
Kredit Pinterest.com
Sia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Beberapa kali, gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah empat hari dan Arch belum juga masuk kantor, wanita itu cemas. Kalau terjadi apa-apa dengan Arch, dia akan merasa bersalah. Saat istirahat tiba, gadis itu membuka ponselnya, dan sebuah pesan masuk ke nomornya. Pesan yang datang dari Arch. Pria itu mengatakan kalau akan mulai masuk kerja besok, jadi Sia tidak perlu khawatir lagi.
Meski begitu ada satu hal yang mengganjal hati Sia. Gadis itu sadar akan hubungannya dengan Arch yang mungkin akan mengalami banyak hambatan. Ditambah sikap Irwan Wijaya yang terlihat tidak menyukainya. Beberapa waktu berpikir, akhirnya Sia mengambil keputusan.
Dan jam makan siang ini, gadis itu sudah duduk di sebuah restauran yang cukup terkenal di kota itu. Sia kembali meremas kepalan tangannya sendiri. Kebiasaan kalau dirinya tengah gugup.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan?" tanya sebuah suara dari arah depan. Di hadapan Sia duduk seorang pria yang tengah menatapnya tajam. Mendapat kabar melalui asistennya, kalau Sia ingin bertemu, cukup membuat pria itu kagum. Gadis di depannya ini punya nyali yang cukup besar.
"Begini Tuan, saya tahu hubungan saya dengan Arch...anda tidak menyetujuinya."
Pria di hadapan Sia mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Sia menyimpulkan hal seperti itu. Dia sendiri memang belum memutuskan apa-apa soal Arch.
"Lalu?" Pria yang tak lain adalah Irwan Wijaya itu mencoba memancing Sia. Apa yang sebenarnya gadis itu inginkan.
"Jika tuan tidak menyetujuinya, saya akan mundur."
Irwan tentu terkejut dengan perkataan Sia. Jika yang lain akan melakukan segala cara untuk mendapatkan restunya, Sia tidak. Gadis ini memang berbeda, Irwan menarik dua sudut bibirnya.
"Apa kamu tidak mencintai putraku?" tanya Irwan.
Sia seketika mengangkat wajah yang sejak tadi tertunduk. Ditatapnya pria paruh baya yang masih cukup tampan di usianya yang tak lagi muda. Ya iyalah, biangnya Aro dan Arch masak iya tidak tampan. Titisannya begitu apa lagi cetakannya.
Cinta? Sia mencintai Arch, gadis itu menyadarinya akhir-akhir ini. Tapi apalah arti cinta jika salah satu menderita. Terlebih tanpa restu yang mereka dapat. Sia tidak mau menjadi penyebab ayah dan anak berseteru. Jika cintanya pada Arch membuat Irwan dan Arch berselisih paham, dia akan mundur.
Semudah itukah dia menyerah? Tidak, ini bukan soal meyerah atau tidak berjuang demi cinta dan perasaan mereka. Ini lebih kepada Sia yang sudah merasakan terpisah dari orang tuanya. Tidak bisa bertemu meski rindu setinggi gunung. Bukankah cinta seharusnya membawa bahagia bukan derita? Jika cinta hanya membawa nestapa lebih baik dia tidak merasakan cinta. Begitulah Sia, jika rasa cintanya pada Arch membuat keluarga pria itu tercerai berai, dia memilih berhenti.
__ADS_1
"Saya sangat mencintai Arch. Karena itulah saya tidak ingin membuat dia menderita."
Irwan mengerutkan dahinya lagi mendengar ucapan Sia. Gadis di depannya ini mengucapkan kata mencintai Arch dengan mata berkaca-kaca. Hal itu menandakan betapa besar rasa kasih yang Sia miliki untuk Arch.
"Saya tahu rasanya jauh dari orang tua. Dan saya tidak ingin Arch meninggalkan keluarganya hanya karena saya. Saya tidak mau."
Senyum Irwan mengembang sempurna tanpa Sia sadari, karena gadis itu kembali menunduk. Dia sudah menemukan apa yang dia cari selama ini.
"Jadi kau akan mundur, jika aku tidak merestuimu?" tanya Irwan menegaskan.
Sia mengangguk sambil menyeka air mata di pipinya. "Kalau begitu ambillah ini, dan pergi sejauh mungkin dari Arch. Karena aku tidak menyetujui acara pacar-pacaran kalian." Ketus Irwan sambil menyerahkan selembar cek.
Setengah jam kemudian, Sia menarik nafasnya dalam. Irwan sudah pergi dari hadapannya. Sia pun harus melakukan hal yang sama. Namun sebelum beranjak, gadis itu melihat cek yang Irwan tinggalkan untuknya. Saat berjalan keluar dari restaurant, di depan tempat itu berkumpul aktivis yang sejak tadi berkampanye mencari dana untuk pengobatan kanker gratis.
"Semoga bisa membantu." Kata Sia sambil berlalu. Gadis itu melangkah pergi tanpa menghiraukan para aktivis itu memanggilnya.
Langkah Sia tanpa tujuan. Pergi sejauh mungkin dari Arch berarti dia harus berhenti bekerja. Padahal dia sangat menyukai bekerja di Dreamaker, banyak pengalaman dan teman yang Sia dapat di sana. Namun sekarang, semua itu harus dia tinggalkan.
Urusan Seth akan dia pantau dari istana mimpinya. Terlebih dunia langit tengah merencanakan untuk menghancurkan istana kristal hitam, karena kehadirannya mulai mengganggu kestabilan tiga dunia.
Energi negatif kristal hitam mulai menggerus energi positif yang kristal mimpi hasilkan. Terlebih istana mimpi sudah lama kosong. Kekuatannya semakin lemah. Dan itu sangat berbahaya. Elyos harus segera kembali untuk menaikkan energi kristal mimpi.
Hawa di dunia manusia semakin panas, dengan tingkat emosi tiap individu kian meningkat. Mereka mudah marah, hingga pertengkaran di tempat umum sering terjadi. Hal ini akan menimbulkan kekacauan yang sangat besar jika tidak segera di atasi. Seth berhasil membuat para manusia itu berada di bawah kendalinya melalui sugesti yang pria itu lakukan di dalam mimpi.
"Sebentar lagi, semua akan berhasil ku miliki. Termasuk dirimu." Gumam Seth dari istana kristal hitam raksasanya.
Elyos telah meninggalkan Sia sejak tadi. Seth tahu kalau Elyos mengikuti Sia sejak kemarin. Karena itu pria tersebut belum berani bergerak. Namun kali ini, keadaan sepertinya tengah mendukungnya. Keadaan emosi Sia yang tengah kacau akan berpengaruh pada Amethyst yang menumpang di jiwa Sia. Dewi itu akan lemah untuk beberapa waktu.
Pria itu kini muncul di hadapan rumah Sia. Memperhatikan Sia yang tengah melamun di teras rumahnya.
__ADS_1
"Kau ingin menghilang darinya. Akan kubantu."
Kata Seth dengan wajah tersenyum puas. Sia langsung berdiri melihat Seth, pria yang pernah dua kali dia lihat. Satu yang pasti, pria di hadapan Sia ini adalah orang jahat. Gadis itu secepat kilat masuk ke dalam rumah. Beruntung dia bisa membuka kunci dengan cepat. Tapi apa gunanya kunci, jika yang Sia hadapi adalah makhluk yang mampu keluar masuk dunia mimpi dengan mudah.
Sia begitu panik saat melihat Seth, apa yang harus dia lakukan. Yang dia tahu Seth berhubungan dengan Elyos. Dia ingin memanggil Elyos tapi tidak tahu caranya.
"Kau mau ke mana, Dewi?" Suara baritone Seth membuat Sia melompat saking kagetnya. Lebih terkejut lagi saat tahu Seth muncul tepat di hadapannya.
"Kau mau apa?" tanya Sia takut. Terakhir kali Sia melihat Seth melukai Elyos. Lalu kini apa lagi yang pria itu inginkan.
"Membawamu pergi bersamaku." Seth menjawab lirih.
"Jangan harap!" Sia berlari ke arah kamarnya, namun Seth dengan kekuatanya mampu membuat gadis itu tertarik ke arahnya. Sia seketika meronta dalam cekalan Seth.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Sia berteriak. Gadis itu terus berontak, namun kekuatannya jelas bukan tandingan Seth.
"Kau tidak akan ke mana-mana. Karena mulai sekarang, kau adalah milikku." Kata Seth dengan cepat membalik tubuh Sia. Sejurus kemudian, bibir pria itu sudah membungkam bibir Sia yang terus berteriak sejak tadi.
Awalnya Sia masih bisa meronta. Namun lama kelamaan, tubuh gadis itu melemah. Seiring energi negatif yang Seth gunakan untuk menidurkan gadis itu. Perlahan, tubuh Sia kehilangan daya. Tangan Seth menahan pinggang gadis itu. Memindahkan posisinya, hingga Sia kini berada dalam gendongan Seth.
"Come with me, my dear."
Sebuah portal dimensi mulai terbuka di hadapan Seth, pria itu melangkah masuk dan menghilang di dalamnya.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa ritual jempolnya. Terima kasih.
__ADS_1
****