In My Dream

In My Dream
Skandal


__ADS_3

"Sudah kubilang keluar saja dari sana. Cari kerja di tempat lain." Terdengar suara disertai wajah kesal dari Arch. Pria itu memandang Abby yang duduk depannya. Arch dan Abby masih berhubungan baik. Boleh dibilang keduanya dekat. Hingga memunculkan ide untuk menjodohkan mereka dari pihak keluarga Arch. Meski begitu, keduanya kompak menolak. Mereka tidak mau mengkhianati Sia.


"Aku suka bekerja di sana." Balas Abby kesal. Hari ini Abby kena damprat dari bos pemilik butik tempat dia bekerja. Pemilik butik yang tidak lain adalah mertua Cherry. Abby kena marah karena tidak sengaja menumpahkan kopi di salah satu gaun yang di-display di butik tersebut.


Ditambah dengan makian mertua Cherry mengenai kepergian Sia. Yang sebenarnya gara-gara Cherry.


"Akan kuberikan satu jika kau mau." Arch berujar setelah meminum kopinya. Namun Abby menolak. Dia tidak mau dikira jual diri pada Arch. Alasan yang membuat Arch tertawa. Arch tidak menyangka kalau pikiran Abby akan sejauh itu.


"Jangan tertawa, begitulah tanggapan julid pada netijen yang budiman di luar sana." Arch semakin mengeraskan tawanya. Tawa Arch membuat Abby sebal, hingga wanita itu memilih pamit, pergi meninggalkan Arch yang masih setia tertawa.


"Entar gue dikirain ikut gila lagi." Gerutu Abby sesekali masih melihat ke arah Arch. Gadis itu meninggalkan kafe tempatnya bertemu Arch. Berjalan menyusuri trotoar. Hingga ekor matanya melihat satu orang yang dia kenal.


"En....." Padahal ingatan soal En sudah terhapus dari benak Abby. Namun gadis itu mampu mengingat wajah En. Abby berlari mengejar mobil yang dikendarai oleh pria yang tak lain adalah Rei. Ya, wajah Rei dan En sama.


Nafas Abby habis saat gadis itu tiba di persimpangan jalan. Tubuh Abby lemas, hampir ambruk saat tahu mobil yang dikejarnya hilang dari pandangannya. "En...itu adalah En." Gumam Abby yakin.


"Nona tidak apa-apa?" Satu sapaan membuat Abby mendongak. Betapa terkejutnya dia melihat pria yang tadi dikejarnya ada di depannya. Abby langsung memeluk tubuh Rei, tak peduli dengan reaksi terkejut suami Alicia itu.


"Nona tunggu dulu, ini maksudnya apa?" Rei mengangkat dua tangannya, tak ingin membalas pelukan Abby. Pria itu tentu cemas. Statusnya suami Alicia dan mereka tengah berada di keramaian. Bagaimana jika ada yang melihatnya, lalu mengunĝgah kejadian ini ke dunia maya. Bisa gawat kalau begitu.


"En...kamu En kan?" tanya Abby lirih. Detik berikutnya tubuh gadis itu merosot turun, Rei dengan sigap menahan tubuh langsing Abby. Saat itulah Rei bisa melihat wajah cantik Abby yang seketika membuat tubuhnya memanas. Ditambah dengan tubuh bagian bawahnya yang bergejolak.


"Aneh, dengan gadis ini milikku bereaksi." Batin Rei bingung menatap wajah Abby yang ternyata pingsan dalam dekapannya.


*


*

__ADS_1


Rei berjalan mondar mandir tidak jelas di kamar apartementnya. Di belakang pria itu sebuah ranjang besar terlihat dengan tubuh Abby terbaring di sana.


"Ada kemungkinan tubuhmu memilih wanita yang bisa kau tiduri. Dan dia sepertinya sudah datang."


Masa iya gadis ini yang bisa menyembuhkan "impotennya". Rei memang tidak dinyatakan impotenn, sebab dari berbagai pemeriksaan, milik pria itu mampu bereaksi pada godaan wanita seksi yang disuguhkan padanya. Hanya saja pada Alicia, milik Rei tidak mampu berdiri tegak. Kekuatan pusaka Rei tidak bisa mendobrak masuk ke pusat tubuh Alicia. Padahal Rei bisa main dengan sabun, tapi tidak kuat menjebol gawang Alicia.


"Lalu apa yang aku harus aku lakukan?"


"Mau gambling denganku? Coba kau tiduri gadis itu."


Rei seketika mengumpat marah, bagaimana bisa temannya yang sekaligus seksolog itu menyarankan dirinya untuk tidur dengan wanita lain. Padahal dia sudah punya Alicia.


"Aku hanya bilang coba. Beruntung jika kau bisa menidurinya, artinya kau normal, jika tidak toh kalian tidak rugi apa-apa. Pol-pol e cuma rugi di foreplay."


"Ariyo gendeng!" Rei seketika memaki temannya yang ternyata bernama Ariyo. Makian Rei terhenti saat mendengar suara lirih dari arah kasurnya. Waktu Rei berbalik, dilihatnya Abby yang sudah mendudukkan diri sambil mengusap pelipisnya. Pusing, itu adalah hal pertama kali Abby rasakan.


"Kau tidak apa-apa?" Lagi, suara itu membuat Abby mendongak.


"Maaf tapi namaku Rei, bukan En." Pria itu mengulurkan kartu identitasnya. Abby menerima dengan tangan gemetar. Reiki Savian Altarezza, Abby bergumam. Gadis itu tentu shock dengan kenyataan yang ada.


"Maaf, saya salah orang. Saya pikir Anda orang yang saya kenal." Abby mengembalikan kartu identitas Rei lantas menundukkan kepalanya. Malu.


"Apa dia kekasihmu?" tanya Rei. Abby mengangguk. Abby sangat mencintai En, bahkan setelah pria itu pergi dan En menghapus ingatan soa dirinya. Abby masih saja bisa mengingat wajah En.


"Ke mana dia sekarang?" Rei mulai kepo dengan kehidupan Abby. Gadis yang setelah Rei amati ternyata memiliki wajah sensual nan menggoda. Gila! Tubuh Rei semakin tidak karuan dibuatnya. Selama hidup hanya bisa bermain dengan sabun, Rei tentu sangat penasaran dengan rasa bercinta yang sesungguhnya. Meski dia sangat mencintai Alicia, tapi jika tidak bisa meluapkan rasa cintanya, apa artinya.


Satu hal yang membuat Rei kekeuh mempertahankan Alicia di sisinya adalah karena Rei takut, kalau Alicia akan menyebarkan aibnya setelah mereka berpisah. Hal itu jelas akan merugikan Rei. Sungguh sebuah pemikiran egois dari Rei. Pria itu tidak memahami bagaimana tersiksanya Alicia dalam pernikahan ini.

__ADS_1


"Dia pergi." Lirih Abby. Gadis itu masih setia menunduk. Hingga satu perintah dari Rei membuat Abby mengangkat wajahnya. Saat itu dua pasang mata tersebut bertemu pandang. Detik berikutnya Rei sudah mendaratkan bibirnya di bibir Abby.


Abby tentu terkejut. Namun rasa rindunya pada En, membuat gadis itu segera menyambut pagutan dari Rei. "Kau bisa menganggapku kekasihmu yang sudah pergi." Kata Rei di tengah ciuman mereka yang semakin panas.


Bisa Rei rasakan seluruh tubuhnya menegang. Merespon sebuah rasa yang kerap dia alami saat bercumbu dengan Alicia, tapi kali ini berbeda. Sentuhan dengan Abby membuat sensasinya berlipat-lipat. Hasrat Rei langsung melonjak naik.


"Akan kupertimbangkan pernikahanku dengan Alicia, jika kau mampu membuat milikku bisa mendobrak milikmu." Batin Rei yang kini sudah mendorong jatuh tubuh Abby, hingga Abby kini telentang di atas kasur besar.


Abby menelan salivanya susah payah saat Rei melepas kemejanya, hingga tubuh sempurna pria itu terlihat jelas di depan Abby. "Ini tidak mungkin. Bahkah tubuhnya pun sama persis dengan En." Batin Abby.


Rei lantas mengungkung tubuh Abby, mulai mencumbu gadis itu. Aksi Rei membuat pikiran Abby melayang hingga melupakan status Rei yang ia ketahui sudah menikah.


"Kau bener-benar menuntun mereka melakukan sebuah skandal." Suara Elyos membuat Amethyst menoleh. Wanita itu menggaruk kepalanya.


"Aku kehabisan ide untuk membuat Rei tahu, kalau Abby bisa membuat Rei jadi pria sempurna." Amethyst beralasan.


"Ide itu urusan author. Eh...berarti author kita sedang kehabisan ide dong."


Amethyst terkekeh mendengar ucapan absurb Elyos. Suara tawa Amethyst terhenti saat teriakan Abby terdengar. Dewi cantik itu seketika menghilangkan monitor besar di belakangnya.


"Ck...ck....skandal itu benar-benar terjadi." Elyos berucap sambil mendekat ke arah Amethyst.


****


Kan...kan...kalau nulis di jam segini, inilah hasilnya gaje, gak jelas.


Up lagi readers. Up yang mbohlah pokoknya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


***


__ADS_2