
"Bersikaplah pura-pura tidak baik pada Sia. Dengan begitu Papa tidak akan curiga."
Arch memejamkan mata, sembari menarik nafasnya dalam. Pria itu tengah mematut diri di depan cermin di walk in closetnya.
"Kalau aku tidak bisa? Kak, kau tahu aku ini tidak pandai bersandiwara."
Arch mulai memasang memasang dasinya, sesekali mengingat bagaimana cara mengikat kain itu.
"Lakukan saat ada orang lain di sekitarmu. Saat berdua, terserah."
Arch menghembuskan nafasnya kasar, saat lilitan terakhir berhasil dia lakukan. "Perfect!" Pria itu menatap penampilan dirinya. Lantas keluar dari kamarnya. Saat pria itu berkedip, untuk sepersekian detik bola mata Arch berubah menjadi biru.
Arch langsung masuk ke mobilnya, lalu melajukannya menuju ke sebuah tempat. "Carilah asisten yang bisa kau percayai. Pekerjaan bisa dipelajari. Tapi kepercayaan tidak bisa dibeli."
Pria itu menghentikan mobilnya di sebuah kafe, di mana Arch ada janji dengan seseorang. Penampilan Arch sungguh menarik perhatian banyak mata. Tinggi dengan wajah tampan, juga aura dingin saat berhadapan dengan orang asing. Kepribadian Arch berbanding terbalik saat bersama Sia, atau seseorang yang kini telah menunggunya.
En, pria itu melongo melihat tampilan Arch. Pria itu menghubungi En, meminta untuk bertemu. "Kau Arch?" tanya En bingung setelah Arch membuka kacamata.
Arch dan En
"Ini aku yang sebenarnya." Jawab Arch singkat. Sebuah gumaman penuh kekaguman terlontar dari bibir En.
"Lalu apa yang kau inginkan dariku? Kau tahu Sia mencemaskanmu?" En bertanya sambil meminum cappucino-nya. Asisten Elyos itu sukses membaur dengan kehidupan manusia.
Arch lalu menceritakan keinginan dan rencananya. Termasuk pemberontakan terselubung yang tengah dia lakukan pada sang papa. Kenapa Arch begitu percaya pada En, hingga menceritakan semua pada pria itu. Arch sendiri juga tidak tahu.
Awalnya En ingin menolak, sebab dia merasa tidak enak pada Sia. Menjadi asisten Arch dengan situasi seperti sekarang, sama saja menyiram bensin ke kobaran hati Sia yang tengah membara dengan kemarahan pada Arch. Namun saat melihat ke dalam bola mata Arch, En menemukan sesuatu.
__ADS_1
"Kau di sana?" Batin En penuh harap. Pria itu berharap kalau feelingnya benar. Untuk sejenak, keduanya terdiam. En berusaha menelisik jauh ke dalam jiwa Arch. Sampai satu jawaban membuat En hampir melompat saking senangnya.
"Ya...ini aku!" En tentu sangat senang. Hingga jawaban iya, En langsung berikan pada Arch. Meski setelah ini, bisa dipastikan jika Sia dan Abby akan marah besar padanya. Tapi mendampingi tuannya adalah segalanya. Lagi pula tugas utamanya turun ke dunia manusia adalah mencari dan menjaga tuannya.
Senyum Arch mengembang. Dengan En ada di sampingnya, pria itu yakin kalau rencananya akan berjalan lancar.
"Oh iya, tapi aku tidak bisa selamanya menjadi asistenmu. Jika waktunya sudah tiba, aku harus pulang." Kata En, dan Arch tidak masalah, setidaknya saat ini ada satu orang yang dia percayai berdiri di sampingnya.
Jika urusan di bumi sudah selesai, dia dan Elyos harus kembali ke istana mimpi. Tempat mereka seharusnya berada. Tanpa memberi tahu Abby, En langsung ikut Arch ke Dreamaker.
"Kau membuatku dalam masalah." Gerutu En, saat pria itu sudah berada dalam mobil Arch, dalam perjalanan ke Dreamaker.
"Kenapa? Abby akan memarahimu? Bukannya kerjaan kalian bertengkar?" Kata Arch, memeriksa ponselnya. Pria itu sudah mengirim pesan pada Aro kalau dirinya sudah menemukan asisten. Satu hal yang membuat Ciel melompat senang. Setidaknya tugasnya berkurang satu.
"Iya juga sih. Gak seru kalau gak berdebat dengan dia."
"Kau menyukainya?" Pertanyaan Arch membuat En hampir tersedak. Dia? Menyukai Abby? Yang benar saja. Sejujurnya bagi En yang selalu berada di istana mimpi, dan jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Dia tidak tahu apa itu menyukai seorang wanita. En dan Elyos hanya bertemu wanita jika ada jamuan di dunia langit dan mereka diundang ke sana. Namun selama ini En tidak pernah merasakan hal yang khusus pada lawan jenisnya.
Sementara En masih berkutat dengan dugaan Abby kemungkinan mate-nya, Sia tengah dihadapkan dengan mantan mate-nya yang menyebalkan. Gadis itu kini terpaksa tersenyum saat Aska dan Cherry memaksa dirinya untuk menjadi konsultan pernikahan mereka, padahal itu bukan bagian Sia, tapi bagian Veni.
"Kami akan bayar lebih, asal dia yang jadi konsultan kami." Cherry berkata dengan senyum licik di bibirnya. Ini akan jadi acara yang bisa Cherrry pergunakan untuk mempermalukan Sia untuk kedua kalinya.
"Betul kan, sayang." Suara Cherry membuat Aska gelagapan, pasalnya pria itu sejak tadi sibuk memandangi Sia yang di mata Aska terlihat bertambah cantik. Cherry saja kalah cantik. Melihat reaksi Aska, Cherry marah. Bagaimana bisa, Aska masih memandangi Sia dengan raut wajah kagum tergambar jelas.
"Dasar gadis sialan! Masih kegatelen aja godain Aska. Awas kau ya!" batin Cherry kesal.
"Maaf, bukannya tidak mau. Tapi konsultan Anda adalah Veni." Sia berusaha bersikap ramah meski dia tahu kalau Cherry sengaja melakukannya. Sia harus menghindari sepasang manusia ini. Apa lagi sejak tadi, mata Aska tidak lepas menatapnya.
"Oohh kau menolak kami ya. Jadi begini cara kerja WO yang katanya bonafit dan profesional itu!" teriakan Cherry kontan menarik perhatian banyak orang. Semua seketika berbisik-bisik membicarakan Sia.
__ADS_1
"Mana manager kalian? Aku ingin bertemu!" pekik Cherry. Wanita itu benar-benar ingin mempermalukan Sia. Keributan mulai terjadi, saat Aldo dan Veni turut menjelaskan peraturan dari WO itu. Namun Cherry tidak mau menerima. Cherry masih kekeuh dengan keinginannya untuk memaksa Sia menjadi konsultan pernikahan mereka.
Keributan itu menarik perhatian Arch yang baru saja masuk ke lobi Dreamaker.
"Ada apa sih pagi-pagi dah ribut?" Gumam Arch. Sementara mata tajam En langsung memindai ke arah Sia. "Oh si biang kerok datang ke sini." Kata En enteng.
"Siapa?" tanya Arch kepo.
"Mantannya Sia. Pria pengecut yang mencuri design Sia lalu memberikannya pada pacarnya. Itu...." En menunjuk seorang wanita yang sibuk memaki Sia dan teman-temannya.
"Benarkah? Ayo kita kerjai." Senyum jahil muncul di bibir Arch. Pria itu berjalan cepat menuju ke arah Sia, yang tubuhnya kini tersungkur di lantai karena dorongan Cherry.
"Lihat! Kau sama saja dengan dirimu yang dulu. Lemah!"
"Dia tidak lemah, hanya mengalah." Kata Arch sambil membantu Sia berdiri. Sia jelas terkejut saat Arch meraih tangannya lantas membantu dirinya berdiri.
Mata Cherry membulat, melihat wajah tampan Arch. "Gila! Ganteng banget cowok ini. Aska aja kalah." Gumam Cherry dalam hati.
Sementara Arch langsung tersenyum meremehkan. "Murahan sekali!" batin Arch. Bagi Arch sudah terlihat kalau Cherry tipe gadis yang mudah bosan. Selalu iri dengan yang orang lain miliki.
Di belakang Arch, Sia tampak melotot melihat En yang tiba-tiba muncul bersama Arch.
"Hai Si, senang bertemu lagi." Kata En ceria.
"Ngapain kamu di sini sama dia?" desis Sia kesal. Bagaimana bisa En malah bersama Arch. Sia kesal sekali, sudah bertemu mantan menyebalkan, ditambah En yang sepertinya akrab dengan Arch.
***
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***