
Mata Alicia berkaca-kaca, melihat seorang pria yang tengah berdoa di makam ibunya. Sebuket mawar merah terlihat di makam itu. "Menantu idaman tu." Fex menyenggol Alicia, hingga air mata Alicia urung luruh. Berganti dengan senyum yang setengah Alicia paksakan, saat melihat Arch berjalan ke arahnya.
"Terima kasih." Lirih Alicia.
"Tidak tahu apa yang mamamu suka. Tapi aku pikir mawar merah sangat pas untuk mamamu, dia pasti cantik, secantik dirimu."
Ehemmm
Blushhhhh
Rona merah seketika timbul di wajah Alicia. "Wah pak arsitek sudah berani godain janda kembang nih." Goda Fex.
"Boleh dong Fex, kan dia dah single. Kalau dia mau, pengen aku ajak nikah sekarang juga."
Bola mata Alicia membulat, dengan Fex yang reflek menutup mulutnya. Tidak menyangka jika Arch akan gercep pada Alicia.
"Kau jangan ngawur, Arch. Apa kata orang nanti, kalau kau dekat denganku. Aku ini janda." Alicia mengungkapkan keraguannya.
"Janda rasa perawan." Bisik Arch lirih. Pria itu sendiri tidak tahu, kenapa dia jadi begitu berani untuk mendekati Alicia. Apa karena Alicia mirip dengan Sia, atau karena status Alicia yang sudah bercerai dengan Rei. Atau malah karena pria itu mulai ada rasa pada Alicia. Semua belum pasti.
Alicia jadi salah tingkah dengan semua ucapan Arch. Lah kenapa Alicia jadi baperan ya sekarang. Padahal Rei dulu sering menggombalinya saat masih berstatus suami istri.
"Sudahlah Arch, kau jangan mengganggunya dulu." Suara Neo memperingatkan. Arch tertawa dengan tingkahnya sendiri. Selanjutnya mereka berkeliling untuk melihat proses pembangunan sekolah di sekeliling makam ibu Alicia. Wanita itu terlihat sangat puas dengan hasil kerja Arch. Bisa Alicia lihat kalau Arch adalah pria yang serius dan bertanggungjawab.
Sampai mereka duduk di sebuah kafe di dekat lokasi pembangunan sekolah itu. Mereka jelas kepanasan, Alicia dan Arch bahkan melepas jas dan blazer masing-masing. Meninggalkan kemeja dan blus di tubuh keduanya. "Jangan di ikat." Ucapan Arch membuat Alicia tidak jadi menggulung rambutnya, hal yang biasa dia lakukan jika kegerahan.
"Panaslah Arch."
"Kau gulung dan aku yang semakin kepanasan." Gerutu Arch, pria itu seketika terbayang leher Alicia yang begitu menggoda untuk di sesap. "Otak tolong otak, jangan ikutan panas." Batin Arch kelabakan. Lagi-lagi pria itu merasa heran. Kenapa otaknya kini mudah sekali berpikiran kotor saat bertemu Alicia. Pria itu jadi teringat ucapan Aro dan Rissa.
__ADS_1
"Makanya cepetan nikah. Jadi otaknya gak nge-blue melulu."
Enam bulan berlalu sejak kepergian Sia. Dan Arch mulai menerima kenyataan. Dia tidak akan pernah melupakan Sia, itu pasti. Bagaimanapun sosok Sia akan punya tempat istimewa di relung hatinya. Untuk yang lainnya semua harus terus berjalan bukan. Melanjutkan hidup masing-masing.
"Apakah sudah waktunya aku mengambil langkah baru?" Batin Arch sembari menatap ke arah Alicia yang benar-benar kepanasan. Gadis itu terus saja mengipasi wajahnya sejak tadi. Dengan rambut panjang Alicia yang tergerai indah di pundaknya. Tidak ada yang menampik kecantikan Alicia, terlebih Arch. Baginya Alicia punya sesuatu yang istimewa yang membuatnya berbeda dari Sia.
*
*
"Aku gak ganggu kan?" Alicia bertanya ragu, saat mengekor langkah Arch masuk ke dalam rumah pria itu. Malam menjelang, saat mama Arch, Lani meminta Arch pulang untuk makan malam bersama. Mumpung Aro dan Rissa juga ada di sana. Pria yang baru saja ingin mengantar Alicia pulang itu akhirnya membawa Alicia untuk makan malam ke rumahnya. Sangat jarang Aro bisa mampir ke rumah.
"Gaklah, mereka justru akan senang." Balas Arch, sembari membuka pintu lantas memberi salam. Semua orang kompak membalas salam dari Arch, hingga wajah mereka spontan shock melihat sosok Alicia yang berdiri malu-malu di samping Arch.
"Kenalkan semua, Vega Alicia Alou." Ujar Arch penuh penekanan. Jelas Arch ingin memberitahu kalau Alicia bukanlah Sia.
"Kayak kembar begitu ya." Tutur calon ayah itu.
"Mengagumkan bukan?" timpal Rissa. Aro mengangguk patuh, sungguh tidak bisa berkomentar apa-apa soal kemiripan wajah Sia dan Alicia.
Dan makan malam itu jadi makan malam paling hangat yang pernah Alicia rasakan setelah sekian lama. Sikap ramah dan terbuka keluarga Arch pada dirinya membuat gadis itu nyaman. Keluarga Arch tidak mempermasalahkan status Alicia ataupun masa lalu gadis itu.
Lani sendiri seolah menemukan sosok Sia yang sudah pergi dalam diri Alicia. Hingga beberapa kali wanita itu terlihat mengusap air matanya, Lani merasa terharu.
"Lain kali, ajaklah ayahmu berkunjung, biar kita bisa ngobrol, ayahmu biar gak kesepian." Seloroh papa Arch. Alicia mengembangkan senyum mendengar ucapan ayah Arch itu. Senyum yang seketika membuat Arch terpana. Tiga bulan mengenal Alicia, baru kali ini pria itu melihat gadis itu tersenyum tulus dan lepas. Benar-benar hal yang baru Arch lihat dari sosok Alicia.
Jantung Arch seketika terpacu, hatinya bergetar dengan perasaan yang membuncah. Kali kedua Arch merasakan hal yang sama, persis dengan saat pria itu mencium Sia di taman kota, saat mereka bertemu untuk pertama kali.
Arch mulai percaya kalau hatinya kini memiliki rasa yang lebih untuk Alicia. Alicia bukan Sia. "Aku harap kamu tidak marah padaku Si. Bagaimanapun aku akan selalu mencintaimu."
__ADS_1
Arch perlahan membuka mata, sesaat pria itu terdiam. Ini bukan kamarnya. Pria itu terbangun di sebuah padang rumput dengan rumput berwarna pelangi, ya berwarna warni bukan hijau semata. Arch bangun, matanya menelisik tempat itu penuh selidik. Hingga dia menemukan satu sosok yang dia rindu selama ini.
Arch bangkit lantas berlari ke arah sosok itu, satu senyum langsung terlihat saat Arch memeluk sosok itu. "Aku merindukanmu Si, sangat merindukanmu." Bisik Arch.
Sia melebarkan senyumnya. Ditatapnya lekat wajah pria yang sangat dia cinta. Saking cintanya bahkan Sia rela naik ke dunia langit, memohon pada Ice, untuk minta dileburkan menjadi satu dengan jiwa Alicia, jika Arch sudah jatuh cinta pada Alicia.
"Aku tidak mau berpisah denganmu." Mata Arch mulai mengembun.
"Aku juga tidak mau. Tapi takdir kita berhenti sampai di sini. Dia yang akan menggantikanku sudah datang. Dia juga sudah menunggu lama kedatanganmu." Balas Sia sambil membelai lembut wajah Arch, pria itu menangkap tangan Sia lantas menciumnya penuh cinta.
Arch bisa merasakan cinta yang dia miliki untuk Sia masih sangat besar. "Apa yang harus aku lakukan? Katakan padaku?" Pinta Arch.
Senyum Sia kembali terbit. "Cintai dia sama seperti kau mencintaiku. Dan aku akan sangat bahagia. Hidupmu harus berlanjut. Aku sudah sangat bahagia bisa dicintai olehmu dalam singkatnya waktu hidupku. Percayalah aku akan selalu bersamamu. Karena cintaku sama besarnya dengan rasa cintamu."
Sebuah ciuman mendarat di bibir Arch, satu ciuman hangat yang sudah lama Arch rindukan. "Hiduplah dengan bahagia, dengan begitu aku juga akan merasakan hal yang sama."
Air mata Arch benar-benar mengalir di mata pria yang masih terpejam itu. Mimpi yang terasa nyata bagi Arch. Sia memberinya petunjuk juga restu untuk langkah baru dalam hidup Arch.
****
Kredit Instagram @xu_zhibin93
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****
__ADS_1