
"Rissa, tunggu! Rissa...."
Aro mencekal tangan Rissa, saat melihat wanita itu di sebuah restauran. Setelah beberapa waktu saling berdiam diri, dua orang itu sebenarnya saling merindu. Namun Rissa yang gengsi dan Aro yang berusaha menahan diri. Sama-sama keras kepala tidak mau menghubungi satu sama lain.
Sampai akhirnya hari ini, Aro melihat Rissa tengah meeting dengan kliennya. Pria itu langsung mengejar wanita itu, begitu klien dan asisten Rissa berlalu, meninggalkan wanita itu seorang diri.
Rissa langsung membeku di tempatnya berdiri mendengar panggilan Aro. Ada rindu yang begitu besar berkecamuk di dadanya. Rissa kini menyadari kalau dia juga mempunyai rasa pada Aro.
"Rissa, ayo kita bicara." Ajak Aro sambil menarik tangan Rissa. Pria itu membawa Rissa ke sudut ruangan restauran, tempat yang sangat riskan sebetulnya.
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Rissa hanya diam saja saat Aro mendudukkannya di kursi di tempat itu. Untuk sesaat keduanya hanya diam dan saling pandang. Aro terdengar menghela nafas. Pria itu jelas menanggung rindu yang sangat besar.
"Aku tidak bisa begini terus. Aku tidak sanggup menahannya lagi. Rissa, aku menyukaimu. Aku mencintaimu."
Rissa melongo mendengar pernyataan Aro yang diucapkan pria itu dalam satu tarikan nafas. Meski sesaat kemudian, wanita itu tersenyum tipis.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" pertanyaan Rissa seperti sebuah tantangan untuk Aro.
"Aku akan menemui papa. Membatalkan perjodohan kalian. Tapi sebelum itu aku perlu jawabanmu. Aku tidak mungkin maju jika perasaanku bertepuk sebelah tangan. Aku perlu kepastian darimu."
Kali ini giliran Aro yang menekan Rissa. Pria itu tidak ingin sembarangan bertindak, jika perasaan Rissa masih abu-abu.
"Aku ingin tahu perasaanmu padaku," tegas Aro. Pria itu menatap Rissa dengan pandangan tajam namun dengan binar penuh cinta.
Hening sesaat menyelimuti mereka berdua. Sampai terdengar helaan nafas berat dari Rissa.
"Apa kamu menyukaiku?" tanya Rissa memastikan.
"Aku bukan hanya menyukaimu. Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu, selamanya," balas Aro sambil meraih tangan Rissa, lantas mengenggamnya.
Rissa mengembangkan senyumnya. Dia kini yakin telah menemukan apa yang dia cari. Seorang pria yang dia yakini akan mencintainya seumur hidupnya.
"Jadi apa jawabanmu?" Aro terkejut saat Rissa malah berdiri, hingga Aro menghadang langkah Rissa. Aro takut kalau jawaban Rissa akan membuat hatinya patah untuk kedua kalinya.
"Jawabanku.....cup...," sebuah ciuman mendarat di bibir Aro. Pria itu melebarkan mata, mendapat ciuman dari Rissa.
"Maksudnya?" Aro bertanya seperti orang bodoh.
"Itu jawabanku." Balas Rissa, berlalu meninggalkan Aro, sampai pria itu berbalik lalu menarik tangan Rissa, begitu sadar dengan kode yang Rissa berikan.
__ADS_1
Kini giliran mata Rissa yang membulat sempurna, karena Aro kini memeluknya erat dengan bibir yang sudah menyegel miliknya. Untuk beberapa waktu keduanya menikmati sesi ciuman itu. Sampai mereka sadar di mana mereka berada sekarang.
"Kita pergi ke apartemenku." Ajak Aro, pria itu menggandeng tangan Rissa yang melongo mendengar perkataan Aro.
"Ngapain ke tempatmu?" Rissa merasa cemas dengan ajakan Rissa.
"Meneruskan yang tadi." Aro menjawab enteng.
*
*
Lain Aro, lain pula Arch. Pria itu justru telah menggenggam tangan Sia. Saat ini keduanya berada di kafe tempat biasa mereka berkumpul. Di depan mereka, ada En dan Abby yang juga berpegangan tangan.
Sejak Arch mengaku jatuh cinta pada Sia. Pria itu langsung gerak cepat, mengejar kata iya keluar dari bibir Sia.
"Berhasil juga elu nguber dia." Ledek En sambil memainkan jemari Abby. Abby sendiri langsung mengatakan iya, saat En mengajaknya pacaran. Abby tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Pacaran dengan En yang hot dan seksi, Abby tentu tidak akan menolak. Terlebih pria idaman Abby memang seperti En.
"Entar keburu di embat orang. Nangis gue."
Alasan sebenar Arch memacari Sia secepatnya adalah mencegah Elyos mengungkapkan perasaannya pada Sia. Padahal Elyos beberapa kali menekankan, kalau dia tidak akan berhubungan dengan Sia, selain sebagai teman. Namun Arch tentu tidak percaya.
"Aska?" Arch ternganga mendengar nama Aska disebut. Apa pria itu menemui Sia lagi? Tanpa sepengetahuan Arch, Aska bertemu Sia dan Abby yang sedang jalan bareng hari minggu kemarin. Saat En dan Arch belum datang. Pria itu ingin Sia kembali padanya. Padahal Sia sudah menegaskan berulang-ulang. Kalau gadis itu tidak akan menjalin hubungan dengan Aska lagi. Terlebih setelah kejadian ibu Aska yang menampar Sia. Jangan harap Sia mau kembali dengan Aska. No way!
"Kami bertemu Aska. Tapi Sia tidak menggubrisnya, jangan cemburu." Abby buru-buru menegaskan. Cukup tahu dengan perangai Arch yang sedikit meledak-ledak. Arch langsung menoleh ke arah Sia, meminta pembenaran dari kekasihnya.
"Masih tidak percaya? Ya sudah," balas Sia enteng.
"Gak deh, iya...aku percaya padamu." Ucap Arch, pria itu cukup mengenal Sia. Paham watak dan sifat Sia. Pada akhirnya dua pasang kekasih itu menikmati double date mereka.
*
*
Sia melebarkan mata saat Arch mendorongnya ke dinding, lantas mencium bibirnya. Satu pagutan dan Sia langsung mendorong jauh dada Arch. Gila aja, mereka sedang ada di kantor, bagaimana jika ada orang melihat. Lalu melapor pada ayah Arch. Bisa bahaya nanti. Mereka masih backstreet dari Irwan Wijaya.
"Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Sia melotot pada Arch. Pria itu main tarik dirinya dari divisi sebelah.
"Ya... ketahuan namanya," kekeh Arch. Dia sebenarnya lebih dari sekedar siap untuk menghadapi sang papa. Karena sang kakak sudah memberitahu kalau dia dan Rissa juga pacaran sekarang.
__ADS_1
Sia memutar matanya jengah mendengar jawaban Arch. Gadis itu berbalik lalu membuka pintu. Saat itulah Sia langsung memundurkan badannya kembali. Melihat siapa yang datang.
"Arch...."
Arch tersenyum melihat ekspresi Sia yang ketakutan melihat siapa yang datang. "Tu...tuan Aroha Wijaya," gagap Sia. Raut wajah Sia berubah pias saat Aro datang bersama Rissa. Bisa dipastikan dua orang itu akan marah besar padanya. Sia menyembunyikan tubuhnya di belakang Arch.
"Kau menakutinya, Kak Ae," seloroh Arch. Interaksi Arch dan Aro serta Rissa membuat Sia bertanya-tanya. Kenapa mereka tidak marah pada Arch karena berduaan dengannya.
Aro terkekeh mendengar protes sang adik. Pria itu lantas menggenggam tangan Rissa. Satu hal yang membuat Sia penasaran.
"Sia? Fantasia Delavega, itu namamu kan?" Sia mengangguk dari balik punggung Arch sebagai jawaban atas pertanyaan Aro.
"Kenalkan aku Aroha Aegis, kakak Archie Aodra, dan ini Rissa, kekasihku." Aro tertawa melihat wajah melongo Sia. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kalian pacaran?" tanya Sia.
Aro mengeratkan genggamannya pada tangan Rissa lantas mengangguk. Sia langsung ingat kalau Aro menyukai Rissa. Sepertinya Aro dan Rissa benar-benar sudah jadi kekasih sekarang.
"Jangan bingung dan takut, tidak ada yang akan menghalangi kita untuk bersama sekarang." Giliran Arch yang mengeratkan pegangannya pada tangan Sia. Pria itu tersenyum melihat wajah ketakutan Sia.
Saat keduanya saling menggenggam tangan pasangan masing-masing, dari pintu yang masih terbuka, masuklah dua orang yang langsung membuat Arch dan Aro saling pandang penuh arti.
"Ini gawat!!!!" seru dua orang itu dalam hari.
"Apa yang kalian lakukan ha?" pertanyaan pria itu terdengar melengking di telinga empat orang itu.
"Akhirnya kita terciduk juga, Kak." ucap Arch enteng. Padahal aura kemarahan mulai terasa di ruangan itu.
"Sekarang atau tidak sama sekali."
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
***
__ADS_1