In My Dream

In My Dream
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Mood Arch langsung hancur saat melihat Rissa berdiri di hadapannya. Wanita itu tersenyum manis pada Arch, tapi Arch sama sekali tidak peduli.


"Ada apa kemari?" tanya Arch judes. En bahkan sampai melirik pria itu untuk memperingatkan. Bagaimanapun, Rissa memegang peranan penting. Jika wanita itu sampai mengadu pada Irwan Wijaya, posisi Arch akan semakin sulit.


Melihat wajah manyun Arch, terpaksa En yang harus menghandle Rissa. Setelah beberapa waktu berlalu, En berhasil membujuk Rissa untuk datang berkunjung lain waktu. Walau Rissa tampak kecewa, namun wanita itu akhirnya mau pulang juga. Terlebih dia sudah diingatkan oleh Aro, kalau Arch sangat sibuk dan adiknya itu tidak suka diganggu.


En menghembuskan nafasnya kasar, lalu menoleh pada Arch yang langsung nyengir begitu tahu Rissa sudah pergi.


"Kampret lu! Lama-lama aku yang mumet kalau begini terus." Maki En pada Arch tanpa takut.


"Kan tugas asisten itu. Bagian yang mumet-mumet, bagian yang bikin pusing." Sahut Arch enteng.


"Aseeemmmmm!!!" umpat En lagi.


*


*


*


Aro menghentikan pekerjaannya, kala pintu ruang kerjanya di buka dengan kasar. Rissa langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa di depan Aro. Melempar tasnya dengan kesal. Pria itu menarik nafasnya, cukup tahu apa yang terjadi.


"Kenapa sih dia tetap tidak mau bertemu denganku?" adu Rissa manja.


"Kok malah ke sini. Gak kerja?" Aro bertanya. Pria itu menutup laptopnya lantas berjalan ke arah Rissa. Duduk di samping wanita itu. Wajah Rissa sangat kesal.


"Apa masih belum jelas? Dia tidak mau memberi harapan padamu. Arch begitu. Kalau dia tidak suka, dia akan bilang tidak sejak awal." Tutur Aro. Pria itu mengusap lembut kepala Rissa. Sungguh rasa untuk Ayla itu sudah lama hilang. Dan kini digantikan oleh Rissa.


"Tapi perjodohan kami bagaimana?" Rissa bertanya cemas.Takut kalau orang tuanya akan marah padanya.


"Jangan cemaskan itu. Kata papa, mereka tidak memaksa. Kalau ada yang lain dan mereka saling cinta, mereka gak masalah." Jelas Aro.

__ADS_1


Rissa sesaat menatap wajah Aro. Tampan, tidak kalah dengan Arch. Dan selama ini Arolah yang selalu ada untuknya. Lama wanita itu memandang Aro.


"Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?" Aro bertanya dengan wajah heran.


"Apa kamu menyukaiku?" todong Rissa. Aro seketika gelagapan mendengar pertanyaan Rissa. Wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajah Aro. Pria itu langsung memundurkan tubuhnya. Saat jarak mereka kian dekat.


"Sa...Sa...kamu mau ngapain?" Aro semakin gugup ketika Rissa malah menempelkan tubuhnya di tubuh Aro.


"Jawab, apa kamu menyukaiku?" tanya Rissa lagi. Aro makin terpojok posisinya.


"Eh...jangan deket-deket dong." Aro menahan lengan Rissa supaya tubuh wanita itu tidak menimpanya.


"Huh....memang tidak ada yang menyukaiku." Wajah Rissa langsung cemberut. Wanita itu melipat tangan di depa dada, dengan bibir maju lima senti. Sangat menggemaskan di mata Aro.


"Siapa bilang? Aku suka padamu." Ujar Aro tenang. Wajah pria itu seketika berubah serius. Mungkin sudah waktunya untuk menunjukkan perasaannya pada Rissa. Pria itu tidak mau lama-lama memendam rasa. Yang ada makan hati nanti.


"Bohong kamu!" sanggah Rissa. Wanita menatap kembali wajah Aro. "Buktikan kalau kau menyukaiku?" tantang Rissa kemudian.


Rissa menampilkan gesture tubuh, "siapa takut." Penasaran dengan apa yang akan Aro lakukan. Detik berikutnya, tubuh Rissa membeku kala bibir Aro telah menempel di bibirnya. Bola mata Rissa membulat sempurna saat Aro tanpa ragu melummat bibirnya. Dengan satu tangan pria itu menahan tengkuknya. Sedang yang lain berada di pinggang Rissa.


Untuk beberapa waktu, Rissa hanya mematung. Menikmati tiap pagutan yang Aro lakukan. Hingga suara pria itu membuyarkan angannya. "Balas, Sa." Bisik Aro, setelahnya pria itu kembali melanjutkan aksinya. Kali ini dengan Rissa yang aktif membalas ciuman dari Aro.


Tangan Rissa berada di leher Aro. Sesekali meremaaass rambut tebal pria itu. Untuk beberapa waktu keduanya begitu larut dalam pertarungan lidah. Sampai keduanya melerai ciuman mereka, saat udara dalam paru-paru mereka semakin menipis.


Nafas Rissa tampak memburu, wanita itu menatap Aro, yang juga tengah memandang dirinya. Untuk beberapa waktu tidak ada yang bicara di antara mereka.


"Ini kesalahan. Pasti salah!" teriak Rissa. Sambil berlalu dari ruang kerja Aro. Meninggalkan Aro yang langsung mengusap wajahnya kasar. Merutuki dirinya yang terlalu buru-buru menyerang Rissa.


"Bodoh! Bodoh!" maki Aro pada dirinya sendiri. Detik berikutnya, pria itu ikut keluar dari ruangannya setelah menyambar tas Rissa yang ada di atas meja. Dia harus menjelaskan semua.


*

__ADS_1


*


Beberapa waktu berlalu, dan Sia semakin menikmati pekerjaannya. Gadis itu terlihat senang di divisinya yang baru. Semua saling menghargai, saling support juga saling membantu.


"Pulang dulu, Sia," pamit seorang teman Sia. Gadis itu mengangguk. Dia masih ada sedikit pekerjaan yang harus dia kerjakan. Beberapa kali ponselnya berbunyi. Namun Sia mengabaikannya. Gadis itu tetap fokus pada kertas dan penanya. Sampai satu suara terdengar di telinga Sia. Gadis itu berjengit, lantas menoleh ke samping kiri. Di mana tubuh Sia hampir terjengkang dari kursinya. Saking terkejutnya.


"Archie Wijaya!" teriak Sia. Gadis itu mendengus kesal karena tubuhnya kini berada dalam dekapan Arch.


"Isshh, kau ini sama sekali tidak ada hormat-hormatnya dengan atasanmu." Gerutu Arch tanpa melepaskan tangannya yang membelit punggung Sia. Hingga gadis itu tidak terjatuh dari kursinya.


"Orang sepertimu tidak perlu dihormati." Balas Sia ketus. Dia sendiri tidak tahu, kenapa dengan Arch ini, dia tidak ada takut-takutnya. Keduanya terlibat adu pandang, sampai Sia melengos menghindari tatapan mematikan dari Arch.


"Pergi sana!" usir Sia. Gadis itu tidak melepaskan diri dari "pelukan" Arch. Namun si pemilik nama yang diusir Sia nampak bergeming. Bergerak pun tidak. Pria itu tengah mengamati design yang tengah digambar oleh Sia.


"Gambar apa itu?" tanya Arch kepo.


"Bukan apa-apa." Sia menutup buku sketsanya. Lantas menepis tangan Arch yang berada di punggung kursinya. Arch memicingkan mata mengamati gambar Sia tadi. Tampak seperti sebuah design makam. Pria itu mengerutkan dahinya. Oh iya, dua orang tua Sia sudah meninggal. Pria itu menoleh, dilihatnya Sia yang sudah menghilang dalam lift. Meninggalkan dirinya seorang di ruang divisi tersebut


Sia menarik nafasnya pelan, gadis itu telah berjalan menyusuri tepi jalan menuju halte bus yang ada di depan kantor Dreamaker. Sia berjalan gontai. Setelah kalungnya kembali, dan dia tidak tahu siapa yang mengirimnya. Uangnya utuh, Sia ingin menggunakan uang itu untuk membangun makan kedua orang tuanya.


Gadis itu setengah melamun, hingga dia tidak tahu. Ada seorang pria tengah menunggu Sia di halte bus. Pria itu langsung keluar dari mobilnya. Berlari menghampiri Sia.


"Sia, bisa kita bicara?" pinta pria itu.


Ekspresi wajah Sia langsung berubah dingin. Dia tidak ingin bertemu kisah masa lalunya lagi


****


Up lagi readers


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2