
"Si...Sia...tunggu."
Arch berlari menyusul Sia yang keluar dari mobilnya secara paksa. Gadis itu bahkan tidak menghiraukan panggilan Arch. Sia berjalan tak tentu arah, menerobos dalam kerumuman banyak orang yang tengah menikmati suasana malam di tepi jalan tersebut.
"Berhenti Si." Arch meraih tangan Sia, dan menariknya mendekat ke arah Arch. "Lepas!"
"Nggak!" Arch menjawab tegas. Dua pasang mata itu saling pandang. "Jangan marah padaku, aku tidak tahan jika kamu terus begini padaku." Kata Arch menarik pinggang Sia mendekat ke arahnya.
"Ini apa sih? Kita gak kenal!" Sia berusaha melepaskan diri dari belitan tangan Arch. Sia cukup canggung dengan posisi ini. Terlebih mereka tengah berada di keramaian.
"Makanya kita kenalan dulu." Balas Arch menatap wajah Sia yang hanya sebatas pundaknya.
"Gak mau! Lepas!" Sia berusaha mendorong jauh tubuh Arch. Namun Arch, tidak membiarkan gadis itu lepas begitu saja.
"Katakan kau mau pindah ke divisi design dulu. Baru kulepaskan." Akal Arch mulai berjalan. Dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk menekan Sia. Sementara Sia terus berguman tidak jelas. Dengan Arch yang sejak tadi memandangi wajah Sia yang kesal.
"Nggak mau!" Sia terus berontak. Namun belitan tangan Arch justru semakin kuat. Tubuh keduanya menempel satu sama lain. Aroma maskulin Arch langsung memenuhi indera penciuman Sia. Pria ini sungguh berbeda dengan Arch yang tinggal di rumahnya. Arch yang ini jelas berkelas.
"Kalau tidak mau ya sudah, kita beginian terus semalaman. Gak masalah." Sahut Arch enteng. Sia seketika membulatkan matanya mendengar ucapan enteng dari atasannya itu.
"Dasar mesum." Desis Sia.
"Eitts, mesum dari mananya. Kita cuma pelukan. Kalau mesum itu seperti itu no...." Arch menunjuk pada pria dan wanita yang tengah berciuman dengan dagunya. Sia seketika memalingkan wajahnya melihat hal itu.
"Apaan sih?!" Omel Sia.
"Itu baru namanya mesum. Tidak tahu tempat. Nah kita...kita kan cuma pelukan."
"Lepaskan Arch. Aku gak mau jadi tontonan orang banyak." Sia mulai risih dengan posisi ini. Jantungnya mulai berdebar tidak karuan. Sama seperti saat dia bersama Elyos.
"Bilang dulu mau pindah divisi." Kata Arch tidak mau rugi.
"Arch....." Sia menggeliat pelan dalam dekapan dua tangan sang atasan.
"Say it." Arch benar-benar tidak mau mengalah. Sia tentu kelabakan. Terlebih saat Sia mendongak, wajah Arch hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Karena pria itu tengah menunduk. Mata cantik Sia, berkedip-kedip lucu. Menggemaskan sekali dalam pandangan Arch. Tampan, siapa yang akan menyangkal rupa menawan dari bos Sia ini. Semua orang juga mengakuinya.
"Pak bos...."
__ADS_1
"Katakan....." Arch mulai mendekatkan wajahnya. Hidung keduanya mulai bersentuhan. Satu gerakan lagi, bisa dipastikan jika bibir mereka yang akan bertemu.
"Iya....iya...aku pindah divisi." Putus Sia cepat. Biarlah dia pindah divisi dari pada dicium pria yang berkata tidak kenal, tapi bersikap sok akrab.
"Yes!!!!" Batin Arch bersorak senang.
"Tapi tanggung Si." Sia mendelik saat bibir Arch sungguh menempel pada bibirnya. Tanpa Sia tahu, dalam satu kedipan mata. Manik biru itu sudah menguasai netra Arch. Elyos, si pangeran mimpi yang kini mencium Sia. Untuk pertama kalinya, penjaga kristal mimpi mencium seorang gadis. Gadis yang sungguh jauh statusnya dari dirinya. Dia makhluk abadi dan Sia manusia. Mereka jelas berbeda.
Merasa kenal dengan sentuhan di tubuhnya. Sia tidak menolak kala Elyos memagut lembut bibirnya. Sangat intens. Untuk sesaat, keduanya terhanyut dalam permainan bibir Elyos. Pria itu sendiri tidak tahu dari mana pikiran untuk mencium Sia datang. Dia hanya berpikir tidak rela jika Arch menyentuh Sia.
"Wah...lihat...siapa ini?"
Satu suara, dan satu kedipan mata, netra biru itu berganti warna. Arch kembali. Pria itu sesaat menatap wajah Sia dengan bibir keduanya masih menempel.
"Aku tidak tahu jika kau pacaran dengan bosmu." Suara dengan nada mengejek itu membuyarkan pelukan Arch. Meski pria itu tetap merangkul Sia posesif.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" tantang Arch. Pria itu menatap benci pada dua orang yang berdiri di hadapannya. Sedang Sia sibuk melepaskan tangan Arch dari pundaknya.
Cherry mendengus kesal melihat Sia yang sedang berciuman dengan Arch. Pria yang baru saja dia jadikan target selanjutnya. Cherry telah menyelidiki siapa Arch, pria yang ternyata sepuluh kali atau seratus kali lebih kaya dari Aska. Pria yang berdiri di sampingnya.
Sedang Aska, pria itu tampak mengepalkan tangan melihat bagaimana posesifnya Arch pada Sia, mantan kekasih yang diputuskannya karena lebih memilih Cherry. Eh salah, Sia yang lebih dulu memutuskan Aska.
"So....what's wrong with that. Aku gak peduli siapa Sia. Yang penting aku cinta padanya. Don't you get it? Minggir!" Usir Arch, menerobos Aska dan Cherry sambil menggandeng tangan Sia erat.
Perkataan Arch seolah menyentil Aska. Pria itu akui kalau dia memilih harta dan rupa waktu itu. Tanpa dia bayangkan, jika Sia sekarang berpuluh-puluh kali lebih cantik dari Cherry. Bahkan seorang Archie saja dengan lantang berani menyuarakan rasa cintanya pada Sia.
"Sial!" Aska mengumpat dalam hati. Melihat Arch yang membawa pergi Sia dari hadapannya. Aska kini mulai ragu pada perasaannya. Selama pacaran dengan Sia, gadis itu selalu bersikap baik pada Aska. Selalu memberi dukungan pada apa yang Aska lakukan. Gadis itu tidak pernah minta apapun padanya.
Berbeda dengan Cherry. Pacar Aska itu sering meminta ini dan itu. Bahkan untuk acara pernikahan mereka nanti, Cherry minta perhelatan yang wah dan mewah. Menyesalkah Aska melepaskan Sia? Entahlah, pria itu kini bingung dengan perasaannya sendiri. Terlebih ada rasa bersalah dalam hati Aska. Pria itulah yang telah mencuri design Sia dan memberikannya pada Cherry. Padahal Sia jelas lebih berbakat dari Cherry.
Begitu Aska, lain pula yang dirasakan Cherry. Gadis itu jelas tidak suka, jika Arch berpacaran dengan Sia. Gadis itu selalu ingin mendapatkan apa yang Sia miliki. Sifat irinya tidak berubah sama sekali. "Lihatlah Sia, akan kurebut semua yang kau miliki. Sama seperti aku merebut Aska darimu. Itu mudah." Batin Cherry penuh percaya diri.
Sementara itu, Sia tampak cemberut setelah kejadian tadi. Bagaimana bisa Arch berkata kalau mereka pacaran, yang benar saja.
"Apa maksudmu dengan mengatakan kalau kita pacaran?" cecar Sia. Keduanya sudah berada di mobil Arch. Pria itu melajukannya menuju rumah Sia.
"Tidak ada. Hanya ingin membuat mereka panas. Eehhh, tapi kalau beneran kamu mau kan?" tanya Arch mulai membelokkan mobilnya ke jalan arah rumah Sia.
__ADS_1
"Gak mau!" Jawab Sia jutek. Gadis itu mengerutkan dahinya. Bagaimana Arch tahu rumahnya, jika pria itu berkata tidak mengenalnya.
"Tuh kan? Gak mau juga. Sudah kita pacaran saja."
"Dari mana kamu tahu rumahku?" Potong Sia tajam.
Glek! Arch menelan salivanya susah payah. Dia lupa masih dalam kontek tidak kenal dengan Sia. Tapi dengan entengnya pria itu malah mengantarkan Sia pulang, tanpa bertanya dulu pada Sia di mana rumah gadis itu.
"Jawab! Jika kau bukan dia, tentu kau tidak akan tahu rumahku. Tidak banyak orang yang tahu rumahku."
"Aaarrggg..." Arch berusaha memutar otaknya. Mencari jawaban yang sekiranya masuk logika. Dia belum mau membeberkan siapa dirinya sekarang. Setidaknya untuk malam ini.
"Oh... map...aku pakai map." Arch menunjukkan ponselnya.
"Alamatnya?"
"Aahh En...aku tanya En. Dia temanmu kan?"
Sia memicingkan mata. Setahu Sia, En tidak tahu rumahnya, kecuali Abby memberitahunya. Sesaat Sia memandang penuh selidik pada Arch. Hingga gadis itu membuka pintu, lantas keluar dari mobil Arch, tanpa kata. Dari dalam mobilnya, Arch menatap Sia yang masuk ke dalam rumahnya. Pria itu menjalankan mobilnya, menjauh dari rumah Sia, setelah memastikan kalau gadis itu sudah masuk ke rumahnya.
"Untung masih bisa ngeles." Batin Arch lega.
Arch melajukan mobil menuju rumahnya. 20 menit berselang, Arch sudah masuk ke rumahnya sendiri. Baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu. Satu suara kembali membuat otak Arch harus berpikir keras. Bagaimana dia mencari alasan kali ini.
"Dari mana kamu? Asistenmu sudah pulang dari tadi. Kenapa kamu baru pulang?"
Arch berjengit mendengar suara interogasi itu. "Ngeles dengan cara apa lagi ya sekarang?" Batin Arch pusing. Lama-lama pria itu bisa sedeng sendiri dengan acara kucing-kucingan yang dia ciptakan.
***
Kredit Pinterest.com
Arch yang suka kucing-kucingan plus tukang ngeles 🤭🤭🤭
Up lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih."