
Aro berada di kantor Rissa. Pria itu pikir harus menjelaskan semua sekarang. Dia tidak mau lagi menyembunyikan perasaannya. Dia ingin jujur pada Rissa. Setelah kejadian Aro mencium Rissa tempo hari. Wanita itu jadi menghindari Aro. Tidak mengangkat telepon pria itu, juga tidak mau diajak bertemu dengan alasan sibuk.
Sementara di sisi Rissa, wanita itu menghindari Aro sebab dia takut untuk mengakui perasaannya. Selepas ciuman dirinya dan Aro, wanita itu menyadari kalau dia juga punya rasa dengan kakak Arch itu. Jantungnya berdebar kencang kala mengingat adu bibir mereka.
"Hiiiii, aku pasti sudah gila!" Rissa mengusak wajahnya kasar. Mendorong jauh berkas yang tengah dia kerjakan. Dia sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Kepalanya hanya berisi Aro, Aro dan Aro. Beberapa kali wanita itu tampak memijat pangkal hidungnya.
"Apa justru aku yang menyukainya," gumam Rissa pelan. Bagaimana jadinya ini? Dia dijodohkan dengan Arch tapi malah menyukai kakaknya. Hah...pusing! Rissa memaki dirinya sendiri. Kenapa jadi lemah dalam hal percintaan.
Lamunan Rissa bubar jalan ketika mendengar pintu ruangannya diketuk. Pintu terbuka setelah Rissa mengizinkan tamunya masuk. Dan alangkah terkejutnya Rissa melihat siapa yang datang. Aro....batin hati Rissa melompat senang. Seperti orang yang tengah memendam rindu, wanita itu begitu bahagia melihat kemunculan Aro di hadapannya.
"Haissshhh, apa sih yang kurasakan pada pria ini?" lagi-lagi hati Rissa bertanya.
Aro mendekat ke arah Rissa, beberapa hari tidak bertemu, membuat Rissa terlihat begitu cantik di mata Aro.
"Sa....." panggil Aro lirih. Pria itu akhirnya hanya bisa diam melihat Rissa yang kini tengah menatapnya.
"Aku ingin menjelaskan semua. Soal kejadian waktu itu. Aku pikir, aku mencintaimu," kata Aro terus terang.
Rissa terdiam, meski dalam hati bersorak senang. Wanita itu diam-diam mengulum senyumnya. Gayung bersambut. Rasa sukanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Untuk sesaat, keduanya saling pandang. Aro menunggu jawaban Rissa dan Rissa masih mempertimbangkan, jawaban apa yang akan dia berikan pada Aro.
"Kok diam saja. Kasih jawaban dong." Aro mulai gusar, karena Rissa hanya diam, tanpa memberinya tanggapan.
"Jawaban apa yang kamu mau?" tantang Rissa.
Aro menyeringai mendengar ucapan Rissa. Tantangan, dan Aro sangat suka tantangan. "Aku ingin kata iya terucap dari bibirmu." Kata Aro menggunakan dua tangannya bertumpu pada meja Rissa. Dan Rissa menopang dagu dengan tangan kirinya.
"Sayangnya jawabanku tidak," tolak Rissa.
__ADS_1
Senyum Aro pudar. Bagaimana bisa Rissa tidak ada rasa padanya. Padahal wanita itu jelas-jelas membalas tiap pagutan yang dia berikan.
"Kau ingin mengelak? Kau tidak mau mengakui kalau kau juga menikmati ciuman kita? Atau kau tidak mau mengaku kalau kau juga suka padaku." Rissa mendelik mendengar perkataan Aro. Dia saja masih malu dengan kejadian itu, Aro malah dengan lantang mengungkitnya.
"Aku hanya terbawa suasana," balas Rissa singkat. Wanita tidak ingin terlalu cepat mengakui perasaannya pada Aro. Dia takut kalau itu hanya perasaan sesaat, karena Rissa belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Ciuman dengan Aro kemarin adalah ciuman pertamanya.
Aro mengepalkan tangannya. Dia seharusnya bisa menduga kalau hal ini akan terjadi. Dia ditolak oleh Rissa.
"Baiklah, kalau kamu memang tidak punya perasaan apa-apa padaku. Maaf untuk ciuman waktu itu. Aku pergi." Aro membalikkan badan. Berlalu dari hadapan Risa. Untuk sejenak, Aro berharap kalau Rissa akan menahan kepergiannya. Namun nyatanya tidak. Wanita itu hanya terdiam sampai Aro menghilang di balik pintu.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau mengakui perasaanmu, aku tidak akan memaksa. Aku tidak akan mengejarmu lagi," batin Aro lemas.
"Berikan aku waktu untuk berpikir," kata Rissa dalam hati.
Dua orang dengan hati masih meragu itu kini saling berpaling. Mencoba meyakinkan hati masing-masing.
Hari berganti pagi. Dua orang lain berjalan beriringan dengan wajah cemberut. Arch dan Sia, keduanya masih kesal satu sama lain. Sia marah karena Arch main bawa dirinya ke apartemennya. Sementara Arch menyangkal kalau dia yang membawa Sia ke tempatnya.
"Astaga Si, gak bohong aku. Aku tahunya kita sudah kelonan di kamarku. Gak ingat apa-apa," bisik Arch karena keduanya sudah beradu dengan tubuh penumpang lain.
"Gak caya!" Sia berjinjit karena dia tidak mau orang lain mendengar ucapannya. Bus mulai berjalan, dengan kepadatan penumpang di atas rata-rata.
"Ya ampun, kakiku." Lirih Arch, ketika pria itu merasa kakinya diinjak penumpang lain. Satu lirikan maut Arch dapat dari Sia. Pria itu mendelik melihat reaksi Sia. Bukannya nolongin malah memarahi.
"Siapa suruh tiang listrik naik bus." Ledek Sia. Ya, dengan tinggi 185 cm, Arch cukup mencolok di dalam bus. Plus wajah tampan yang mendominasi pemandangan di dalam angkutan ibu kota itu. Sia sendiri sejak tadi anteng dalam "pelukan" tangan Arch. Pria itu meletakkan tangannya di kiri kanan tubuh Sia, hingga gadis itu terlihat berada dalam perlindungan Arch.
Ciiiiitttttt, suara rem dipijak pak supir. Semua orang terhuyung ke depan. Termasuk Sia dan Arch. Pria itu dengan cepat meraih pegangan besi di atas kepala Arch. Satu tangan dia gunakan untuk menahan tubuh Sia yang hampir jatuh ke depan.
"Aduuuuhhh, pak supir ini gimana sih?"
__ADS_1
Deg....gerutuan Sia menghilang saat tatapan Sia beradu dengan mata hitam Arch. Jantung gadis itu berdebar kencang. Dengan Arch yang juga terpana pada manik hitam Sia.
"Tidak apa-apa?"
"Eeeehhhh......." Tubuh Sia terdorong maju hingga gadis itu membentur tubuh Arch. Dua pasang mata itu semakin intens bertatapan. Semakin lama perasaan keduanya semakin tidak karuan.
"Lepas!" desis Sia saat Arch justru menahan tubuh Sia dalam dekapannya. Seorang pria di belakang Sia lewat untuk turun dari bus. Dan keadaan itu bertahan sampai keduanya sampai di kantor Dreamaker.
"Huffftt," Sia menghembuskan nafasnya kasar. Situasi sangat canggung itu berakhir juga. Keduanya berjalan masuk ke kantor Dreamaker dalam diam.
"Sia berhenti!" satu panggilan Sia dengar hingga gadis itu berbalik. Dan plaaakkkkk, satu tamparan mendarat di pipi Sia. Gadis itu termangu dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Tak lama Sia mengusap pipinya yang memerah dan perih.
"Apa yang kau lakukan ha?" Arch berteriak marah. Melihat seorang wanita menampar Sia.
"Kau dasar biang kerok. Gara-gara kau, Aska membatalkan pernikahannya." Pekik wanita itu.
Sia melongo, sementara Arch langsung pasang badan untuk melindungi Sia karena wanita itu akan menampar Sia sekali lagi.
"Hentikan! Ini kawasan kantor. Bukan ring tinju untuk duel!" Kesal Arch. Pria itu nampak menahan marah pada wanita yang sekarang balik menatap nyalang padanya.
"Dasar gadis pembawa masalah!" cibir wanita itu.
****
Arch dan Sia,
Up lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih."
****