
Arch berlari masuk ke rumah Sia, setelah Elyos memberitahu kalau hal buruk terjadi pada gadis itu. Bersama En, dua pria itu saling pandang. Berpencar mencari keberadaan Sia, baik di kamar atau di ruangan lain.
"Tidak ada." Seru dua pria itu bersamaan. Rasa cemas seketika menyelimuti keduanya eh ketiganya. Sebab Elyos juga ada di sana. Pria itu memicingkan mata, mencoba menelisik apa yang sudah terjadi.
"Seth.....," geram Elyos.
"Siapa?" Arch bertanya sambil mendekat ke arah Elyos. En tentu bingung, apa Elyos dan Arch sudah bisa saling melihat. Elyos mengangguk melihat tatapan penuh tanya dari En, menjawab rasa penasaran tangan kanan Elyos itu.
"Seth, pengendali mimpi. Penguasa kristal hitam." Elyos berkata sambil mengepalkan kedua tangannya. Arch melongo mendengar nama Seth dan penjelasan soal siapa pria itu.
"Lalu kita harus bagaimana?" En bertanya, pertanyaannya ditujukan pada Elyos namun pria itu menatap Arch.
"Iya, kita harus bagaimana sekarang?" Arch bertanya pada Elyos kali ini.
"Aku akan melapor ke dunia langit. Seth tidak bisa dibiarkan, dia sudah melewati batas." Dalam sekejap, Elyos sudah menghilang dari pandangan mata Arch dan En.
Dua pria itu sama-sama diam. "Ke mana dia membawanya?" Arch bertanya sambil mendudukkan dirinya di sofa. En, meski tahu jawabannya, tapi dia tidak bisa memberitahu Arch.
Di sisi lain, wujud Elyos langsung muncul di aula istana langit. Langkah tergesa-gesa dari pangeran dunia mimpi itu menarik perhatian Fire dan Ice.
"Hormat pada Kaisar Langit dan Dewa Api." Elyos membungkuk memberi hormat. Dua pemimpin tertinggi dunia langit itu saling pandang, melihat wajah panik Elyos. Sampai wajah Ice dan Fire ikut berubah setelah mendengar laporan Elyos.
"Dia sudah melampaui batas kali ini. Sia jelas tidak bersalah. Tidak ada sangkut pautnya dengan urusan dunia kita." Ice menggeram marah.
"Itu karena Amethyst bersemayam di jiwa Sia," satu suara membuat tiga pria itu menoleh. Yue berjalan masuk ke aula itu.
"Amethyst?" gumam Fire.
"Bagaimana bisa Amethyst berada di sana?" Ice bertanya. Yue melihat ke arah Elyos yang bingung dengan tatapan dewa bulan itu padanya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Elyos bertanya heran.
"Karena kaulah, dia ada di sana. Haisshhh, kenapa kisah cinta yang ini begitu rumit. Sekarang aku tanya, saat kau mengatakan menyukai Sia, siapa yang kau lihat? Sia atau Amethyst?"
__ADS_1
Elyos terdiam. Dia tidak tahu soal itu.
"Benang merahmu adalah pasangan milik Amethyst." Perkataan Ice membuat Elyos membulatkan mata. Tidak mungkin jika dialah yang diinginkan oleh penjaga kuil mimpi itu. Tempat paling suci dan dimuliakan di dunia mimpi.
Setelah itu mengalirlah cerita dari mulut Ice. Kaisar langit itu menuturkan kalau Amethyst sudah berkelana ke banyak tempat untuk mencari pria berhati tulus yang bisa mendampinginya memimpin kuil bulan. Dia tiba di wilayah yang dihuni kaum Pegasus. Saat itu dia melihat kelahiran Elyos. Dia bisa merasakan ketulusan hati yang diikutkan dalam kelahiran Elyos.
Karena itulah Amethyst mencuri benang merah yang sudah bertuliskan namamu. Mengikatkannya pada jari manisnya. Amethyst turun ke bumi, tinggal di sebuah rumah yang sangat nyaman untuk dia tinggali, kristal Amethyst milik ibu Sia kala itu. Setelah diturunkan pada Sia, jadilah Sia, tempat yang Amethyst huni. Dan dunia mimpi Sia menjadi tempat ternyaman untuk Elyos.
"Apa kau paham sampai di sini?" Ice bertanya pada Elyos.
"Bahkan sejak lahir, dia sudah mengklaim dirimu, hebat....," seloroh Fire.
Elyos seketika menundukkan wajahnya. Merasa malu dengan tiga dewa yang ada di hadapannya.
"Yang jadi masalah adalah Sia dan Amethyst sudah menjadi satu. Jiwa Amethyst tidak bisa kembali kecuali mati. Dengan kata lain, Amethyst bebas dan Sia mati."
Elyos langsung mengangkat wajahnya kembali. Sorot matanya ingin protes pada penguasa dunia langit itu. Namun dia tidak punya keberanian itu.
"Oke, kita bahas itu nanti. Karena sekarang, Seth sedang mengancam keselamatannya. Baik sebagai Sia atau sebagai Amethyst, nyawa mereka dalam bahaya. Amethyst tidak bisa melawan energi negatif kristal hitam di pusatnya." Perkataan Fire mengalihkan perhatian semua orang.
Untuk kali ini mereka setuju, hingga keempatnya mulai menyusun rencana.
Di tempat Seth, pria itu tengah menatap tubuh Sia yang sudah berganti pakaian. Sebuah gaun yang menjadi pakaian Amethyst. Gadis itu masih belum bangun dari tidur yang diakibatkan oleh energi negatif.
"Lihatlah betapa cantiknya dirimu." Gumam Seth takjub. Amethyst bahkan belum menunjukkan rupa sebenarnya dan Seth sudah tergila-gila.
Pria itu mendekati ranjang, menyentuh wajah Sia. Seth menundukkan wajahnya saat bibir pria itu mulai menyentuh bibir Sia. Seth mencium lembut bibir Sia, sampai satu dorongan dari Sia melerai pagutan Seth. "Kau bangun?" tanya Seth lembut. Binar cinta itu jelas terlihat di mata dewa pengendali mimpi.
"Apa yang kau lakukan ha?" bentak Sia marah. Gadis itu melompat turun dari ranjang besar Seth. Gaun panjang itu hampir membuat Sia terjerembab. Sia menginjak gaunnya sendiri.
"Gaun sialan!" Maki Sia sambil menatap tajam pada Seth. Pria itu justru tersenyum melihat reaksi marah dari Sia. Di mata Seth, wajah Sia dua kali lipat lebih cantik saat marah.
"Kau lebih cantik saat marah," kekeh Seth.
__ADS_1
"Dasar gila!" maki Sia marah. Gadis itu melihat sekelilingnya. Sebuah tempat dengan dominasi warna hitam, dan energi yang membuat tubuh Sia terasa aneh. Dia merasa lemah dan tidak punya daya. Tubuh Sia perlahan melemah, perlahan merosot ke lantai, tidak kuat berdiri.
"Aku kenapa?" lirih Sia.
"Kau ada di tempatku. Istana kristal hitam. Tunjukkan dirimu padaku. Aku ingin jiwa yang ada di tubuhmu."
Ucapan Seth seperti perintah, karena detik berikutnya, kesadaran Sia semakin menurun. Saat itulah wujud Amethyst perlahan terbentuk di samping Sia. Senyum Seth mengembang, melihat wajah cantik Amethyst kini nyata berada di depannya.
"Si....Sia....bangun." Dewi cantik itu menepuk pelan bahu Sia. Namun gadis itu tidak mau terbangun. Energi negatif Seth menguras habis energi positif Sia yang hanya manusia biasa.
"Selamat datang di istanaku, Dewi Amethyst."
"Apa yang kau inginkan ha?" Amethyst berdiri dengan amarah membuncah di dada.
"Dirimu dan....itu." Seth menunjuk kristal berwarna ungu gelap yang tergantung dileher Amethyst.
"Jangan mimpi! Arrrgghhhh," Amethyst jatuh terduduk karena energi negatif menekannya.
"Kau melawan maka aku akan membuatmu habis di tempat ini. Di sini aku yang berkuasa. Aku rajanya, maka kau harus menurut padaku jika kau ingin selamat." Seth mulai menunjukkan dominasinya.
"Aku tidak sudi! Menyerah padamu atau menyerahkan kristalku padamu!" Teriak Amethyst. Sesak mulai dewi cantik itu rasakan. Seth tidak main-main kali ini. Jika kristal Amethyst sudah berada di tangannya. Maka dewi cantik ini juga akan jadi miliknya.
Seth tersenyum penuh kemenangan. Keinginannya akan segera terwujud sebentar lagi. Tidak sia-sia dia merencanakan semua ini sejak lama. Meski kemunculan Amethyst dan kristalnya di luar dugaan Seth. Namun hal itulah yang menjadikan rencana Seth kemungkinan besar akan berhasil.
"Kau dan kristalmu adalah bonus. Jalan pintas untuk mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini. Dominasi, kekuatan dan kekuasaan. Sekaligus seorang mate."
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih."
***
__ADS_1