
Sebulan berlalu. Sia belum berhasil menemukan Arch, lebih tepatnya pria itu tidak pulang ke rumah. Tidak ada kabar ataupun jejak yang Arch tinggalkan. Ponsel saja pria itu tidak punya, identitas pun hanya sebatas KTP yang Sia belum pernah tahu isinya.
Sia berkali-kali menghela nafasnya, rasanya sesak sekali. Ada berbagai macam yang ia tumpuk di dada. Cemas, ingin tahu, penasaran, lelah. Gadis itu mendudukkan dirinya dengan lemah. Tidak ada semangat sama sekali dalam diri Sia. Pertama Elyos dan sekarang Arch. Kenapa semua orang seperti pergi darinya. Apa dia memang ditakdirkan untuk sendiri. Ayah dan ibunya meninggal. Dua pria yang Sia anggap sahabat juga pergi tanpa berita. Sudut mata Sia mulai basah ketika dia mengingat hal itu. Seburuk itulah dirinya, sampai dia ditinggalkan orang-orang terdekatnya.
Abby dan En hanya bisa saling pandang saat Sia bercerita soal Arch yang tiba-tiba pergi tanpa pamit. Abby mengusap pelan punggung Sia yang mulai terisak. Gadis itu menangis lagi sejak kepergian orang tuanya.
"Mungkin dia pulang ke rumahnya." En berkata untuk menghibur Sia. Pria itu tidak tahu ke mana Arch pergi. Dia juga baru tahu kalau temannya itu pergi dari rumah Sia.
"Masak gak ngasih kabar sih?" Kejar Abby.
"Ya kan dia gak punya nomor ponsel kita." En memberi alasan. Abby berdecih pelan.
"Bela aja, dia kan temanmu." Giliran En yang memutar matanya jengah. Pria itu berujar, kalau Arch memang menganggapnya teman, dia pasti memberitahuku ke mana dia pergi. Nyatanya tidak kan.
"Bahkan dengan Sia saja dia tidak pamitan. Halal ditimpuk pakai heelsmu yang sepuluh senti Ab, si Arch."
Ya, kalau Arch memang menganggap mereka teman, tentu akan ada kata sebelum pria itu pergi. Tapi ini tidak. "Mungkin dia tidak pernah mengganggapku teman." Gumam Sia lirih.
Abby dan En kembali saling pandang. Keduanya menghentikan debat mereka. Selalu bersama tiap hari, bukannya akur malah gelud saja itu dua orang. Kata Abby, kalau sama En tidak bertengkar tidak afdol rasanya.
"Eh, gak gitu juga kali, Si. Mungkin dia sibuk atau bagaimana, jadi dia belum sempat menghubungi kita."
"Sibuk tidur iya. Tu orang kan hobi tidur." Sia mengusap air mata yang turun di pipinya. Jika Arch tidak pernah menganggapnya teman, buat apa dia sibuk menangisi pria itu. Tidak ada gunanya. Sia lantas menyantap kwetiau goreng yang ada di depannya. Menu kesukaan Arch jika berkunjung ke tempat itu.
"Bahkan aku pun memesan makanan kesukaannya. Menyebalkan." Umpat Sia dalam hati. Abby dan En melongo, melihat bagaimana Sia memakan makanan itu.
"Jangan tergesa-gesa Si, kita gak minta." Abby berkata cemas sambil menahan tangan Sia.
__ADS_1
"Gak apa...uhuk...uhuk...uhuk..."
En sigap memberikan air putih pada Sia. Dan gadis itu menenggaknya sampai tandas. "Apa kubilang. Pelan-pelan." Abby kembali menepuk punggung Sia.
"Akan kuhajar dia kalau bertemu lagi." Tekad Sia sambil menancapkan ujung garpunya ke meja. Abby dan En bergidik ngeri melihat tingkah Sia. Ditambah sorot mata penuh amarah dari teman mereka itu.
"Jangan gitu-gitu amat Si, syeerreeemmm." Kata En dengan raut wajah ketakutan.
"Kalian juga boleh pergi kalau kalian mau." Sia berujar sendu. Sekalian saja dia tidak punya teman.
"Mau pergi ke mana? Kita akan di sini sama kamu selamanya." Ucap Abby sambil memeluk Sia. Sorot mata penuh peringatan, Abby berikan pada En. "Eh...Iya Si, kita gak akan pergi ke mana-mana." En mengusap rambutnya karena rasa bersalah. Bagaimanapun juga dia akan pergi dan menghilang setelah Elyos kembali dan keadaan normal kembali. Keadaan akan baik-baik saja, jika mereka bisa menangkap Seth, bisa mengendalikan si pengendali mimpi itu.
*
*
Sementara itu, di sebuah rumah sakit di pusat kota. Seorang pria tampak membantu wanita duduk kembali di kursi rodanya. Mereka keluar dari ruang rehab medik setelah selesai melakukan terapi pemulihan.
Arch membelokkan kursi roda sang mama ke arah taman, tanpa kata. Selama sebulan ini, Arch merawat sang mama yang terkena stroke ringan akibat hipertensi yang Maya idap. Selama sebulan ini pula kepala Arch hanya dipenuhi oleh wajah Sia. Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apa Sia mencari dirinya? Apa gadis itu merasa kehilangan dirinya setelah Arch pergi tanpa pamit?
"Apa yang kau pikirkan, Arch?" Arch menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Maya.
"Kamu bisa kembali ke kantor minggu depan. Mama sudah sembuh. Juga soal perjodohanmu dengan Rissa. Mama harap kamu mau bertunangan dengannya secepat mungkin."
"Tapi Ma, kenapa harus terburu-buru? Kak Ae saja belum menikah. Kenapa Arch harus bertunangan." Protes Arch. Inilah kenapa dia tidak suka pulang ke rumah. Di paksa ini dan itu. Untuk bekerja, Arch tidak masalah. Dia sadar harus punya penghasilan. Tapi urusan wanita, pria itu sama sekali tidak setuju. Dia ingin mencari pasangannya sendiri. Atau dia telah menemukan wanita yang menarik perhatiannya. Dan itu bukan Rissa.
Arch sungguh terkejut, saat Rissa datang menjenguk Maya saat opname di rumah sakit. Dari situlah dia tahu kalau Rissa hanya berpura-pura menjadi freelancer untuk mendekatinya. Rissa pikir akan mencari tahu soal sifat Arch dengan menjadi karyawan rendahan. Bukan dengan identitas aslinya. Clarissa Atmaja. Cucu dari keluarga Atmaja. Yang terjadi selanjutnya adalah, Rissa jatuh cinta pandang pertama pada Arch. Terlebih sifat Arch yang sangat disukai Rissa. Menurut Rissa Arch jenis pria yang tidak mudah berpaling dari wanita yang sudah dia suka. Karena itu Rissa berusaha menarik perhatian Arch. Sekarang, setelah Rissa tahu bagaimana Arch, wanita itu mau dijodohkan dengan Arch. Hal yang membuat Maya melompat senang. Namun terasa seperti badai untuk Arch.
__ADS_1
"Aku tidak mau, Ma. Aku tidak suka padanya."
"Apa karena dia? Dia cuma gadis biasa. Tidak seperti Rissa."
"Sejak kapan Mama memperhatikan status seorang wanita untuk menjadi pendamping kami. Mama tahu betul Arch. Kalau itu Kak Ae terserah. Tapi Arch tidak suka dijodohkan." Arch mendengus kesal mendengar Maya terdengar sangat merendahkan Sia. Pria itu tidak suka.
Maya tersenyum samar mendengar bantahan putra bungsunya. Dia ingin tahu sejauh mana Arch berjuang menolak perjodohan ini.
"Kamu mau membuat mama sakit lagi Arch?"
Arch buru-buru mendekati mamanya. "Enggak gitu, Ma..."
"Maka itu, terima perjodohan ini. Supaya mama gak pusing mikirin kamu. Jika kamu bersama Rissa, mama jadi tenang."
Arch terdiam. Dokter memang mengatakan kalau pemicu darah sang mama melejit naik adalah karena banyak pikiran. Salah satunya tentu karena dirinya. Arch jelas tidak mau hal buruk terjadi pada sang mama. Pria itu menunduk lesu. Apa dia harus menyerah pada perjodohan ini demi kesehatan sang mama.
"Sia, aku sungguh punya rasa yang dalam padamu. Aku mencintaimu. Hanya kamu yang memperlakukan aku tanpa perlu tahu siapa aku."
Arch berbisik lirih di kamarnya. Pria itu setengah putus asa. Terlebih satu ultimatum dia terima juga dari sang ayah.
"Bekerjalah dengan baik di sana. Putuskan hubunganmu dengan gadis itu. Atau Papa akan melakukan hal yang tidak pernah kau bayangkan padanya."
Sebuah ancaman Arch terima dari Irwan Wijaya, sang papa. Hal itu semakin membuat Arch dilema. Sanggupkah Arch mengabaikan Sia, saat gadis itu ada di dekatnya? Bisakah Arch menulikan telinga dan membisukan bibirnya saat Sia berada di depan matanya. Bisakah Arch melakukan itu, jika Sia dan dirinya pernah berbagi kehidupan selama dua bulan ini. Kehidupan yang terasa manis untuk Arch.
***
Up lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih
****