
Arch menerobos masuk ke kamar tamu, di mana saat itu dilihatnya seorang dokter yang tengah memeriksa...Sia. Pria itu langsung menghambur ke arah ranjang. Melihat Sia yang terbaring pucat.
Mama Arch memberi kode keras pada Arch untuk menyingkir dulu, namun pria itu tegas menolak.
Arch menatap wajah pucat Sia. Tidak percaya kalau gadis yang dia cari sampai memutari kota berulang kali. Ternyata ada di rumahnya. Ingin rasanya pria itu marah pada semua orang. Namun hal itu urung dia lakukan, begitu melihat keadaan Sia. Rasa marah itu berganti menjadi rasa cemas luar biasa.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Mama Arch bertanya lirih. Terlihat jika wanita itu juga mencemaskan Sia. Gadis yang tadinya hanya dia lihat lewat foto. Namun menjadi nyata saat Aro membawanya pulang, dalam keadaan pingsan. Sempat terbangun sebentar, Sia mengeluh pusing, untuk itulah mama Arch tadi memberinya obat serta secangkir teh.
"Dia demam, biarkan dia istirahat. .Sepertinyla dia kelelahan, stres dan tertekan beberapa waktu terakhir ini."
Tatapan Arch langsung menghunus pada sang papa. Seolah semua ini adalah kesalahan Irwan. Saat si dokter sudah keluar dari kamar itu, barulah dua orang itu terlihat akan berdebat kembali.
"Jangan ribut, Sia lagi demam." Mama Arch buru-buru mencegah ayah dan anak itu agar tidak ribut di sana. Arch seketika melengos, lalu naik ke tempat tidur.
"Eh, mau ngapain kamu?" Irwan bertanya sambil menahan pundak Arch.
"Mau tidur, pusing kepala Arch...."
"Jangan macam-macam ya kamu!" ancam Mama Arch.
"Gaklah Ma, paling semacam doang." Sebuah jeweran langsung membuat Arch merintih kesakitan.
"Gak Ma, gak Ma. Arch gak ngapa-ngpain. Cuma mau tidur doang. Sumpah."
Arch memohon dengan wajah memelas. Sungguh dia hanya ingin dekat dengan Sia, pria itu sangat mencemaskan gadis tersebut.
"Awas ya...." sekali lagi mama Arch memberi peringatan pada sang putra. Sebelum beranjak keluar dari sana. Arch hanya bisa nyengir sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjukknya, membentuk tanda peace.
Arch langsung masuk ke dalam selimut Sia yang menutupi tubuh Sia sebatas perut. Pelan Arch mengusap lembut pipi gadis itu. Merasakan perasaan lega memenuhi dadanya. Sia baik-baik saja.
"Tidurlah dan cepatlah sembuh. Papa tidak pernah menentang hubungan kita. Dia hanya ingin tahu sebesar apa rasa cintaku padamu." Kata Arch sebelum menyusul Sia ke alam mimpi. Pria itu mendekap tubuh Sia yang terasa hangat bagi Arch.
Malam menjelang, Sia mengerjapkan pelan matanya, gadis itu merasa sesak. Serasa ada yang menghimpit tubuhnya. Saat Sia membuka matanya, dilihatnya dada bidang ada di depannya. Gadis itu sontak mendongak, hampir menjerit saat melihat wajah Arch dengan mata masih terpejam.
Sia tentu bingung, apa yang terjadi sebenarnya, kenapa dia ada dalam pelukan Arch. Dan di mana ini, Sia tidak mengenal kamar itu. Bagaimana dia dan Arch berakhir di ranjang yang sama.
__ADS_1
Gadis itu buru-buru mendorong dada Arch, hingga pria di depannya itu membuka mata. "Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa aku ada di sini?" Pertanyaan beruntun Arch terima dari Sia. Padahal nyawa Arch belum sepenuhnya berkumpul, masih berceceran di mana-mana.
"Apa sih Sia? Masih ngantuk ini." Tanya Arch balik. Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengecek suhu badan Sia.
"Sudah turun." Gumam Arch lirih.
"Apanya?" galak Sia. Dia berniat kabur, kenapa juga malah berakhir di ranjang bersama Arch.
"Kamu tadi demam Si. Kak Aro yang membawamu pulang. Dia menemukanmu pingsan di makam ayah ibumu," jelas Arch sambil menatap wajah Sia yang masih pucat.
Ha? Aku demam?" batin Sia bingung. Gadis itu memang merasa pusing dengan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya. Siapa tadi yang membawanya ke sini? Aro? Aro, kakak Arch. Apa Sia tidak salah dengar. Bagaimana bisa Aro menemukan dirinya di makam orang tuanya.
Sia baru saja akan bertanya ketika pintu kamar itu dibuka. Seorang wanita paruh baya dengan wajah mirip Arch masuk sambil membawa nampan berisi makanan.
"Sudah bangun?" tanya wanita itu ramah. Sia seketika merasakan kehangatan seorang ibu yang sudah lama dia rindu. Mata gadis itu berkaca-kaca, menatap wanita yang dia duga adalah mama Arch itu.
"Sudah Ma, cuma masih panas sedikit."
"Kalau begitu makanlah, lalu minum obatmu. Kamu harus cepat sembuh. Setelah ini ada banyak kegiatan yang akan kamu lakukan."
"Aishhh, dia manis sekali. Tidak perlu sungkan. Juga satu lagi, jangan panggil tante. Panggil Mama seperti Arch dan Aro. Kalian sebentar lagi akan menikah."
Sia membulatkan mata. Menikah? Bukankah Irwan Wijaya tidak menyetujui hubungannya dengan Arch. Bagaimana bisa dia dan Arch menikah.
"Tapi tan, eh Ma...." Sia buru-buru mengubah panggilannya begitu mendapat tatapan peringatan dari mama Arch yang bernama Lani itu.
"Apalagi?"Arch bertanya tidak sabaran.
"Bukannya papamu tidak menyetujui hubungan kita. Lalu bagaimana kita bisa menikah jika begitu."
Arch dan Lani saling pandang, detik berikutnya dua orang itu tertawa terbahak-bahak. "Papamu benar-benar membuat anak gadis orang merasa kebingungan Arch." seloroh Lani
"Papa memang keterlaluan." Kata Arch ikut memaki ayahnya sendiri. Selanjutnya, dua orang itu bergantian menjelaskan soal Irwan. Soal tujuan dari sikap pria itu padanya. Sia sesaat tidak percaya. Sampai Lani berucap, "Semua orang tua akan berusaha memberikan yang terbaik untuk putra dan putri mereka. Dan kami telah menemukanu untuk Arch."
"Tapi, saya hanya gadis biasa. Tidak punya apa-apa."
__ADS_1
"Tapi hatimu sangat kaya. Kamu lebih mementingkan kehidupan Arch dibanding dirimu. Kamu lebih memikirkan orang lain daripada keadaanmu sendiri."
Lani kembali menambahkan. Wanita itu mengusap pelan wajah Sia. Tidak tahu kenapa, dia sangat menyukai calon istri putra bungsunya.
"Satu lagi, kami tidak mencari gadis kaya, kecuali dia memang kaya seperti Rissa, tapi itu hanya nilai plus. Selebihnya kami lebih mementingkan ketulusan hati."
Irwan muncul setelah membuka pintu dengan senyum lebar tersungging di wajahnya. "Nooo, si biang kerok!" Ketus Arch.
"Astaga, masih marah dia." Gerutu Irwan. Pria itu berjalan mendekati ranjang.
"Jika bukan karena Papa, Sia gak mungkin pingsan di kuburan. Coba kalau Kak Ae gak nemuin.....tunggu....kalian...."
"Kau pikir, kami akan membiarkan dia sendirian di jalanan. Kami tidak seburuk itu ya." Lani mendorong kening Arch sampai pria itu jatuh terjengkang di kasur. Sementara itu, Sia hanya bisa melongo melihat keluarga Arch yang ternyata rusuh kalau ada di rumah.
"Idih Mama, benjol nanti!"
"Gak bakalan!" balas Lani ketus.
"Maafkan ulah Papa Si, Papa cuma tidak ingin, Arch salah pilih. Itu saja."
"Lalu aku bagaimana?" tanya Sia bingung.
"Kok masih nanya. Kita akan segera menikah, apa lagi." Arch mencium kilat pipi Sia. Aksi Arch itu, membuat wajah Sia merona merah. Gadis itu seketika menatap ragu pada Irwan.
"Jangan khawatir, restuku, restu kami selalu ada untuk kalian. Berbahagialah."
Senyum Sia perlahan terbit. Mendengar kalimat yang paling dia nanti selama ini. Restu dari orang tua Arch adalah salah satu hal indah yang pernah Sia dapatkan dalam hidupnya.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1