
Hari berganti, sejak hari itu hubungan Rissa dan Sia jadi memburuk. Sebenarnya Rissa yang menjauhi Sia. Gadis itu memilih bergabung dengan teman lain. Tidak lagi satu kumpulan dengan Sia. Teman Sia yang bernama Aldo sempat bertanya tapi Sia menjawab tidak tahu apa sebab Rissa menjauhinya.
Kini Sia lebih banyak bekerja dengan Arch dan Aldo juga seorang freelancer yang bernama Veni. Meski sebenarnya Arch lebih banyak duduknya ketimbang bekerja.
"Jangan malas-malas nanti dipecat lo kalau gak dapat target." Sia memperingatkan. Namun Ian mengacuhkannya. "Coba saja pecat aku. Aku akan lari ke tempat yang tidak akan kalian temukan." Gumam Arch lirih.
"Jangan khawatir, mereka tidak akan berani memecatku. Wajahku kan maskot WO ini." Jawab Arch narsis. Sia berdecih pelan. Seharusnya dia tahu kalau memperingatkan Arch hanya akan mendapat jawaban menjengkelkan dari pria itu. Sementara Arch ikut membolak balikkan berkas di hadapnnya. Dokumen yang sudah direkap ulang oleh Sia. Pria itu seketika sadar kalau Sia sangat cekatan dalam bekerja. Wanita itu begitu terampil dan teliti. Baik saat menghandle tugas di venue maupun saat bekerja di kantor.
Satu yang membuat Sia mempunyai nilai lebih adalah kemampuan Sia dalam menggambar design untuk pelaminan ataupun sketsa untuk ruangan pesta. Banyak klien yang menyukainya.
"Sia, apa kamu tidak mau pindah ke departemen design dan grafis di lantai 14?" tanya Arch.
"Tidak tahu." Jawab Sia asal.
"Basicmu kan memang design. Di sana gajinya lebih gede lo." Bisik Arch di belakang telinga Sia. Gadis itu reflek menoleh. Hingga wajah Arch dan Sia hanya berjarak sejengkal. Arch memajukan wajahnya ketika Sia buru-buru menahan wajah Arch dengan tangannya.
"Hayo mau apa?"
"Minta second kiss." Jawaab Arch enteng. Sia berdecak kesal mendengar jawaban Arch. Di samping Sia, Arch terkekeh. Lantas pria itu menerangkan kalau di design grafis bayarannya perlembar design yang kamu gambar, dan jika dipakai klien akan mendapat bonus. Lumayan besar.
Sia sesaat mengerutkan dahi, bukan soal bayaran di departemen design grafis. Tapi bagaimana Arch tahu sampai sedetail itu soal departemen yang terkenal sangat bergengsi tersebut.
"Dari mana kamu tahu soal divisi itu?" tanya Sia penuh selidik.
"Cari tahulah. Kamu nanya deh apa aja soal gedung ini. Aku tahu semua." Kata Arch sombong. Sia berdecih pelan, gadis itu tidak terlalu menggubris perkataan Arch. Gadis itu pikir terlalu mengada-ngada. Keduanya kembali berkutat dengan kesibukan masing-masing. Sampai ponsel Sia berdering. Serta sebuah pesan.
"Paket? Aku gak merasa beli apapun?" Gumam Sia. Gadis itu lantas menoleh ke arah Arch yang sedang mengerjakan berkasnya.
"Kamu pesan barang nggak?" tanya Sia. Arch menggeleng pelan. Panggilan itu kembali terdengar. Detik berikutnya, Sia setengah berlari ke lobi Dreamaker. Di sana sudah ada seorang kurir yang menunggu.
__ADS_1
"Beli apaan?" tanya Arch pura-pura tidak tahu. Sia menggeleng sebagai jawaban. Saat akan membuka kotak paketnya. Ada klien yang datang. Terpaksalah Sia menyimpan paketnya lebih dulu. Gadis itu mulai bekerja, memberikan penjelasan dan pelayanan pada klien barunya.
Malam menjelang. Jam kerja Sia sudah selesai dan keduanya sudah kembali ke rumah. Gadis itu banyak diam setelah insiden Rissa yang kembali menampakkan aura ketidaksukaannya pada Sia, saat mereka semua keluar dari gedung WO tersebut.
"Beli apa tadi?" tanya Arch. Pria itu baru saja selesai mandi. Dengan Sia yang tengah menyiapkan makan malam. Kembali makan malam full protein untuk Arch. Pria itu benar-benar punya standar tinggi soal makanan. Karena itu pula Arch jarang sekali mau menerima gajinya. Dia sadar biaya makannya mahal. Arch hanya akan minta uang jika dia ingin beli sesuatu.
Sia mengambil kotak paketnya. Sedang Arch mulai mengunyah ayam goreng yang dihidangkan dengan sedikit kentang tumbuk.
"Aku tu tidak merasa beli barang kok." Ujar Sia mulai unboxing kotak paketnya. Gadis itu mengerutkan dahi, saat membuka penutup kotak. Mata Sia membulat sempurna, binar bahagia seketika terpancar dari bola mata Sia. Arch sesaat melongo, melihat bagaimana cantiknya Sia saat itu.
"Apa itu?" tanya Arch.
"Kalung ibu. Kalung ibuku kembali." Lirih Sia. Binar bahagia itu berubah menjadi isak lirih. Dia berpikir sudah kehilangan kalung itu. Ternyata tidak, kalung itu kembali padanya.
"Bagaimana ceritanya?" Arch kepo akan cerita kalung itu bisa berada di pegadaian. Maka mulailah Sia bercerita soal dirinya. Dengan Arch menjadi pendengar sembari ngemil ayam gorengnya. Serta Sia memandang kalung itu penuh kerinduan.
Arch sedikit mengerutkan dahi saat mendengar kisah Sia. Ada yang aneh dengan cerita hidup gadis itu. "Tragis amat." Komen Arch pada akhirnya.
"Keluargaku? Jangan khawatir, aku yakin mereka baik-baik saja. Mereka akan menemukan cara untuk membayar utang." Arch menjawab tenang.
Arch terdiam melihat Sia yang asyik memainkan kalungnya. Tiba-tiba saja Sia meraih ponselnya, lantas menghubungi seseorang. Dari pembicaraan Sia dan orang itu, bisa dipastikan kalau orang itu yang biasa Sia panggil Paman.
"Kenapa?" Arch bertanya heran.
"Pamanku bilang, kalung itu benar-benar sudah terjual. Dia juga tidak tahu bagaimana kalung ini bisa kembali padaku." Sia merasa hilang.
"Jangan dipikirkan. Yang penting kalungnya balik padamu." Kata Arch. Sementara Sia bergumam tidak jelas.
*
*
__ADS_1
Sia berada di dunia mimpi. Memainkan kalung berhias kristal berwarna ungu pekat yang kini tergantung di lehernya. Kristal Amethyst. Saat Sia tengah melamun memikirkan Elyos. Sia tiba-tiba merasa pusing. Kristal di kalung Sia berpendar redup tanpa Sia sadari. Bersamaan dengan dahinya yang mengeluarkan tanda kristal berwarna ungu.
Tubuh Sia semakin lemah hingga perlahan tubuhnya terbaring di tanah berumput yang ada di dunia mimpi gadis itu.
"El....Elyos." Lirih Sia. Tanpa Sia tahu, kunci di leher Sia bersinar terang. Sinarnya menembus langit dunia mimpi Sia. Di suatu dataran tak berujung, sinar ungu itu melesat menembus sebuah kotak yang terbuat dari bongkahan es. Sinar itu berubah bentuk menjadi kunci dan "klik" bongkahan es itu melebur seketika. Seperti pintu yang sudah dibuka. Penghuni kotak es itu perlahan mengangkat wajahnya. Wajah tampan, dengan tanduk emas yang tumbuh di dahinya.
"Aku kembali Sia. Karenamu."
Sementara itu, En langsung terbang menuju tempat Yue. "Kau lihat...kau lihat...kristal Amethyst kembali." Kata En antusias.
Bukannya menjawab, Yue langsung melihat ke arah En. Seolah paham, keduanya menghilang dan muncul di dunia mimpi Sia.
"Si...Sia...." En berlari ke arah Sia yang terkulai di tanah. Pria itu mengangkat kepala Sia. Membaringkannya di pangkuannya. Saat itulah, mereka melihat kalung Sia.
"Jadi dia pemegang kunci kristal Amethyst itu." Gumam En.
"Kunci ini sudah muncul, itu berarti dia juga akan kembali. Kita hanya perlu menunggu." Imbuh Yue. Menatap penuh arti pada wajah Sia.
Kunci Kristal Amethyst, satu benda keramat milik kuil mimpi. Benda yang mampu menghidupkan jiwa penjaga kristal mimpi yang sudah tiada. Tentunya, jika kunci itu bertemu pemiliknya.
Kredit Pinterest.com
Kunci Kristal Amethyst
***
Up lagi readers
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
****