In My Dream

In My Dream
Balasan


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Lazarus aka White Angel


Arch mendekat ke arah Elyos. Dalam satu kedipan mata, tampilan Arch berubah. Lazarus muncul di hadapan Elyos. Ribuan tahun berlalu, baru kali ini Elyos berjumpa dengan Lazarus, seorang White Angel yang juga seorang teman untuk Elyos.


"Aku pikir setelah ribuan tahun, kau tidak lagi mengenaliku, Elyos si Pangeran Mimpi, Penjaga Kristal Mimpi." Lazarus seolah mengingatkan siapa Elyos yang sekarang.


Elyos memandang Lazarus dengan tatapan penuh pertanyaan. Akankah sahabatnya itu masih sama seperti dulu. Atau sudah berubah. White Angel, salah satu makhluk yang diturunkan ke dunia untuk membantu tugas para dewa. White Angel, Lazarus saat itu ditugaskan untuk membantu mengawasi keamanan wilayah langit bagian selatan, di mana Elyos adalah seorang manusia biasa, menjadi pangeran di sebuah kerajaan sebelum dirinya terbunuh dalam sebuah pertempuran dan bereinkarnasi menjadi Elyos, si Pegasus.


Selama hidupnya, Elyos dan Lazarus menjalin persahabatan. Meski keduanya beda dunia namun mereka bisa menjalaninya. Saking eratnya persahabatan mereka, ketika Elyos dan Lazarus jatuh cinta pada seorang putri dari wilayah utara. Mereka membuat sebuah perjanjian konyol di antara mereka.


"Ini soal Theia." Elyos mulai bicara.


"Kenapa? Kau keberatan?" Lazarus menjawab dingin.


"Theia sudah memilih. Jiwanya akan mati jika tidak bersamaku."


Lazarus tertawa. Dia pikir itu hanya alasan Elyos untuk menghindari perjanjian yang sudah mereka sepakati.


"Kau pikir aku akan percaya? Theia akan bersamaku dalam periode kehidupan ini. Arch dan Sia akan bersama!" Lazarus berkata penuh penekanan.


"Jangan egois Lazarus! Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Theia. Jika dia bahagia, aku tidak masalah. Tapi dia tidak merasa bahagia. Dia tersiksa. Dia hanya ingin bersama orang yang dia cinta. Dan itu aku....aaarrgghhhh," Elyos meringis saat sebuah serangan melukai lengannya.


Di depan Elyos, Lazarus tampak menahan kemarahan. Sebilah pedang sudah berada dalam genggaman Lazarus. Apakah persahabatan mereka akan berakhir hari ini.


"Kau tidak pernah memperdulikan perasaan Theia. Kau tidak mencintainya. Kau hanya terobsesi padanya." Maki Elyos.


"Aku tidak peduli perasaannya. Selama dia bersamaku, akan kubuat dia bahagia."


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?!" Mata Elyos bersinar terang. Emosi pria itu mencapai puncak. Dia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Lazarus yang sekarang sungguh berbeda dengan Lazarus yang dulu. Di masa lalu, Lazarus adalah pria yang lembut dan pengertian.

__ADS_1


"Aku ingin memilikinya! Seutuhnya, selamanya!"


"Kau keterlaluan Lazarus!"


Satu serangan Elyos lancarkan. Lazarus sigap menghindar. Pria itu menyeringai. Dia benar-benar ingin menyelesaikan semua ini. Soal Theia, Lazarus ingin mendapatkan wanita itu untuk dirinya sendiri.


Pertarungan dua sahabat itu terjadi di langit kota itu. Pendar cahaya biru dan putih beradu di pekatnya malam. Pedang keduanya saling serang. Baik Elyos dan Lazarus, sama sekali tidak ingin mengalah. Elyos tidak ingin membuat Theia menderita. Ribuan tahun mengalah, Elyos tidak mau melakukannya lagi.


Dua kekuatan itu terus saling menyerang, tanpa henti. Sampai keduanya kehabisan tenaga, nafas mereka hampir habis. Tidak ada luka, namun tenaga dalam mereka benar-benar habis.


Meski begitu api kebencian itu masih terpancar dari dua pasang mata pria itu. Sekali lagi, Elyos dan Lazarus mengadu pedang mereka. Sebuah gelombang kekuatan membuat getaran di tempat itu, akibat benturan dua senjata.


"Menyerahlah soal Theia, Sia dan Amethyst. Ketiganya akan berakhir dalam kehidupan ini." Kata Elyos.


Lazarus sesaat terkejut. Dia sama sekali tidak tahu soal kenyataan ini. "Apa maksudmu?"


Elyos menghentakkan pedang Lazarus, hingga pedang pria itu terpelanting, jauh dari jangkauan Lazarus.


"Dengarkan aku Lazarus. Sia atau Amethyst, reinkarnasi dari Theia, dia membuat keputusan, jika dia tidak bersamaku dia memilih mati. Sia akan meninggal."


"Kau bohong!" Lazarus berteriak keras.


"Aku tidak bohong. Mengertilah perasaan Theia. Kita sudah terlalu lama membuat dia menderita. Jangan egois."


Elyos berucap penuh emosi. Dia ingin Lazarus memberi kebebasan pada Amethyst untuk memilih. Lazarus tertunduk mendengar perkataan Elyos. Ada rasa bersalah dalam diri pria itu.


"Pertimbangkanlah, aku harus pergi. Sia akan pulang." Elyos pamit.


Elyos menghilang dari hadapan Lazarus, meninggalkan Lazarus yang langsung tertunduk lemas. Dia tidak tahu harus melakukan apa.


Elyos muncul di rumah sakit, bersamaan dengan Dewa Kematian, Moros yang tiba di sana. Suasana rumah sakit sangat mencekam, seolah tahu apa yang akan terjadi. Sebuah kematian yang akan membuat heboh tiga dunia. Amethyst, pemimpin kuil mimpi memilih mati dalam siklus kehidupan ini.


"Kau ingin menjemputnya?" Moros, dewa kematian berwajah seram itu bertanya pada Elyos.

__ADS_1


"Aku akan menjemputnya." Elyos menjawab. Elyos sudah menerima takdirnya, dia akan menerima Amethyst sebagai mate-nya. Terlebih setelah Ice memberitahu kalau Amethyst dan Sia adalah satu.


Tak berapa lama, Arch muncul di sana. Pria itu telah mengubah tampilannya. Bukan lagi Lazarus. Elyos dan Moros saling pandang. Keduanya langsung ke ruangan di mana Sia dirawat. Dengan Arch ikut masuk ke dalamnya.


"Dalam kehidupan ini, takdirmu dan Theia akan berakhir. Jangan khawatir, The Lord Yang Agung sudah menyiapkan takdir lain untukmu. Rasa cintamu tidak akan sia-sia."


Satu ucapan dari Ice membuat Lazarus melepaskan Theia. Dia akan berusaha menerima takdirnya. Satu permintaan khusus dari Lazarus. Dia minta pada Ice agar dirinya diizinkan melihat kepergian Sia untuk terakhir kali.


"Sia akan pergi sebagai Amethyst. Kau bisa melihat dia pergi, tapi setelahnya, ingatanmu soal Amethyst akan dihapus. Yang kau ingat hanyalah Sia sudah meninggal karena kecelakaan."


Elyos dan Moros berdiri di samping kiri dan kanan Sia. Dengan Arch menunggu di ujung ranjang. Elyos dan Moros saling pandang.


"Waktu kematian Dewi Amethyst telah tiba. Aku Moros, diperintahkan untuk menjemputmu." Kata Moros, dewa itu mengangkat tangannya. Sebuah cahaya muncul di atas dahi Sia. Perlahan jiwa Sia muncul, mendudukkan diri. Senyum Sia mengembang, melihat Elyos menjemputnya.


Elyos mengulurkan tangannya, dengan Sia yang langsung menyambutnya. Saat dua tangan itu bertemu, wujud Sia seketika berubah menjadi Amethyst. Benang merah di jari dua orang itu berkelip sejenak. Dua mate itu akhirnya bertemu setelah lama terpisah.


"Aku pergi." Pamit Amethyst pada Arch.


"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa Arch ucapkan pada Amethyst.


Dewi yang kini sudah berdiri di samping Elyos itu mengembangkan senyum. "Semoga kebahagiaanmu akan segera datang." Doa Amethyst. Sebelum sebuah pintu Moros hadirkan. Di mana ketiganya langsung melangkah ke dalamnya. Masuk ke sebuah tempat yang dipenuhi cahaya yang sangat menyilaukan mata.


Saat cahaya itu mulai memudar. Ingatan Arch soal Amethyst turut menghilang. Yang tertinggal hanyalah rasa sedih, karena kematian Sia.


"Tunggulah kedatangannya, di hari keseratus setelah kematiannya. Dia akan kembali. Dalam rupa yang sama, wajah yang sama namun nama yang berbeda."


Arch menangis pilu atas kepergian Sia. Pun dengan semua anggota keluarganya. Ditambah Abby yang tidak kuasa menahan kesedihannya.


"Air mata kalian tidak akan hilang begitu saja. Atas rasa cinta kalian padaku. Kalian akan mendapatkan balasan suatu hari nanti."


***


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2