
Arch menatap remeh pada Aska yang terlihat shock. Pria itu tidak menyangka kalau Arch membuktikan ucapannya, kalau Sia benar-benar kekasihnya.
"Kali ini, dia bukan hanya kekasihku. Tapi calon istriku." Kata Arch semakin membuat Aska terkejut. Apa lagi Cherry, wanita itu sungguh tidak terima jika Sia bersanding dengan Arch. Pria yang tingkat kekayaannya berlipat-lipat dibanding Aska.
"Kau bohong kan?" Cherry bertanya setengah tidak percaya. Saat itulah, si pengantin pria yang merupakan rekan bisnis Arch, melambai ke arah Arch. Arch segera membalas lambaian tangan rekannya tersebut.
"Malam ini sangat istimewa bagi saya. Karena kita kedatangan tamu spesial. Bos yang menghandle pernikahan saya. Bersama calon istrinya. Kita sambut Archie Aodra Wijaya dan calon istrinya."
Suara tepuk tangan membahana di venue pernikahan mewah itu. Seiring Arch yang meraih tangan Sia, membawa gadis itu berjalan ke arah pelaminan. Dengan semua orang menatap penuh kekaguman sekaligus iri pada Sia.
"Kau melemparku ke neraka Arch." Bisik Sia penuh kecemasan. Dia tahu dunianya tidak akan lagi sama setelah semua orang mengenal dirinya. Semua sisi dirinya akan dikupas habis sampai ke akar-akarnya.
"Kalau begitu akan ku temani." Balas Arch sambil tersenyum. Pria itu malah melebarkan senyumnya. Seolah Arch ingin menunjukkan pada dunia betapa bahagianya dirinya. Di pelaminan Arch disambut peluk hangat dari mempelai pria. Keduanya terlihat begitu akrab. "Wah pantas seorang Arch kepincut. Lihat By, tidakkah dia sangat cantik." Tanya si mempelai pria pada sang istri. Si istri mengangguk setuju. Dia yang perempuan saja merasa kagum pada kecantikan Sia.
"Yang membuatku semakin salut pada dia adalah aku tidak percaya kalau ini semua konsep calon istrimu. Plus design pelaminan yang sangat sesuai dengan keinginan kami." Puji pengantin pria pada hasil kerja Sia.
"Anda terlalu memuji tuan." Balas Sia merendah. Satu hal yang membuat Sia senang adalah para klien yang menyukai konsep dan rancangannya.
"Ini sangat indah." Si mempelai perempuan menambahkan. Semakin tersipulah Sia dengan semua itu. Di tengah suasana bahagia itu, Cherry hanya bisa menggerutu, kesal pada Sia. Dia sangat membenci gadis itu. Dengan semua orang memuji kecantikan dan kepintaran Sia. "Dia membuatku muak!" kata Sia lirih.
"Jangan aneh-aneh kamu! Mereka bisa melibas usahaku jika kau sampai menyentuh Sia!" Aska memberi peringatan keras pada Cherry. Beberapa waktu menikah, membuat pria itu tahu bagaimana watak Cherry sebenarnya. Pendendam, serta cenderung akan melakukan apapun untuk membalas dendam.
Cherry merengut kesal mendengar peringatan Aska. Dia pikir akan menikmati pesta dengan semua orang menyanjung kecantikannya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Semua pupus karena kehadiran Sia yang merebut semua atensi tamu undangan.
__ADS_1
"Ini di mana?" Sia bertanya lirih. Dirinya berada dalam gendongan Arch. Gadis itu rupanya tertidur saat perjalanan pulang dari tempat pernikahan teman Arch.
"Apartemen. Tempat paling dekat dari sana." Pria itu menurunkan Sia di sofa. Gadis itu segera mendudukkan diri. Mengabaikan permintaan Arch yang menyuruhnya pindah ke kamar.
***
Hari berganti. Arch dan Sia keluar dari sebuah studio foto terkenal di kota itu. Mereka baru saja melakukan foto pre wedding. Di tengah kesibukan keduanya. Mereka masih harus berjibaku dengan proses persiapan pernikahan mereka yang semakin dekat.
Keduanya melakukan sesi foto bergantian dengan Aro dan Rissa. Kakak Arch kemarin dan sekarang giliran Arch. Hampir seharian berpose di bawah arahan si fotographer dalam berbagai gaya dan busana. Membuat Arch dan Sia lelah luar biasa.
"Aku ingin tidur setelah ini." Gumam Sia lemah. Yang paling membuat Sia lelah adalah high heels yang harus dia pakai sepanjang hari. Beralasan gap tingginya dan Arch cukup kentara, membuat stylistnya meminta Sia memakai heels sepuluh senti dari tadi pagi.
Arch hanya bisa tersenyum, tiap kali Sia mengganti sepatunya. Gadis itu benar-benar tersiksa dengan sepatu berhak itu. Biasa memakai flat shoes atau sneakers saat bekerja membuat Sia langsung sakit kaki begitu memakai sepatu dengan hak tinggi itu.
"Kamu boleh tidur sampai besok pagi. Besok kan libur." Sahut Arch lembut. Semakin ke sini, semakin terlihat kalau pria itu begitu mencintai Sia. Arch selalu mengingat pesan Elyos sebelum pangeran mimpi itu pergi.
Begitulah pesan Elyos, sebelum pria itu menghilang. "Aku berjanji akan selalu menjaganya." Batin Arch sambil membimbing Sia yang kesulitan berjalan setelah berganti sepatu.
Ketika mereka sampai di pintu keluar studio, ponsel Arch berbunyi, panggilan dari asistennya. Beberapa saat berbincang melalui ponselnya. Pria itu mengatakan akan segera datang ke tempat si asisten berada.
"Si, bisa tunggu sebentar di sini, aku harus ke kafe di sana. Nio perlu tanda tanganku."
Arch menjelaskan. Sia lantas mengangguk, dia mendudukkan diri di kursi tunggu studio itu, sambil memperhatikan Arch yang keluar dari sana. Sedikit berlari untuk mengejar lampu merah penyeberangan orang. Ada rasa aneh yang perlahan menelusup hati Sia. Entah kenapa hatinya merasa sedih saat melihat Arch. Tanpa terasa air mata gadis itu luruh begitu saja. Sia terisak tanpa sebab yang jelas, hanya karena melihat Arch yang semakin jauh dari pandangannya. Punggung pria itu menghilang saat Arch masuk ke kafe yang ada di seberang jalan.
__ADS_1
"Kenapa aku seolah akan berpisah dengan Arch." Batin Sia, gadis itu tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di ulu hatinya. Sia meringis menahan nyeri, bersamaan dengan Elyos yang kembali terjatuh berlutut di istana dunia mimpi. Rasa sakit itu kembali menyerangnya.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi....aaarrggghhh," pria berambut putih itu menggeram menahan sakit.
Di bumi, Sia menarik nafasnya dalam. Berusaha menahan rasa nyeri yang perlahan mulai berkurang. Satu hembusan nafas panjang gadis itu keluarkan, saat rasa sakit itu benar-benar menghilang. Bersamaan dengan itu, satu pesan masuk ke ponselnya. Sia bangkit, lalu keluar dari tempat itu.
Gadis itu sedikit terburu-buru mengejar lampu penyeberangan orang. "Si, bisakah kamu datang ke sini. Dokumennya ada masalah. Mungkin akan lama."
Sia bergegas menyeberang, namun gadis berbalik saat melihat seorang anak kecil menangis mencari ibunya. Sia melihat ke kiri dan kanan. Sampai dia melihat seorang ibu yang sepertinya juga kebingungan mencari anaknya. Satu teriakan dari Sia,membuat si ibu berlari ke arah Sia. Saat si anak sudah berada dalam pelukan ibunya, Sia buru-buru pamit. Gadis itu seperti kehilangan kesabaran, padahal lampu penyeberangan sudah berubah hijau. Satu dua mobil mulai melaju. Sampai satu kesempatan Sia justru berhenti di tengah jalan.
Gadis itu seperti meelihat sesuatu yang membuat dirinya membeku di tempatnya berdiri. Tidak bergerak sama sekali. "Elyos......"
Brakkkkkkkkk
Satu jeritan menggema di tempat itu. Saat tubuh Sia terpental, berguling beberapa kali. Lantas berhenti begitu saja.
"Elyos....." tangan Sia terangkat ingin meraih sesuatu. Dalam pandangan Sia, Elyos tengah berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
"Kau datang menjemputku?"
****
Up lagi readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****