
Yue melesat masuk ke istana bulan. Paviliun Luna menjadi tujuannya. Tempat di mana semua perkamen berisi takdir semua makhluk di jagat raya berada. Yue mulai menelisik gulungan perkamen itu satu persatu. Berusaha mengingat di mana dia meletakkannya. Beberapa waktu berlalu, Yue menghentikan gerakan jarinya, menyusuri rak-rak menjulang tinggi di tempat itu.
Pria itu teringat akan satu hal. Takdir cinta Pegasus sangat sulit diatur. Kebanyakan dari mereka selalu bisa melarikan diri dari jerat benang merahnya. Pria itu tertegun, dia mengingat pernah mengikatkan sepotong benang merah pada seekor Pegasus yang dia temui ribuan lalu. Namun dia tidak mengikatkan padanan benang merah itu pada siapapun. Hingga dia menemukan pasangan benang merah itu hilang dari ruang kerjanya.
Mungkinkah pegasus itu Elyos kecil, jika begitu siapa yang mengambil padanan benang merah Elyos. Yue sejenak berpikir, bahkan setakat Ice, kaisar langit yang sekarang saja punya pasangan, errr maksudnya Yue bisa menemukan jodoh bagi Ice. Yang dia tahu, semua makhluk di semesta ini punya pasangan. Kecuali, bola mata Yue membelalak tiba-tiba. Dewi...dewi itu sampai sekarang belum menemukan mate-nya. Apakah dewi itu mate-nya Elyos. Tapi bagaimana bisa Elyos memanggil dewi pada Sia. Siapa Sia sebenarnya. Kenapa kunci kristal Amethyst juga berada di tangannya.
Yue keluar dari Paviliun Luna. Pria itu melayang, mengepakkan sepasang sayap putih nan kokoh miliknya menuju ke arah barat. Di mana sebuah bangunan mirip dome atau kubah menjadi tujuannya. Istana milik dewa takdir.
"Destiny! Destiny! Kau di mana?" Yue berteriak memanggil si tuan rumah. Pria itu langsung menerobos masuk begitu saja. Karena memang tidak ada penjaga di sana.
"Apa sih teriak-teriak? Kebiasaan!" gerutu seorang pria dengan kepala botak dan kumis tipis menjuntai sampai ke dadanya. Destiny, si dewa takdir melayang turun dari arah rak yang menjulang tinggi sampai menyentuh langit-langit kubah.
"Sekarang apa lagi?" Destiny berjalan menjauhi Yue yang kini mengekornya sambil nyengir.
"Ngintip kitab takdirnya Elyos, Arch dan Sia dong." Kata Yue sambil nyengir. Destiny seketika menghentikan langkahnya, lantas membalikkan badan, memandang ke arah Yue, penasaran.
"Banyak amat." Gerutu Destiny.
"Kepo dengan takdir mereka."
"Aishhh, kau ini dewa. Kenapa masih ingin ikut campur takdir makhluk lain."
"Bukan begitu. Ada hal yang ingin aku pastikan."
Pada akhirnya, Destiny hanya mengizinkan Yue melihat kitab takdir milik Arch. Karena dia seorang manusia."
"Arch boleh, kenapa Sia tidak boleh?" Yue bertanya bingung. Destiny tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Yue. Salah jawab, dewa yang satu ini bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Yang itu... rahasia." Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu Destiny pikirkan.
"Pelit!" sungut Yue.
"Mau apa tidak?" Destiny mengambil kembali kitab takdir milik Arch.
"Eh maulah." Yue menarik kembali kitab takdir milik Arch. Pria itu langsung membaca nasib Arch di dunia.
"Eh, benang merahnya aku ikatkan ke Sia?" gumam Yue lirih.
"Lah yang ngikat kan kamu. Kok bingung sendiri."
__ADS_1
"Kan aku kadang nyuruh si cupid buat melakukan itu." Destiny berpikir sejenak. Iya juga ya, kadang cupid, peri cinta yang bergerak atas perintah Yue.
Yue sesaat terdiam. Mengamati Destiny yang tengah menuliskan takdir seseorang berdasarkan kebaikan hidup mereka di masa sebelumnya. Hingga tiba-tiba Yue memicingkan mata sambil menatap ke arah Destiny.
"Apa yang kau sembunyikan soal takdir mereka?" Yue bertanya curiga. Sudah pasti kalau tiga orang ini punya keterkaitan takdir. Cinta segi tiga kemungkinan akan mewarnai takdir mereka. Yang jadi masalah adalah status Sia sekarang adalah manusia. Jika Elyos menaruh hati pada Sia, mereka jelas berbeda dunia. Tidak akan bersatu.
"Tidak ada." Jawab Destiny enteng.
"Hei, aku bertanya."
"Sudah kujawab." Yue menggeram kesal. Destiny memang dewa yang terkenal disiplin. Pria itu tidak akan sembarangan membuka takdir seorang makhluk, kecuali kaisar langit yang memintanya.
"Ayolah, D. Aku kepo ini." Mohon Yue. Pria yang biasa terlihat dewasa itu, tiba-tiba merengek pada Destiny.
"Idih apaan sih?" Destiny mencoba menjauhkan diri dari bujukan Yue. Dewa bulan ini terkenal pandai merayu.
"Ayolah. Sedikit petunjuk. Aku tidak akan mengutak- atiknya." Beberapa waktu berlalu dan Yue masih saja mencoba mengganggu Destiny bekerja. Sampai pria itu risih dibuatnya.
"Baiklah, baiklah. Tapi cuma akhirnya saja." Yue berteriak senang, meski hanya sekedar petunjuk tidak jelas dari Destiny.
"Semua akan kembali pada tempatnya masing-masing." Singkat, padat dan penuh teka teki.
"Kalau itu misteri jangan coba untuk memecahkannya. Apa yang terjadi pada ketiganya sudah diatur dalam kitab takdirku. Dengan stempel dari kaisar." Destiny menaikkan satu alisnya. Senyum mengejek juga terukir di bibir pria itu. Sudahlah, kalau nama kaisar dibawa-bawa, Yue tidak berani mengusiknya.
"Happy ending atau sad ending? Cinta segitiga mana ada yang happy ending. Salah satu pasti terluka." Yue memberikan pendapatnya.
"Sad ending...."
Bahu Yue langsung terjatuh lemas. Jika dilihat dari situasinya, pastilah Elyos yang akan terluka.
"Tapi....pasti ada hikmah di setiap kejadian bukan. Nah kita tunggu saja apa itu. Awas, kau tidak boleh mengubah apapun dalam kitab takdirku."
"Iya...iya...aku bukan Demon, si pembangkang."
Destiny terkekeh melihat wajah manyun Yue.
*
*
__ADS_1
Sia memejamkan matanya saat sejumlah kertas dilempar ke wajahnya. Aldo dan Veni tentu terkejut dengan kejadian itu.
"Ubah konsepnya! Aku tidak suka! Aku mau pernikahan yang wah, galmor, mewah seperti pernikahan selebriti!" Suara melengking dari Cherry kembali membuat mereka jadi pusat perhatian.
"Baik, akan aku ubah konsepnya." Jawab Sia dengan rahang mengatup menahan kesal. Gadis itu dibantu Aldo dan Veni memunguti kertas yang berserakan di lantai.
Sia jelas kesal, pasalnya ini sudah konsep kesekian yang Cherry tolak. Berbagai macam konsep sudah Sia tawarkan. Dari yang klasik, minimalis, mewah, outdoor, princess bahkan konsep 1001 malam ala Aladin pun sudah dia sodorkan ke depan Cherry. Tapi wanita itu sibuk menolak. Bukannya segera menentukan konsep pernikahannya apa, lalu lanjut ke proses persiapan. Cherry malah terkesan membuat semua menjadi ribet dan lama. Padahal waktu mereka tidak terlalu lama.
"Kalau kamu mau yang glamor kan ada konsep mewah ala pernikahan selegram waktu itu. Itu sangat mewah, Nona." Balas Sia dengan menekankan kata Nona.
Sia lebih memilih menghadapi sepuluh klien sekaligus, ketimbang satu tapi model seperti Cherry. Mereka hanya akan menghambat persiapan pernikahan ketimbang membantu.
"Iisshhh, boleh tidak aku kerjai dia?"
En tersenyum mendengar perkataan pria di sampingnya. Pria yang tengah minum chocolatte dari cupnya, namun saat mengangkat wajahnya bola mata biru yang terlihat. Elyos yang kini tengah menguasai raga Arch.
"Kerjai saja. Satu persen tenaga. Nanti kau pingsan, berat tahu." Ledek En. Elyos berdecih pelan. Kekuatannya baru pulih setengah. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya sembarangan.
Keduanya sedang berada di lantai dua, baru saja mengambil makan siang. Bagaimanapun juga Elyos harus tetap menjaga raga Arch. Dia tidak boleh mencelakai pria itu.
"Beneran nih. Kesel tahu, dari kemarin dia ngerjain Sia melulu."
"Makanya tarik dia ke divisi design dan konsep. Nggak perlu deh Sia ngadepin klien model Cherry dan pacarnya yang sok kaya itu." Maki En.
"Arch sudah memintanya pindah. Tapi dia belum mau. Kamu kan tahu Sia dalam mode marah sama Arch."
Elyos terkekeh. Mengingat Arch yang tengah main kucing-kucingan dengan sang papa. Satu tangan Elyos terangkat ketika Cherry kembali melemparkan lembaran kertas ke wajah Sia. Kertas itu berbalik ke arah Cherry. Menghujani Cherry dengan kertas yang jumlahnya bertambah banyak dua kali lipat. Namun sebelum menyentuh lantai, lembaran kertas itu menghilang, menyisakan jumlah yang sama dengan yang dilempar Cherry.
Cherry tentu terkejut dengan kejadian itu. Wanita itu memundurkan tubuhnya. Saat itu Elyos memunculkan kulit pisang tepat di bawah kaki Cherry. Kekasih Aska itu mendelik, saat dia sadar menginjak sesuatu yang membuatnya terpeleset. Dan "bruuukkkkk", Cherry jatuh terduduk dengan bokong terasa sakit karena membentur lantai keramik.
"Rasakan!" Maki Elyos, sambil berlalu dari sana. Pria itu menjentikkan jarinya dan kulit pisang itu menghilang. Detik berikutnya, yang terdengar adalah raungan Cherry yang memaki Sia. Namun Sia tidak masalah, pasalnya dia cukup terhibur dengan tontonan yang baru saja dia lihat bersama yang lain.
"Rasain lu! Memar gak tu bokong!" Bisik Veni di belakang Sia. Sementara yang lain hanya bisa mengulum senyum masing-masing. Ada hiburan gratis di depan mereka.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***