In My Dream

In My Dream
Dilema


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Alicia tiba di sebuah rumah megah, kediaman Altarezza. Wanita itu menarik nafasnya dalam sebelum membuka pintu besar rumah itu. Sebuah ruang tamu yang luas dan mewah menyambut mata Alicia. Wanita itu kembali menarik nafasnya. Alicia melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke rumah tersebut.


"Oh, Alice kau sudah pulang. Mari makan bersama." Seorang wanita cantik menyapa Alicia. Maurin Altarezza, ibu mertua Alicia, mama dari Rei, suami Alicia. Wajahnya terlihat ramah, senyumnya memancarkan ketulusan dari hatinya.


Alicia ingin menolak, tapi Maurin sudah menggamit lengan Alicia lalu menuntunnya ke meja makan. Di mana papa mertua Alicia sudah menunggu. Pria bernama Rinald Altarezza itu seketika mengembangkan senyum melihat menantunya pulang.


Sungguh, keluarga Rei bersikap sangat baik pada Alicia. Namun kenapa Alicia terlihat tidak bahagia? Wanita itu menuruti keinginan Maurin, duduk di meja makan. Lalu makan makanan yang khusus dibuat untuknya. Makanan untuk menyuburkan kandungan, dan sejenisnya. Batin Alicia ingin menangis melihat semua hidangan yang disiapkan untuknya.


"Makan yang banyak ya, sayang." Kata Maurin lembut sambil mengusap kepala Alicia, seperti membujuk seorang anak kecil agar patuh pada perintah orang tuanya.


Alicia menelan makanan itu susah payah. Campuran buah alpukat, dengan buah apel plus brokoli dengan siraman madu dan sedikit mayonaise, Alicia sebenarnya ingin muntah saking seringnya dia disuguhi makanan seperti itu. Baru beberapa sendok menyuap, satu sapaan terdengar dari arah luar. Rei, pulang ke rumah besar tersebut.


Pria itu langsung mendekat ke arah Alicia lantas mencium puncak kepala sang istri. Reia nampak sangat mencintai Alicia. Mendapat perlakuan mesra seperti itu Alicia hanya bergeming. Membalas tidak, menyahut sapaan sayang dari Rei pun tidak. Wajah Alicia terlihat datar. Tidak ada ekspresi apapun di sana.


Rei melirik menu makan malam sang istri, raut bersalah seketika terlihat di wajah Rei. Pria itu hanya bisa menarik nafasnya berat.


*


*


"Bebaskan aku!"


Braaaakkkkkkk


Terdengar pintu yang ditutup keras. Tak berapa lama, pintu itu kembali terbuka. Masuklah Rei yang segera memeluk Alicia. Wanita itu seketika berontak, meronta ingin melepaskan diri dari dekapan Rei.


"Maafkan aku Alice. Aku mencintaimu. Aku tidak mau berpisah denganmu." Kata Rei penuh permohonan.


"Tapi aku tidak mencintaimu. Kau menjebakku. Kau bohong padaku! Kau membuatku jadi kambing hitam atas keadaan dirimu yang tidak normal. Aku lelah Rei, aku muak! Aku ingin pergi dari sini!" Teriak Alicia keras.

__ADS_1


Rei terus memeluk Alicia tanpa ingin melepaskannya. Pria itu merutuki keadaan dirinya. Dia sangat mencintai Alicia sejak pertama bertemu dengan gadis itu. Karena itulah, Rei datang pada ayah Alicia. Pria itu menyampaikan niatnya untuk menikahi Alicia. Sebagai seorang ayah, Alderon Alou tidak serta merta memberikan restunya. Pria itu lantas melakukan penyelidikan tentang siapa Reiki Savian Altarezza. Dan hasilnya pria itu bersih, beberapa kali pacaran tapi tidak ada skandal yang muncul ke permukaan.


Singkat kata, Alderon akhirnya menerima Rei menjadi calon menantunya. Walau dia belum bicara dengan Alicia. Alicia waktu itu berusia 25 tahun, belum pernah pacaran sama sekali. Sebagai putri tunggal, Alicia diperlakukan bak putri dengan pengawalan ekstra ketat, terlebih setelah kematian ibu kandungnya. Alderon yang skeptis dengan keadaan itu lantas berpikir. Kalau Alicia haruslah mendapat jodoh seorang pria yang mampu melindungi sang putri. Dalam artian pria itu harus punya kedudukan dan kekuasaan. Dan Rei adalah kandidat yang tepat. Tanpa pria itu tahu, Rei menyimpan rahasia besar dalam hidupnya.


Alderon memutuskan secara sepihak soal pernikahan Alicia, saat Alicia terlihat menerima Rei ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Dari hari itu hingga ke hari pernikahan keduanya hanya berjarak dua bulan. Sebuah grand wedding yang cukup menggemparkan negeri terjadi. Hingga hari ini, usia pernikahan keduanya memasuki tahun ke-dua.


Selalu tampil mesra di hadapan publik membuat keduanya menjadi couple goal, panutan bagi tiap pasangan yang ingin menikah. Meski sampai detik ini keduanya belum dikaruniai seorang anak. Hal yang membuat publik semakin kagum pada Rei dan Alicia. Tanpa seorang pun tahu badai apa yang telah menghampiri pernikahan keduanya.


"Aku mohon jangan tinggalkan diriku, Alice. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Lakukan apapun yang kau inginkan, asal jangan pergi dariku." Mohon Rei, pria itu bahkan sudah jatuh berlutut sambil memeluk kaki Alicia.


Alicia seketika mendongakkan kepalanya. Inilah yang terjadi tiap kali dirinya berteriak minta berpisah. Rei akan memohon, berlutut pada Alicia agar wanita itu tidak pergi darinya.


Nafas Alicia memburu, menahan emosi yang terpendam di dada. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi meluapkan emosinya. Pada akhirnya Alicia hanya bisa menangis pilu, meratapi nasibnya sendiri.


Alicia ingin pergi dari penjara cinta Rei yang sangat menyiksanya. Mengatasnamakan cinta, tapi Rei hanya membuat batin Alicia tersiksa. Wanita itu hanya bisa menangis sambil memukul dinding kamar mandi. Tidak peduli darah mengalir dari punggung tangan Alicia.


*


*


Arch tidak paham dengan konsep bangunan itu. "Ini maunya bagaimana sih?" gumam Arch. Pria itu tidak mengetahui nomor ponsel Alicia. Dia perlu mengetahui apa yang diinginkan wanita itu dalam designnya.


"Neo kau tahu nomor Alicia?" Arch bertanya saat Neo mengantarkan berkas untuk dia periksa ulang. Mendengar pertanyaan Arch, Neo seketika memicingkan mata. Pria itu menatap curiga pada tuannya.


"Kenapa kau melihatku seperti? Hei aku cuma mau bertanya soal gambar ini. Dia maunya apa? Bagaimana?" jawab Arch sambil melambai-lambaikan kertas dari Alicia.


"Janji itu cuma urusan gambar. Bukan urusan lain." Neo bertanya curiga.


"Ck, aku masih waras ya. Dosa gangguin rumah tangga orang. Kecuali ada situasi dan kondisi yang membenarkan kita untuk melakukan hal itu."


Neo memutar matanya jengah. Sudah benar di awal kalimat, eh ujung-ujungnya kacau juga di akhir.


"Buruan kasih. Kerjaanku numpuk nih." Arch mengulurkan tangannya. Minta ponsel Neo.

__ADS_1


"Nomor Fex aja ya." Sahut Neo sambil nyengir.


"Wuuu, bilang aja gak punya nomor Alicia Alou." Judes Arch. Sementara Neo hanya bisa melebarkan senyumnya, hingga deretan gigi Neo terlihat. Pria itu lantas mengirimkan nomor Fex ke ponsel Arch. Dan Arch langsung menuliskan sebuah pesan pada Fex. Berharap kalau asisten Alicia itu akan segera membalasnya.


Arch baru saja akan meraih dokumen lain, ketika ponselnya berdering. Panggilan dari nomor tidak dikenal. Arch bergeming sesaat. Sedikit ragu untuk menjawab, sampai akhirnya, jari Arch menggeser icon hijau di benda pipih miliknya.


"Halo......"


"Tuan Wijaya bisa kita bertemu untuk membicarakan design itu."


Deg....


Deg....


Deg....


Jantung Arch terpacu, mendengar suara Alicia di ponselnya. Suara yang sangat rindu, suara Sia. Betapa besar cinta yang Arch miliki untuk Sia. Sampai saat ini, pria itu belum bisa melupakan gadis tersebut. Namun kehadiran Alicia, mulai membuat hati Arch goyah.


..."Please hati, jangan main asal jatuh cinta dong. Istri orang tu. Bisa digantung di pohon mangga sama pak Wijaya nanti, kalau aku ketahuan godain bini orang."...


Monolog Arch kocak dalam hati. Hanya mendengar suara Alicia saja, hatinya sudah tidak karuan. Bagaimana jika nanti dia bertemu dengan istri Reiki Altarezza itu. Bisa kacau keadaan kalau begitu. Arch hanya bisa mengusak kasar kepalanya sendiri. Dilema dengan apa yang harus dia lakukan.


****



Kredit Pinterest.com


Arch yang lagi bingung, ada yang mau bantuin mikir? 🤭🤭


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2