya malas. Kini dia tahu kalau yang dikatakan Alicia soal ibunya benar. Ibunya baik pada Alicia hanya karena menginginkan anak dari gadis itu. Bukan karena tulus menyayangi Alicia.


"Diamlah, Ma. Apa Mama tidak bisa membaca laporan medis itu. Rei yang bermasalah, bukan Alicia. Jangan menyebutnya mandul lagi. Rei belum pernah menyentuhnya."


Ibu Rei menutup mulutnya, tidak percaya. Jadi Alicia masih perawan. "Lalu siapa dia?" Suara papa Rei muncul di belakang mama Rei.


"Siapa Pa?" Rei tidak tahu siapa yang dimaksud oleh sang ayah.


"Wanita yang sering kau temui selain Alicia. Dia juga yang kau bawa masuk ke hotel."


Glek! Rei menelan ludahnya susah payah. Bagaimana sang papa tahu soal Abby? Tidak! Bagaimana menjelaskan kalau justru dengan Abby-lah miliknya merespon.


"Jawab Rei! Kenapa malah diam?" Cecar sang mama yang terlanjur kesal karena dibentak oleh Rei tadi.


"Dia....namanya Abby. Dia...dia....yang bisa menyembuhkan Rei."


Ha? Mama dan Papa saling pandang. Tidak tahu dengan maksud Rei. Sang anak mendengus kesal. Hingga Rei terpaksa menjelaskan. Kalau dengan Abby miliknya bisa bangun dan bisa diajak bercinta.


"Jadi kau dan gadis itu....siapa namanya....Abby, ya Abby sudah.... tidur bersama." Tanya mama Rei terbata-bata. Di satu sisi ada kabar baik karena Rei bisa sembuh jika bersama Abby, bahkan keduanya sudah mencuri start, dan hasilnya Rei bisa menembak di rahim Abby.


"Tapi Rei jika berita ini bocor ke publik, mereka akan menganggapmu selingkuh."


"Itu dia masalahnya Pa. Apa lagi Abby benci sekali sama Rei, ditambah dia dan Alicia sekarang berteman."


Mama dan Papa Rei kembali saling tatap. Bagi Mama Rei dengan siapapun itu, sekarang tidak jadi masalah. Yang penting perempuan itu bisa hamil anak Rei. Terlebih mama Rei sudah melihat foto Abby, tidak kalah cantik dengan Alicia.


"Begini...mama ada ide...."


*


*

__ADS_1


Byuuuuuurrr


Uhukkkkk


"Kau tidak salah bicara. Mama Rei ingin bertemu denganmu?" Arch mengelap kemeja bagian depannya yang basah karena terkena semburan air darinya sendiri. Bibir pria itu sibuk mengumpat Abby yang asal mangap kalau bicara, tidak tahu apa kalau dirinya sedang minum.


"Iya, dia menghubungiku pagi ini." Abby berucap santai, mengacuhkan tampilan berantakan Arch gara-gara dirinya.


"Lalu bagaimana?"


"Apa lagi, akan aku temui dia."


"Ini pasti ada hubungannya dengan Rei yang bisa tegang saat bersamamu." Tebak Arch asal. Abby mendelik mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Bahasamu lo yo. Tolong sopan sedikit. Malu tahu." Balas Abby sambil menutup wajahnya dengan serbet makan.


"Malu apanya. Itu wajar buat kita. Kita seharusnya sudah gendong anak sekarang. Mau ngomongin cara bikin anak. Gak ada masalah buat kita."


Arch mendelik, karena Abby menendang kaki pria itudi bawah meja. "Abby...lu bar-bar amat sih. Lu gitu juga kalau di kasur. Alahhh busyettt...." Arch meringis keras saat Abby mencubit punggung tangannya.


"Jangan buka kartu napa?" bisik Abby. Tawa Arch meledak, mendengar jawaban tidak jelas dari Abby.


"Lalu apa rencanamu? Apa kau akan menemui nyonya rubah itu?" Abby melongo mendengar sebutan Arch untuk ibu Rei.


"Kalau maknya nyonya rubah, anaknya pangeran rubah dong."


"Pangeran gak tuh. Kau itu sebenarnya suka kan dengan Rei ini?"


Deg! Jantung Abby seolah berhenti berdetak. "Aku....."


*


*


Mama Rei tersenyum melihat Abby yang berjalan ke arahnya. Sudah dia duga kalau Abby sama saja dengan wanita lain, wanita matre. Dia pikir Abby hanya mengincar kekayaan Rei, yang miliknya bisa berdiri saat bersama Abby.


"Selamat siang, Tante." Sapa Abby. Wanita itu langsung duduk di depan Mama Rei. Senyum mama Rei semakin lebar, melihat Abby yang ternyata memang cantik. Sedikit lebih tinggi dari Alicia. Meski tubuh keduanya sama-sama langsing.


"Ada apa ya tante ingin bertemu?" Abby bertanya tanpa basa basi. To the poin sekali, walau Abby sudah bisa menebak apa yang ingin mama Rei katakan.

__ADS_1


"Begini karena kamu sudah bertanya, jadi langsung saja. Setelah Rei bercerai dengan Alicia, tante ingin kau menikah dengan Rei."


Benar-benar langsung ke topik utama, tidak ada sapa atau sekedar percakapan pembuka ala kadarnya.


"Kenapa harus saya? Saya cuma orang miskin, tidak sebanding dengan kalian." Abby bertanya setengah menantang mama Rei. Duduk sambil menyilangkan kaki dan melipat tangan. Sikap Abby terlihat sangat angkuh. Abby memang hanya gadis biasa tapi pendukung gadis itu luar biasa. Keluarga Atmaja dan keluarga Wijaya mendukung rencana Abby.


"Tante tidak melihat itu, yang penting....yang penting Rei jatuh cinta padamu."


Huweeeekkkk, Abby rasa ya ingin muntah. Ibu dan anak itu sama-sama menyebalkan. "Bilang saja ingin aku menikah dengan Rei, agar Rei bisa punya anak." Gerutu Abby dalam hati.


"Bagaimana?" mama Rei terlihat berharap agar Abby menjawab iya. Hanya Abby yang bisa mengandung anak Rei. Abby harus menjadi istri Rei, agar garis keturunan keluarga Altezza tidak terputus.


Abby diam tampak berpikir. Dua sudut bibir Abby tertarik membentuk lengkung senyum samar. "Tapi maaf tante saya tidak berminat jadi mantu tante." Abby menjawab setengah menyindir.


"Sial! Pasti Alice sudah mempengaruhi pikiran Abby."


"Tapi Abby....kamu bisa hidup enak kalau jadi istri Rei." Bujuk mama Rei. Abby kan matre, iming-imingi saja hidup tanpa kerja. Abby tertawa sumbang mendengar penuturan mama Rei.


"Tante maaf, saya bukan wanita yang suka hidup hanya dengan ongkang-ongkang kaki saja."


Skak mat! Balasan Abby tepat mengenai sasaran. Sebab mama Rei sama sekali tidak bekerja. Hanya duduk di rumah sambil shopping menghabiskan uang sang suami.


Abby tersenyum puas melihat reaksi mama Rei. Ingin marah tapi tidak berani. Mama Rei pasti takut kalau dia menolak tawarannya.


"Maaf tante, sekali lagi maaf. Kalau memang Rei ingin saya jadi istrinya, sepatutnya dia yang ada di sini. Seharusnya dia yang meminta saya. Bukan tante."


"Jadi kamu ingin aku yang melamarmu? Begitu keinginanmu?"


****



Rey dan Abby, nanti tapi...🤭🤭


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2