In My Dream

In My Dream
Kawan Lama


__ADS_3

Sementara itu, Elyos terlihat masuk tergesa-gesa ke aula istana langit. Mengabaikan rasa nyeri di ulu hatinya, Elyos terbang dari istana mimpi untuk menghadap Ice. Ah tidak, dia sebenarnya ingin bertemu The Lord, tapi Elyos berpikir kalau dia hanya makhluk rendahan tidak pantas bertemu The Lord Yang Agung.


Ice melihat kedatangan Elyos dengan wajah menahan kesakitan. Namun pria itu tidak berkata banyak. Elyos membungkuk, memberi hormat pada Ice. Setelahnya, barulah Ice bicara.


"Apa yang kau inginkan?" Ice bertanya tanpa basa basi.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kami?" Elyos pun tak mau mengulur waktu. Dia ingin mengetahui semuanya.


Hening. Tidak ada yang bersuara selain gemericik air terjun buatan yang ada di sebelah aula itu. Air terjun sihir yang bersuara seperti air, namun berwujud butiran kristal berwarna-warni bak pelangi yang jatuh bebas ke dalam kolam tak berdasar.


"Kamu ingin mengakhiri perjanjian konyol antara dirimu dan White Angel?"


Elyos mengerutkan dahinya. Nama White Angel tidak pernah dia dengar seumur hidupnya.


"Siapa White Angel?"


"Sahabat baikmu di masa lalu. Ribuan tahun sebelum kelahiranmu sebagai Pegasus, Elyos."


Elyos semakin penasaran. Ada kisah tersembunyi apa antara dirinya dan Arch di masa kini. Saat itulah, Ice membuka ingatan Elyos. Dalam benak Elyos nampak seorang pria yang penampilannya mirip dengannya. "Lazarus....," gumam Elyos.


"Aku dan kau sama-sama mencintainya. Tapi aku tidak ingin merebutnya darimu. Karena itu aku ingin melakukan perjanjian denganmu. Di tiap satu periode kehidupan kita akan bergantian untuk menjadi jodoh Amethyst. Aku akan memohon pada The Lord Yang Agung untuk merestui keinginan kita."


Elyos seketika jatuh terduduk dengan dada semakin terasa nyeri. "Lazarus, bagaimana bisa aku melupakannya?" tanya Elyos.


"Karena kalian sudah mengalami reinkarnasi berulang kali."


Detik berikutnya Elyos merangkak naik ke arah Ice. Kaisar Langit itu segera turun dari singgasananya. Menolong Elyos yang terlihat kepayahan dengan rasa sakitnya.


"Yang Mulia, bebaskan aku dari rasa sakit ini. Aku tidak tahan lagi. Rasanya sangat menyiksa." Mohon Elyos. Wajah Elyos tampak semakin pucat dengan tubuh kian lemah.


"Aku tidak bisa menghilangkannya. Karena inilah yang selama ini Amethyst rasakan. Dia begitu mencintaimu. Tapi rasa cinta Lazarus sama besarnya dengan rasa cinta Amethyst pada dirimu. Dia begitu tersiksa karena tidak bisa bersamamu."


Elyos tertegun. "Lalu Sia?"

__ADS_1


Ice kemudian menuturkan. Kalau Sia dan Amethyst satu jiwa. Jika Amethyst pergi, maka Sia juga akan mati. "Lalu Arch? Lazarus? Dalam kehidupan ini giliran siapa?"


"Lazarus. Tapi Amethyst menentangnya. Dia tidak mau menjadi korban perjanjian konyol kalian. Dia ingin bersamamu selamanya."


Elyos kembali terdiam. "Tapi aku tidak punya perasaan cinta pada Amethyst."


Ice tersenyum meledek. "Karena kau terlalu baik hati. Plus kau adalah seorang Pegasus, terlebih kau penjaga kristal mimpi. Rasa cintamu telah kusegel."


"Kau curang Ice!!" Baru kali ini Elyos menunjukkan rasa marahnya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa semua orang seolah mempermainkannya.


"Nah sekali-kali tunjukkan rasa kesalmu. Kau ini terlalu menurut pada Lazarus. Dia seharusnya mempertimbangkan perasaan Amethyst. Gila saja satu wanita digilir dua pria....uuppssss."


Elyos mendorong jatuh Ice, bodo amat kalau Kaisar Langit itu akan marah. Kata-kata Ice sungguh tidak patut diucapkan oleh seorang penguasa dunia langit.


"Sorry....la kenyataannya begitu."


Elyos menegakkan dudukknya. Berusaha mengatur nafas, agar rasa nyeri itu tidak terlalu menyiksanya. Ice mengulurkan tangannya. Sebutir pil berwarna hijau berada dalam genggaman Ice. Tanpa ragu, Elyos langsung meraihnya lantas menelannya. Tidak peduli pada ledekan Ice yang mengatakan kalau itu mungkin saja racun lotus danau Wei yang sangat berbahaya.


"Akan lebih baik jika aku mati sekarang." Balas Elyos ketus. Ice seketika memandang Elyos.


Elyos membulatkan mata biru miliknya. Pria itu tidak menyangka kalau Amethyst sampai mengambil langkah seperti itu. "Apa Lazarus memaksakan kehendaknya?"


Ice menggeleng, pria itu kemudian menceritakan kalau kisah cinta seperti ini memang sudah ada ramalannya sejak dulu. Dan hal itu benar-benar terjadi. Namun permohonan Amethyst pada The Lord Yang Agung akan mengakhiri semua ini.


"Amethyst sangat mencintaimu. Sia dan Amethyst satu jiwa, dalam artian mereka satu orang. Kau jatuh cinta pada Sia, sama saja kau jatuh cinta pada Amethyst. Kau paham sekarang?" tanya Ice pada Amethyst.


Elyos mengangguk. Saat itu rasa sakit di dada Elyos mulai berkurang. Rasa sesak itu serasa melonggar. "Apa yang kau berikan padaku?" Elyos memicingkan matanya pada Kaisar Langit tersebut.


"Rahasia." Balas Ice jenaka. Sungguh, akan susah menemukan Kaisar Langit model Ice. Pria yang bisa menunjukkan sisi berwibawa dan berkharisma, sekaligus seseorang yang ramah serta hangat untuk diajak bicara. Terkadang sifat kekanakan Ice juga muncul ke permukaan. Padahal pria itu sudah dianugerahi sepasang putra kembar. Laki-laki dan perempuan. Yang Ice beri nama Moon Bin dan Moon Sua. Satu lagi kelahiran yang diramalkan akan menjadi sebuah kisah besar di masa depan.


"Kau ini menyebalkan pak Kaisar!" Maki Elyos. Pria itu berdiri setelah merasa tubuhnya merasa lebih baik.


"Akhirnya kau bisa memaki orang juga. Aku pikir Yue terlalu baik dalam mendidikmu." Seloroh Ice santai. Elyos mendengus geram mendengar perkataan Ice.

__ADS_1


"Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Lazarus. Biarkan Amethyst memilih."


"Dia sudah memilihmu sejak awal." Potong Ice cepat. Dua pria itu saling tatap. "Ingat, kau menolak. Kalian akan sama-sama mati. Jika kau menerima, kau menyelamatkan banyak kehidupan."


"Itu jika Lazarus menerima, jika dia menolak itu sama saja."


"The Lord sudah menyiapkan takdir lain untuk Lazarus atau Archie Aodra Wijaya. Dalam kehidupan ini, sampai di sinilah akhir hidup Sia."


Tubuh Elyos terhuyung ke belakang. Pria itu tidak bisa menahan rasa terkejutnya. "Dia akan tetap meninggal?" Elyos shock. Terlebih melihat Ice yang menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Tidak adakah cara lain untuk mengakhiri semua ini?" Ice menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Elyos.


Elyos sesaat gamang, merasakan tubuhnya serasa melayang, seolah tidak menapak lagi di lantai marmer aula istana langit yang di bawahnya mengalir sungai sihir berwarna keemasan.


Bahkan ketika Ice sudah memindahkan tubuh Elyos ke bumi, untuk menyelesaikan semuanya dengan Lazarus. Pria itu masih belum bisa menguasai dirinya. Kesadaran Elyos kembali saat mendengar suara Arch memanggil namanya. Pria itu terlihat putus asa. Elyos memejamkan mata. Berusaha menyiapkan diri menghadapi Arch atau Lazarus.


"Selesaikan urusan kalian. Beritahu Lazarus kalau perjanjian konyol kalian sudah berakhir. Sia akan kembali dalam dua jam waktu manusia. Dewa Kematian sendiri yang akan membawanya.....kecuali kau sendiri yang ingin menjemputnya."


"Elyos...kau datang." Arch menyongsong kedatangan Elyos. Pria itu tampak senang melihat kedatangan pria bermata biru itu.


"Kita harus bicara, Lazarus."


Arch sesaat terkejut mendengar panggilan Elyos padanya. Meski detik berikutnya, dua sudut bibir Arch tertarik.


"Kau mengingatku, kawan lama."


****


Maaf ya author masih sedih soal Moon Bin jadi author masukkan saja namanya di sini. Biar jadi kenangan.


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2