In My Dream

In My Dream
Penjara


__ADS_3

Arch melamun memikirkan hal yang baru saja terjadi. Berpikir bahwa dia telah melihat Sia. Pria itu duduk di private lounge yang telah dia pesan untuk jadi tempat meetingnya dengan kliennya. Neo memberitahu kalau wanita yang dia tolong tadi baik-baik saja. Hanya mengalami luka lecet sedikit. Dan yang mengejutkan Arch adalah wanita yang ditolong pria itu ternyata adalah kliennya.


Arch duduk sembari menopang pelipisnya dengan tangan. Sempat terlintas akan membatalkan meeting jika kliennya tidak bisa. Namun si klien mengatakan bisa melanjutkan meeting, jadi di sinilah Arch, menunggu si klien meski sudah lewat lima belas menit dari jam kesepakatan mereka. Padahal Arch bukan orang yang suka menunggu.


Suara pintu geser dibuka membuat Arch mengangkat wajahnya. Mata Arch membulat melihat siapa yang masuk. Pria itu langsung berdiri, lantas memeluk wanita yang berdiri di depannya.


"Sia....aku tahu kau pasti kembali padaku."


Perkataan Arch membuat wanita itu, Neo dan Fex langsung membelalakkan mata. Si wanita meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan Arch, sementara Arch malah sudah menangis tersedu di pundak wanita itu.


"Tuan, mohon lepaskan pelukan Anda." Arch terkesiap mendengar suara yang begitu dingin dan tegas dari wanita yang berada dalam pelukannya itu.


"Sia....."


"Maaf, Anda mungkin salah orang. Saya bukan Sia."


Arch langsung melerai pelukannya. Menatap lekat-lekat wajah wanita yang baru saja dipeluknya. Wanita itu langsung memundurkan langkah. Menciptakan jarak antara dirinya dan Arch.


Arch tidak mungkin salah mengenali. Dia adalah Sia, bahkan jantungnya berdebar sama seperti saat Arch bersama Sia.


"Dia akan kembali dalam rupa yang sama namun berbeda nama."


"Perkenalkan, nama saya Vega Alicia Alou."


Arch dan Neo membulatkan mata masing-masing. Selain wajah yang sama persis, nama mereka pun mirip. Fantasia Delavega dan Vega Alicia Alou. Keduanya membawa nama Vega di nama masing-masing.



Kredit Pinterest.com


Meet Vega Alicia Alou


Secara tampilan keduanya juga berbeda, style Sia lebih ke manis dan cute. Sedang Alicia jelas menunjukkan kalau dia adalah wanita karier dengan tampilan formal dan fashionable.


Untuk sesaat, Arch benar-benar kehilangan kata saat bertemu Alicia. Dia seperti tengah bermimpi melihat Sia berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Maaf jika saya lancang. Tapi saya Alicia bukan kekasih Anda yang sudah meninggal."


Ekspresi Arch seketika berubah. Ada rasa marah sekaligus sedih di raut wajah pria itu. Namun sentuhan Neo di pundak Arch membuat Arch sadar. Wanita yang ada di hadapannya jelas bukan Sia. Arch sendiri yang memasukkan tubuh Sia ke dalam peti lantas menguburkannya.


*


*


"Kau baik-baik saja?" Satu suara penuh nada cemas masuk ke telinga Arch. Terlihat Aro yang berjalan tergesa ke arah sang adik. Di depan Arch terlihat laptop yang terbuka, menampilkan sosok Alicia.


"Ini sulit dipercaya." Arch membalik laptopnya. Hingga sang kakak bisa melihat data Alicia.


Aro terdiam membaca profile Alicia. Sampai Aro tiba di status wanita itu. "Kau berniat jadi pebinor?" tanya Aro tanpa basa basi.


Arch berdecih keras mendengar pertanyaan Aro. Walau pikiran itu sempat terlintas di benaknya. Melihat Arch terdiam, Aro buru-buru duduk di hadapan Arch.


"Menggangu rumah tangga orang adalah hal yang tidak baik, Arch. Kau harus tahu itu."


Aro memperhatikan Arch yang hanya terdiam mendengar ucapan Aro. Satu hal yang Aro tahu, adiknya adalah tipe pria yang nekad. Tidak peduli pada apapun, kalau dia menginginkannya, dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.


"Aku tahu." Arch menutup laptopnya. Seolah itu adalah keputusan yang telah dia ambil. Dia tidak akan menganggu Alicia meski wanita itu sangat mirip dengan Sia.


Arch mengangkat wajahnya mendengar nama suami Alicia disebut. Siapa yang tidak mengenal nama keluarga Altezza, kolaborasi keluarga Altezza dan Alou menjadi aliansi perbankan yang sulit diruntuhkan kredibilitasnya.


Meski keluarga Wijaya masuk dalam jajaran keluarga yang berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun bidang mereka berbeda. Wijaya bergerak di bidang perhotelan, properti dan konstruksi, sedangkan Altezza dan Alou di bidang keuangan.


Arch menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh dia harus mengawal perasaannya kali ini. Kerjasama dengan keluarga Alou adalah perluasan bidang yang ingin dilakukan oleh Wijaya Group dalam bidang pembiayaan resort dan hotel.


"Aku bisa lepas kendali jika lama-lama berdekatan dengan Alicia." Gumam Arch bimbang. Pria itu benar-benar melihat sosok Sia dalam diri Alicia. Pria itu berjalan mondar mandir tidak karuan di kantornya.


Setelah Dreamaker mengalami kesuksesan di bawah pimpinan Arch. Pria itu memilih mundur dari sana, mengembalikan tampuk kepemimpinan Dreamaker pada sang ibu. Terlebih Arch tidak bisa menahan diri kalau berada di tempat itu. Kenangan soal Sia, selalu membayangi Arch tiap kali pria itu berada di Dreamaker. Untungnya Lani paham dengan keadaan Arch, hingga wanita itu bersedia kembali ke Dreamaker.


Sementara Arch memilih menekuni bidangnya, arsitek. Dengan mengambil alih Wijaya Building Construction atau WBC. Sementara Aro fokus pada usaha hotel dan resort mereka yang bernaung di bawah nama Wijaya Hotel and Resort (WHR).


*

__ADS_1


*


Alicia mengerutkan dahinya saat melihat Neo yang berjalan sendirian, masuk ke ruangan kantornya. Dari Fex, sang asisten, Alicia tahu banyak soal Arch. Sebab Neo dan Fex adalah teman.


"Maaf, tuan Arch berhalangan hadir. Jadi saya yang akan mewakilinya." Ujar Neo pelan.


Alicia menarik nafasnya dalam lantas menghembuskannya. Dia tidak menyangka jika apa yang Fex ceritakan benar adanya.


"Andai aku punya seseorang yang bisa mencintaiku seperti kau mencintainya." Batin Alicia sedih. Wanita itu mengerjapkan matanya cepat. Untuk menghalau air mata yang hampir saja luruh dari pelupuk netra cantik itu.


Hari itu pembahasan kerjasama berjalan lancar. Alicia tidak banyak menuntut sebab dia tahu kemampuan WBC sangat diakui. WBC masuk dalam jajaran perusahaan konstruksi di negeri ini.


"Oh ya asisten Neo, bisakah aku bisa minta tolong padamu." Alicia mengulurkan selembar kertas yang berisi design kasar sebuah bangunan.


"Apa ini?"


"Bisakah aku minta tolong pada tuanmu untuk menyempurnakan design itu."


Neo tersenyum, lantas undur diri dari hadapan Alicia. Sepeninggal Neo, Alicia langsung menarik nafasnya dalam. Perempuan itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela di belakangnya. Memandang siluet senja yang mulai menguasai kota.


Tangan Alicia perlahan terangkat, hingga penampakan satu cincin di jari manis wanita itu terlihat jelas. Gurat kesedihan seketika membayang di wajah cantik Alicia.


"Maafkan ayah Alice, ayah terpaksa memenjarakanmu dalam pernikahan ini."


Alicia seketika menundukkan wajah, saat bulir bening itu benar-benar mengalir di pipinya.


"Sampai kapan aku bisa bebas dari penjara ini."


Batin Alicia dengan pundak yang bergerak turun naik dengan cepat. Wanita itu mulai terisak hebat. Fex yang ingin masuk ke ruangan Alicia, urung melakukannya. Gadis dengan potongan rambut pendek itu hanya bergeming sambil bersandar di pintu masuk ruangan Alicia. Tidak berani mengganggu Alicia.


"Ya Tuhan, kirimkanlah seseorang yang bisa membawa Alicia keluar dari rumah penjara itu."


****


Up lagi readers.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****


__ADS_2